
Kelvan menjadi sorot perhatian di tengah pesta bersama seorang wanita yang menjadi gandengannya malam itu. Penampilan Kelvan yang selalu memukau setiap acara pesta, ditambah dengan sosok Livia yang belum terdengar banyak di telinga orang-orang. Tidak heran jika mereka berdua menjadi pusat perhatian.
Apalagi terhadap mereka yang pernah satu lift, di mana segerombolan pegawai tengah bertanya-tanya akan kebenaran dari pengakuan sang atasan. Saat ini seperti diberikan peringatan kedua setelah beberapa hari lalu mendapatkan peringatan keras agar mereka tidak lagi mengganggu Livia jika tidak ingin dipecat.
Livia melemparkan senyuman pada mereka yang tidak sengaja bertemu dengannya di lift waktu itu. Dia dapat melihat salah satunya melambaikan tangan dengan kikuk, sedangkan yang lain terlihat sangat terkejut. Mungkin, sekarang bukan saat yang tepat bagi dia berinteraksi dengan orang-orang di acara pesta tersebut. Para pegawai pasti dalam keadaan terkejut berat.
"Kelvan, aku pikir membawaku ke pesta hanya membuat pegawaimu tidak bisa menikmati acara dengan baik."
"Kenapa berkata seperti itu? Mereka hanya sedikit terkejut. Harap memaklumi, karena aku bisa dikatakan tertutup mengenai sesuatu yang sifatnya pribadi."
"Aku rasa mereka tidak hanya sedikit terkejut."
"Jangan berpikir terlalu keras. Nanti mereka akan tenang sendirinya. Untuk sekarang, dapatkah kau menungguku sebentar di sini? Aku harus pergi memberikan sepatah kata untuk acara ini."
__ADS_1
Livia menganggukkan kepala, lalu melepaskan pegangan di lengan Kelvan. Dia melihat suaminya perlahan pergi dari tempat dia berdiri. Saat detik itu berlalu, sorotan mata orang-orang seakan hanya tertuju padanya.
Livia kikuk sendiri. Dia beranjak mundur ke belakang, tetapi pada beberapa hitungan tidak sengaja menyenggol seorang wanita yang berjalan di dekatnya.
"Ma—maafkan saya. Apa Anda terluka?"
"Tidak. Saya tidak apa-apa. Bagaimana dengan Anda? Apa terluka?"
"Saya baik-baik saja." Livia berkata dengan raut penyesalan terlihat jelas di wajah. "Ini kesalahan saya yang tidak memperhatikan jalan."
"Jennifer!"
Saat nama itu terdengar lantang di udara, Livia memperhatikan lebih baik wanita yang tidak sengaja disenggolnya. Dia tentu masih ingat percakapan di antara dirinya dan Kelvan, di mana suaminya mengatakan siapa nama wanita yang menjalin hubungan dengannya sebelum ini.
Livia masih berharap kalau Jennifer yang ada di hadapan, bukanlah wanita itu. Jika memang benar, apa yang perlu ditakutkannya? Kelvan adalah suaminya dan hubungan mereka tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh pihak luar.
__ADS_1
Tetapi kenapa dia tidak senang dengan kehadiran Jennifer yang mungkin saja akan membuat Kelvan mengingat kembali kenangan masa lalu? Di samping itu, apa alasan wanita itu hadir sekarang? Karena Kelvan mengatakan kalau mereka berdua tidak lagi bertemu, bahkan jika hanya berpapasan.
"Aku mencarimu ke mana-mana. Ternyata kau sudah masuk ke aula pesta lebih dulu."
"Jangan berlebihan, Ivon. Kau sudah besar dan bisa ke kamar kecil sendiri tanpa ditemani."
"Itu hanya pengalihan. Kau saja yang tidak ingin mendengarkan perkataanku untuk tetap menunggu sampai aku kembali dari kamar kecil."
Ivon baru sadar akan wanita yang berdiri juga bersama mereka di sana. Dia ingin menyapa, tetapi teringat akan sesuatu membuat niat terusik sehingga dirinya ragu untuk melakukannya.
"Anda ... bukankah?" Ivon berhenti berkata, menolehkan kepala pada Kelvan yang pada saat ini masih berbicara di depan sana, masih belum menyadari pertemuan antara istri dan mantan kekasih.
...***...
...*Gambar diambil dari situs website naver.com...
__ADS_1