
Mereka terpaksa keluar dari perpustakaan setelah membuat keributan. Sekarang Nea sedang membeli minuman kaleng untuk mendinginkan bekas tamparan.
Nea menyerahkan kaleng tersebut pada orangnya namun dia disodorkan pipi yang merah. Dia diminta untuk mendinginkannya melalui isyarat kalau begitu, bukan? Meskipun enggan, Nea yang bersalah tetap melakukan permintaan.
Saat menyentuhkan kaleng soda di pipi itu, Nea menatap dengan jelas bagaimana sosok yang mengalami banyak perubahan. Kenzi semakin tampan saja jika dia boleh mengakui.
Tatapan mereka bertemu, Nea langsung menghindarinya. Dia tanpa sadar menekan kaleng soda begitu kuat sampai Kenzi mengaduh kesakitan.
"Ma—maaf." Nea berkata dengan khawatir.
Kenzi menyentuh tangan yang memegang kaleng, lalu menggesernya lambat-lambat. "Kau seharusnya mendinginkan seperti ini."
Nea segera menarik tangannya sesaat debaran jantung terasa. Dia tidak harus merasa demikian pada orang yang belum jelas apakah Kenzi atau bukan. Bagaimana jika dia berdebar untuk orang asing? Maka itu akan jauh lebih buruk.
Kenzi menatap anak perempuan yang menundukkan kepala di sampingnya. Dia tidak tahu harus berkata apa setelah pertemuan mereka yang tidak direncanakannya menjadi seperti ini, kalau saja tidak ikut tertidur di perpustakaan tadi.
"Kau memanggilku Kenzi waktu itu."
"Ah, aku sepertinya salah orang."
__ADS_1
"Begitukah?"
Waktu berubah sunyi, Nea segera bangkit dari duduknya. Dia tidak berani untuk menatap Kenzi sama sekali, karena lebih tidak tahu bagaimana menghadapi setelah kejadian di masa lalu.
"Sekali lagi mohon maaf atas kejadian yang membuatmu tidak nyaman. Semoga kau lekas sembuh. Terima kasih atas pengertiannya."
Kaleng soda jatuh menggelinding ketika Kenzi bangkit. Waktu seakan berhenti. Nea bisa merasakan pelukan dari belakang tubuhnya, membuat dia bergetar akan luapan perasaan yang tidak tahu apa.
Mereka tetap begitu untuk beberapa saat sampai Nea membalikkan badan. Dia melihat Kenzi dan tatapan anak itu, tidak asing lagi, membuat dia lupa mana nyata dan mana mimpi.
"Kau benar Kenzi?"
Nea mengerutkan dahi. "Lalu, kenapa kau pura-pura tidak mengenalku?!" Dia mengepalkan tangan, mundur perlahan. "Kau tidak tahu bagaimana perasaanku tentang itu?! Melihatmu bersikap seperti orang asing dan lihatlah penampilanmu sekarang. Apa kau pikir dunia ini adalah panggung komedi?!"
Kenzi menyeringai, lalu tertawa kecil. "Benar. Aku berpikir bahwa dunia ini adalah panggung komedi."
"Apa?"
"Kalian menjadikan aku sebagai bahan lelucon."
__ADS_1
"Kami?"
Kenzi menutup matanya dengan sebelah tangan. Dia begitu frustrasi. "Kenapa dia memintaku untuk pergi sehingga aku merasakan hal seperti ini di dalam hidupku?"
"Dia?"
"Livia sangat kejam."
Nea benar-benar tidak mengerti dengan pembahasan mereka. Kenapa menyebut nama ibunya sekarang? Apa hubungannya?
"Ayahmu memintaku agar percaya dan terbuka pada mereka, tapi kenapa orang dewasa begitu egois?"
Tanpa diduga Kenzi menjatuhkan air mata. Nea yang baru melihat sosok Kenzi yang seperti itu membuat dia bergetar. Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa Kenzi begitu emosional?
Perlahan langkah Nea maju. Dia tidak tahu harus bagaimana menangani suasana yang membuat Kenzi begitu bersedih hati. Yang dia tahu adalah dirinya dapat mengulurkan tangan dan memberikan pelukan.
Kenzi memang memerlukan itu. Dia memeluk Nea dan menangis terisak di sana, sesuatu yang dipendamnya selama ini dan sesuatu yang belum diperlihatkannya pada siapa pun. Dia sudah tidak tahan setelah berpura-pura menjadi orang lain.
__ADS_1