
Kelvan mengusap rambut istrinya dengan lembut. Dia membiarkan Livia menangis dalam pelukan. Meskipun belum dijelaskan permasalahannya, tetapi dia kurang lebih tahu alasan kenapa Livia menangis. Seperti yang dialami istri pertamanya, mereka juga tidak mudah membesarkan Nea.
Livia menjauhkan diri, mengusap air mata yang belum kunjung berhenti. Dia tidak tahu kalau dirinya akan begitu sensitif semakin hari, tidak seperti pertama kali mereka memiliki Vian. Hari ini justru baginya begitu melelahkan.
"Maaf," ucap Livia. "Aku tidak memedulikan Vian tadi."
Kelvan tersenyum, mengecup dahi Livia, lalu berkata, "Tidak apa-apa. Aku sudah menenangkannya."
"Vian pasti sangat lapar sekarang."
Saat Livia akan beranjak, Kelvan mencegah dengan memegang pergelangan tangan wanita itu.
"Vian sedang tidur. Kau bisa memberikannya nanti. Sekarang beristirahatlah bersamaku di sini."
"Kau harus mengenakan pakaian. Biarkan aku mengambilkannya untukmu."
"Aku yang akan mengambilnya."
Livia terbengong saja melihat suaminya pergi berganti pakaian. Tidak menunggu lama untuk melihat mereka saling bertatapan kembali. Kelvan membawa sang istri duduk bersandar di ranjang bersamanya, lalu membuat tangan mereka saling bergenggaman.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Livia. Kau tahu itu, bukan?"
Livia menganggukkan kepala. "Aku tidak meragukannya."
"Sangat membahagiakan bisa menjalani kehidupan bersamamu seperti ini. Suka dan duka. Aku harap kita tetap bertahan sampai akhir waktu, karena aku tidak berpikir untuk jatuh cinta lagi pada wanita lain."
Kelvan mengecup tangan istrinya. "Untuk bulan madu kita yang tertunda, apa kau ingin melakukannya bersamaku?"
Livia terdiam beberapa saat, lalu berkata dengan raut kebingungan di wajahnya, "Bulan madu? Kenapa begitu tiba-tiba?"
"Aku tahu kalau beberapa waktu belakangan ini sangat sulit untukmu. Seharusnya, aku lebih perhatian lagi dan berusaha lebih mandiri terhadap keperluanku sendiri. Tapi aku tidak berhenti membuatmu melakukan sesuatu yang menambah beban pikiran dan pekerjaanmu. Maafkan aku. Untuk menebus itu semua, aku ingin kita jalan-jalan ke tempat yang indah."
"Itu hal yang perlu aku bicarakan denganmu. Kita akan memperkerjakan seseorang untuk membantumu mengurus Vian."
"T—tapi aku masih mampu mengurus Vian."
"Ini bukan soal mampu atau tidak mampu. Memperkerjakan seseorang bukanlah sebuah kelemahan. Aku hanya ingin istriku bekerja lebih mudah, dengan begitu Vian akan mendapatkan perawatan yang lebih maksimal."
Livia menundukkan kepala, sebenarnya dia tidak menginginkan apa pun kecuali hal terbaik untuk Vian.
__ADS_1
"Baiklah. Jika menurutmu itu langkah yang baik."
Setelah hari di mana perbincangan pasangan suami istri yang diuji dalam rumah tangganya, mereka mengadakan perjalanan ke luar kota. Sesuai janji Kelvan, mereka mendatangi tempat yang indah.
Namun, sudah mempersiapkannya dengan matang pun, ketenangan Livia hanya bertahan sebentar saja. Dia sangat gelisah ketika mereka belum lama tiba di hotel, mencoba untuk menghubungi Nea yang diminta ikut mengawasi Vian bersama pekerja sementara mereka.
Melihat pemandangan itu, Kelvan langsung mengambil ponsel Livia dan mematikannya. "Larangan bulan madu kita adalah tidak diizinkan menggunakan ponsel."
"T—tapi Vian ...."
"Livia, cobalah menikmati bulan madu ini seperti kita baru menikah kemarin."
"Aku hanya ingin memastikan kalau semuanya aman terkendali."
Kelvan menggelengkan kepala. "Informasi dari Nea semuanya akan dialihkan padaku sementara waktu. Aku hanya akan mengatakan sesuatu yang sifatnya sangat darurat. Jika tidak ada, berarti semuanya aman terkendali."
Livia masih khawatir. Ini baru pertama kali baginya berada jauh dari Vian yang selalu ada di sisinya. Entah mengapa, rasanya sangat asing dan tidak menyenangkan. Dia ingin memeluk bayinya dan memberikan kasih sayang seperti biasa.
Sibuk berpikir, Livia terkejut ketika bibirnya dikecup. Dia memandangi Kelvan yang sesudah itu ********** dalam-dalam. Tangan suaminya tidak berbasa-basi, langsung menyusup ke balik pakaian, menyentuh kulit tubuhnya dengan lembut.
__ADS_1