Duda Beranak Satu

Duda Beranak Satu
Kita Perlu Bicara


__ADS_3

Livia menatap kepergian ayah dan anak itu. Dia menoleh pada Kenzi yang menatapnya cukup lama sebelum memalingkan pandangan. Tidak ada pikiran buruk apa-apa soal itu, jadi dia berjalan saja mengikuti ke mana langkah mereka akan pergi selanjutnya.


Mereka duduk di satu kafe minuman, melihat jalanan luar yang bisa tersapu oleh mata. Livia sudah memberitahukan keberadaannya lewat pesan pada Kelvan agar tidak sulit mencarinya nanti. Dia tidak ingin mengganggu, lebih baik membiarkan mereka menyelesaikan masalah antara orangtua dan anak terlebih dahulu.


"Aku tidak mengira jika kita akan bertemu seperti ini."


Livia tidak mendapatkan tanggapan. Dia mulai merasa janggal pada Kenzi yang tiba-tiba saja menjadi pendiam, padahal sebelumnya selalu berbicara tanpa henti, bahkan membuat tingkah yang bisa membuat dia naik darah.


Teringat pada orangtua Kenzi tadi, dia menyodorkan satu amplop di atas meja. "Ini. Aku diminta menyampaikannya."


Kenzi mengambil amplop tersebut, tetapi diletakkannya kembali. Tidak perlu membukanya, dia sudah tahu isinya apa. Untuk ukuran surat, amplop itu terlalu tebal.


"Kenapa?" tanya Livia bingung.


"Gunakan saja untuk bayaran Anda, karena telah mengajarkan saya."


"Apa maksudmu? Orangtuamu yang akan membayarku nanti."

__ADS_1


Kenzi yang diam membuat Livia kembali berkata, "Apa kau ada masalah? Kau bisa menceritakannya padaku."


Kenzi menggelengkan kepala. "Tidak ada masalah apa pun." Dia bangkit dari kursinya. "Saya akan pulang lebih dulu, karena rasanya tidak ada urusan apa-apa lagi di sini."


Livia menarik tangan anak itu ketika melewatinya. "Kenzi."


Kenzi menatap tangan yang menggenggam pergelangannya. "Saya takut."


"Apa yang membuatmu takut?"


Livia mengetahui kehadiran Kelvan. Dia bangkit dan pergi ke hadapan pria itu, menanyakan bagaimana keadaan Nea. Perhatiannya langsung teralih pada Kenzi yang berlalu pergi begitu saja. Keadaan yang membingungkan itu membuat dia tidak tahu harus berbuat apa.


Kelvan menatap hal yang sama. Dia segera keluar kafe untuk mengejar Kenzi. Ekspresi wajah anak itu sangat buruk dan dia ingin mengetahui dengan jelas alasannya.


"Minggir," ucap Kenzi.


"Pulanglah bersama kami."

__ADS_1


Kenzi mengabaikan. Dia berjalan ke sisi yang kosong, tetapi sekali lagi dihentikan.


"Kita perlu bicara,"—sebelum Kenzi sempat beranjak pergi, Kelvan menahan bahu anak itu—"sebagai sesama pria."


Kenzi menatap pria yang kini ekspresinya begitu serius. Jika sudah begitu, dia juga tidak berniat untuk menolak. Dia berpikir hal yang sama pula kalau mereka perlu bicara sebagai sesama pria.


Livia cukup bingung akan situasi yang tidak biasa, terlebih dia diantarkan pulang dan ditinggal begitu saja. Nea sendiri diperlakukan sama, tetapi anak yang tidak tahu apa-apa itu hanya mengangkat kedua bahu.


Kelvan memilih tempat di mana mereka bisa bicara tanpa terusik yaitu di perusahaan, ruang kerjanya. Kenzi sempat terkesima dengan tempat itu, karena berada di lantai paling atas gedung. Saat lampu dinyalakan dapat terlihat pemandangan kota yang berkelap-kelip.


Kenzi juga orang berada, tetapi belum pernah datang ke tempat yang seperti sekarang. Ini pertama kali. Dia tidak bisa menolak kalau dirinya memang terkesima pada ruang kerja Kelvan.


"Haruskah kita bicara sekarang?" Kelvan berkata sesaat mendudukkan diri.


...***...


...Hai, Renko harap kalian tidak bosan sampai hari pernikahan tiba. Setelah itu, kita akan masuk ke dalam hubungan Kelvan dan Livia sebenarnya....

__ADS_1


__ADS_2