Duda Beranak Satu

Duda Beranak Satu
Tahap Hubungan Kami


__ADS_3

Kelvan memberikan pakaian kotornya setelah berganti. Dia bertanya-tanya, dari mana Livia bisa mendapatkan pakaian pria. Tetapi ragu, karena tidak ingin membuat Livia merasa tidak nyaman dengan pertanyaannya nanti, terlebih mereka belum mengenal betul satu sama lain.


"Cuaca sangat bagus dan saya pikir tidak akan lama menunggu pakaian Anda kering. Kalau begitu, saya akan pergi mencucinya sekarang."


"Livia."


Livia berdebar, mengingat baru pertama kali Kelvan memanggilnya dengan nama saja seolah sudah tidak ada pembatas di antara mereka.


"Y—ya?"


"Bolehkah saya tetap di kamar ini? Saya ingin melihat-lihat sebentar."


"T—tentu saja, meskipun tidak ada yang istimewa dari kamar saya."


Sementara Livia mencuci pakaian, Kelvan mulai memperhatikan sekeliling kamar. Ruangan itu cukup rapi dan dia juga bisa mencium aroma khas dari seorang Livia. Sangat mengejutkan kalau tidak ditemukan debu di sana. Dia mendengar kalau Livia pulang setiap akhir pekan, mungkin wanita itu menyempatkan diri untuk membersihkan kamar saat pulang.


Pintu terbuka, membuat Kelvan menolehkan kepala. Dia langsung memberi hormat, meskipun kikuk oleh celana pendek yang dipakainya. Berpenampilan seperti sekarang di depan neneknya Livia, dia merasa tidak sopan.


"Apa kau dekat dengan cucuku?"


"Ah, ya ...."

__ADS_1


"Dekat yang seperti apa?"


"Itu ...."


Kelvan ingat saat Livia mengatakan kalau sang nenek tidak suka dengan pria sepertinya. Jika dia menjelaskan hubungan mereka, apakah nanti akan terjadi masalah?


"Dasar. Pasti Livia menghasutmu untuk tidak mengatakan apa-apa padaku, bukan? Dia memang begitu, karena tidak pernah mau terbuka mengenai hubungan."


"Izinkan saya memperkenalkan diri. Saya Kelvan, ayah dari seorang anak perempuan bernama Nea yang berbincang bersama Anda di luar tadi."


"Dia putrimu?"


"Benar. Livia adalah guru privat Nea sebelumnya."


"Saya berharap besar pada restu Anda terhadap hubungan kami, karena saya sudah jatuh cinta pada cucu Anda. Meskipun, saya adalah seorang duda beranak satu."


Sang nenek menurunkan bahunya yang tegang. Dia tidak pernah membayangkan kalau Livia akan dekat dengan seorang duda. Dia berpikir pula kalau Kelvan terlalu berani untuk berkata demikian.


"Itu sangat tegas dan juga ... jujur," ucap sang nenek. "Bagaimana dengan ibunya Nea?"


"Nea sudah ditinggalkan ibunya sesaat dilahirkan."

__ADS_1


"Apa Nea sudah tahu mengenai hubungan kalian?"


"Sudah. Nea tidak mempermasalahkannya, karena Livia adalah orang yang sangat menyenangkan."


"Bagaimana dengan dirimu sendiri?"


Kelvan mengangkat kepalanya, sempat bingung dengan pertanyaan sang nenek. Dia baru mengerti setelah mencerna dengan baik. "Apa Anda meragukan tentang kehidupan saya setelah ditinggalkan? Nea tidak mengizinkan saya dekat dengan seseorang dan saya sangat menyayanginya lebih dari apa pun di dunia. Saya memegang janji itu sampai akhirnya bertemu dengan Livia."


"Lalu, kau melanggar janji dengan putrimu sendiri?"


Kelvan membenarkan kalau hatinya sudah tidak dapat ditoleransi ketika bertemu dengan Livia. Walaupun begitu, semua sudah mendapatkan jalannya dengan Nea yang merestui hubungan mereka.


"Saya tidak akan meneruskan hubungan kami jika Nea tidak berkenan."


"Bagaimana jika aku juga tidak merestui hubungan kalian? Apa kau akan meninggalkan Livia?"


Kelvan sampai di pertanyaan paling sulit di dalam hidupnya. Dia terdengar sangat mudah untuk hubungan yang dijalinnya dengan Livia, terdengar seperti seseorang yang tidak bersedia berkorban.


Bukan. Dia bukannya tidak ingin berkorban, tetapi dia tidak mengorbankan apa atau siapa di atas perasaannya. Maka dari itu, dia mencari jalan terbaik untuk hubungan mereka semua.


"Yang saya butuh hanya Nea dan perasaan Anda terhadap hubungan kami agar saya dapat membahagiakan wanita yang saya cintai."

__ADS_1



__ADS_2