Duda Beranak Satu

Duda Beranak Satu
Ayah Bisa Menjelaskannya!


__ADS_3

Mereka berempat sama-sama tidak menduga kalau akhirnya akan menjadi seperti ini, di mana kencan yang rahasia diketahui dengan sangat mudah. Sekarang apa yang harus mereka katakan agar dapat menjelaskan situasi?


"Nea, ayah bisa menjelaskannya padamu."


"Situasi ini sudah menjelaskan semuanya. Ayah tidak perlu berkata apa-apa lagi."


Untuk ukuran anak yang mengetahui kalau ayahnya menghabiskan waktu dengan seorang wanita, Nea cukup tenang sikapnya, karena memang sebelumnya sudah melihat kalau Livia dan ayahnya bertemu. Dia tidak lagi terkejut.


Nea menatap dua orang di depannya dengan marah. "Kalian sangat jahat!" Dia pergi meninggalkan tempat itu.


"Nea!" teriak Kelvan. Dia ingin mengejar, tetapi bagaimana Livia yang masih terkejut itu nantinya jika ditinggalkan seorang diri?


"Bu Livia akan bersama saya. Anda bisa pergi mengejar Nea," ucap Kenzi.


"Saya tidak apa-apa. Anda bisa mengejar Nea," ucap Livia pula.

__ADS_1


Kelvan menganggukkan kepala. Dia pun pergi mengejar Nea yang sudah terlalu jauh. Tidak tahu apa yang dipikirkan putrinya sekarang, dia berharap kalau hal buruk tidak terjadi.


Sudah menjadi seperti ini, dia tidak menduga kalau takdir akan membawa hubungan mereka ke hadapan Nea begitu cepat. Apa anak itu dapat diberi pengertian untuk keegoisannya?


Kelvan dapat mencapai Nea yang baru akan melintasi jalan. Dia membawa sang putri masuk ke dalam pelukan. Sampai saat sekarang, dia masih belum siap memberitahukan kebenarannya pada Nea, takut jikalau putrinya menutup diri darinya, takut jikalau hubungan yang baru dimulai harus berakhir.


Mereka tidak berkata apa-apa selain menenangkan diri, menstabilkan napas, dan menjernihkan pikiran. Keadaan itu berlangsung selama hitungan menit, tanpa peduli akan pandangan orang-orang terhadap mereka.


Nea mendorong sang ayah kemudian, lalu berkata dengan air mata yang mulai mengalir. "Ayah sangat jahat! Kenapa menyembunyikannya dari putri sendiri? Apa aku bukan siapa-siapa lagi bagi Ayah?"


"Lalu, kenapa kalian tidak mengatakan apa-apa selama ini padaku?"


Kelvan menggaruk kepala, bingung bagaimana menjelaskannya setelah apa yang dilalui bersama Livia. "Bagaimana ayah bisa mengatakannya? Bahkan, kami menjalin hubungan baru kemarin."


Nea menghapus air matanya, menarik dirinya dari kesedihan. "Apa? Baru sebentar itu?"

__ADS_1


"Ya ... banyak hal terjadi dan berbagai pertimbangan yang harus ayah pikirkan."


Kelvan menghapus air mata yang membasahi pipi sang putri. "Bagi ayah, dirimu yang paling penting. Jika kau tidak menginginkan Livia, maka aku akan menjauhinya."


"Kenapa ayah berkata seperti itu? Aku tidak berkata kalau aku tidak menginginkannya. Bu Livia sangat baik padaku, dia orang yang menyenangkan, dan juga cantik. Dia tidak akan menjadi ibu tiri bermuka dua seperti yang ada di film-film. Justru aku sangat menyayangkan, kenapa baru sekarang kita bertemu dengannya.


Dulu aku menentang ayah yang membawa seorang wanita ke rumah selain ibu kandungku. Sejak saat itu, ayah menutup hati demi diriku. Sekarang aku sudah besar dan sanggup menerima kenyataan kalau wanita yang melahirkanku sudah tidak ada."


Kelvan menggenggam kedua tangan sang putri, lalu dia berkata, "Kau tidak harus memaksa dirimu. Jika tidak sanggup, maka jangan lakukan. Aku tidak akan mempermasalahkannya, begitu pula dengan Livia."


Nea menggelengkan kepala. Kini berganti dia yang menggenggam tangan sang ayah. Sebenarnya dia bukan tidak menyetujui hubungan ayahnya dengan Livia, hanya sedih karena tidak diberitahukan berita baik itu padanya. Setelah dijelaskan alasannya, dia mengerti kalau tidak ada yang bisa disalahkan atas keadaan.


"Menikahlah dengan bu Livia, Ayah."


__ADS_1


__ADS_2