
Setelah hujan deras kemarin, kondisi langit begitu cerah paginya. Semut-semut yang bersembunyi di sarang mereka mulai membenahi tempat tinggal, sedangkan serangga lainnya menunjukkan eksistensi melalui suara.
Nea menghirup napas perlahan, lalu mengeluarkannya perlahan pula. Udara di desa begitu sejuk. Sangat menyenangkan berada di tempat yang jauh dari keramaian kota. Dia merasa terlahirkan kembali seolah sekarang memiliki pikiran baru yang lebih jernih.
"Jika Anda ke sini lagi, maka jangan lupa ajak saya," ucap Nea.
Livia tersenyum lebar. Dia tahu apa yang Nea rasakan kini, karena setiap akhir pekan adalah hari di mana dirinya mengunjungi nenek. Sebenarnya, dia tidak benar-benar lelah, karena menghirup napas di desa sangat menyenangkan.
Dibandingkan itu, dia cukup bersyukur pada keadaan yang masih berpihak padanya. Nenek tidak berulah lagi seperti sebelumnya saat dia membawa laki-laki ke rumah. Setidaknya, Kelvan masih terbilang aman dari neneknya. Mungkin semua itu karena dia datang secara beramai-ramai.
"Bahkan, saya tidak melihat ponsel selama beberapa waktu ini." Nea mengeluarkan ponselnya dari saku, lalu menyalakan layarnya. "Coba kita lihat, apa yang terjadi pada dunia selama aku tidak ada."
Kenzi baru saja keluar dari rumah setelah menyelesaikan urusannya. Dia tampak baik-baik saja setelah perbincangan dengan Livia kemarin.
"Kelvan?" tanya Livia pada Kenzi, yang dia tahu pria itu masih berada di dalam rumah.
"Berpamitan dengan nenek Anda. Kami akan menunggu di mobil, karena saya harus memeriksa apakah ponsel saya tertinggal di sana."
__ADS_1
"Baiklah."
Kenzi mengayunkan kaki untuk pergi, akan tetapi tidak melihat adanya niat Nea untuk mengikuti. Anak perempuan itu sibuk dengan ponsel. Dia berbalik menghampiri, lalu menarik tangan Nea.
Nea terkejut, terlebih pada Kenzi yang memegang pergelangannya. Entah kenapa dia jadi tersipu malu, lantas dia langsung menyimpan ponsel, lebih memilih menikmati perjalanan mereka menuju mobil.
Livia sendiri sudah resah menanti Kelvan yang belum kunjung menampakkan diri. Dia pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah kembali. Pada saat itu, langkahnya berhenti ketika tidak sengaja mendengar percakapan antara Kelvan dan nenek.
"Aku sudah memikirkannya semalaman, bahkan mungkin lebih lama dari itu. Tidak ada yang bisa aku harapkan dari tubuh yang tua ini, jadi sebaiknya tidak menyusahkan lebih banyak.
"Saya mengerti. Terima kasih atas kepercayaan Anda terhadap saya. Anda tidak perlu khawatir, karena saya akan membahagiakannya."
Livia segera keluar saat dia tahu kalau percakapan telah usai. Dia menangis sekarang, apakah itu bahagia atau kesedihan, semua bercampur menjadi satu. Namun, bagaimana perasaannya sekarang, dia tidak ingin memperlihatkan.
"Livia," ucap sang nenek.
Nenek dan cucu perempuannya saling berpelukan. Livia hampir tidak bisa menahan tangis.
__ADS_1
"Jangan melewati jalan jelek itu lagi. Nenek mengerti?"
"Tapi melalui jalan biasa membutuhkan waktu singkat untuk bisa mencapai kebun. Aku butuh berjalan banyak agar aliran darah di tubuhku lancar."
"Nenek tidak pernah baik-baik saja setelah pulang dari sana. Aku tidak melarang untuk berkebun, tapi tolong ingat dengan tubuh nenek yang sudah tua."
"Baiklah, baiklah. Aku mengerti. Kau sangat cerewet hari ini. Sudah, pergi sana!"
"Nenek mengusirku?"
"Bukannya begitu. Kau sudah membawa calon suamimu ke mari. Jadi, jangan menundanya lebih lama lagi. Kalian hiduplah dengan bahagia."
"Nenek ...."
Bibir Livia gemetar dan kedua mata berkaca-kaca. Dia memeluk neneknya sekali lagi, dengan erat dan penuh kasih. Sekarang dia tahu kalau perasaannya bukan mengekspresikan kesedihan, melainkan kebahagiaan.
__ADS_1