
Kelvan memutar-mutar kaleng, mengguncang isinya yang tinggal setengah. Meskipun minum soda, akan tetapi pria duda itu terlihat seperti sedang minum wine. Sementara Livia hampir menghabiskannya tanpa percakapan di antara mereka.
"Nea," ucap Kelvan tiba-tiba, menghentikan keheningan panjang. "Dia ditinggalkan ibunya sesaat lahir ke dunia. Saya sangat bersyukur bahwa dia dapat bertahan hingga saat ini, tumbuh menjadi anak yang ceria, dan memiliki banyak teman.
Awalnya, saya berpikir kalau Nea hanya perlu menyenangkan hatinya, tidak perlu memusingkan soal nilai, karena saya dapat memasukkan dia ke universitas mana pun, bahkan akan memberikan dia pekerjaan terbaik di seluruh dunia. Saya hanya tidak ingin dia merasa sedih ketika teringat akan ibunya yang telah tiada.
Tapi saya sadar kalau itu adalah tindakan seorang pengecut yang tidak ingin putrinya menjadi sedih. Nea harus melihat warna dunia sesungguhnya agar dapat bertahan ketika saya tidak bisa lagi berada di sisinya."
"Untuk itu, Anda memperkerjakan saya?"
"Saya tidak ingin memaksanya mendapatkan nilai bagus, tapi ingin mendukungnya dengan memperkerjakan Anda. Paling tidak, dia tahu kalau saya benar-benar peduli terhadapnya. Nea memiliki hak untuk memilih bagaimana caranya menapaki masa depan."
"Anda ayah luar biasa. Sulit menemukan orangtua yang tidak menuntut masa depan seorang anak, justru Anda lebih memilih untuk memberikan dukungan terbaik dari segala sisi. Gambaran mengenai dunia yang tidak selalu berwarna indah saja sudah sangat menakutkan, lantas bagaimana orangtua yang seharusnya paling dekat pada anaknya ikut menakut-nakuti?"
__ADS_1
Livia terlalu asyik menanggapi sampai membuat dirinya diperhatikan terlalu lama. Untung saja, Nea bergerak mengganti posisi tidur sehingga perhatian mereka bisa sama-sama teralih.
"Apa Minggu ini Anda juga akan pergi menemui nenek?"
"Oh, ya. Saya sudah mengatakan kalau selalu mengunjunginya setiap akhir pekan."
"Bagaimana jika saya mengantarkan Anda?"
"Tidak bisa!"
Livia mengatakan alasan sembarang, sudah pasti. Dia terpaksa melakukannya demi tidak membuat neneknya bertemu dengan Kelvan, karena bisa saja dianggap sebagai lelaki yang akan menikah dengannya. Bahkan, teman kerja yang terakhir kali menemani sulit kembali ke kota karena anggapan sepihak sang nenek.
Kelvan yang sudah terkejut melihat reaksi penolakan, semakin terkejut oleh kenyataan. "P—pria seperti saya? Apa maksudnya?"
__ADS_1
"Nenek saya dicampakkan oleh kakek saya dan rasa sakitnya masih membekas sampai sekarang. Dia akan mengamuk setiap kali melihat saya membawa seorang teman laki-laki ke hadapannya."
Maafkan aku, nenek, ucap Livia dalam hati.
"Anda sering membawa laki-laki ke hadapan nenek Anda?"
"Bu—bukan itu maksud saya." Livia memutar bola matanya ke atas, berusaha untuk merangkai penjelasan yang lebih masuk akal di kepala. "Saya hanya tidak ingin Anda kesulitan jika bertemu dengan nenek. Jadi, Anda tidak perlu khawatir, saya akan pergi seorang diri seperti biasa."
Kelvan berpikir sesaat, lalu berkata, "Baiklah."
Livia sedikit meremas kaleng soda di tangannya, menenggak isinya perlahan. Kelvan sendiri mengernyitkan alis, berusaha untuk tidak memaksa keinginannya mengantarkan.
Entah perasaan apa yang menggayuti hati Kelvan saat ini, dia berpikir untuk lebih memahaminya lagi. Mungkin saja semua itu hanya karena dirinya yang sudah terbiasa melihat wajah Livia, mengingat dia dan Nea tidak pernah lagi membiarkan seorang wanita masuk ke rumah mereka.
__ADS_1