
Kelvan berpikir keras tentang alasan istrinya berubah sikap. Kalau bukan karena percakapan mereka tadi malam, lalu apa alasannya? Livia pasti memiliki alasan kenapa begitu enggan menatapnya.
"Mister Kelvan."
Kelvan mengangkat pandangan, mendapati sekretarisnya—bernama Ivon—datang membawa dokumen yang dia minta.
"Saya membawakan apa yang Anda minta."
"Letakkan saja di atas meja."
Kelvan yang menatap pemandangan luar jendela kantor pun menyelesaikan pikiran panjangnya, menghampiri meja kerja, meraih dokumen tersebut. Dia membacanya sebentar sebelum mengalihkan perhatiannya pada sang sekretaris yang masih saja diam di tempat.
"Ada hal lain yang ingin disampaikan?"
"Saya tidak enak hati mengatakannya, tapi apa Anda yakin dengan pernikahan yang sedang dijalani sekarang? Bukankah Anda menyukai Jennifer?"
Kelvan terdiam selama beberapa saat, lalu berkata, "Menurutmu, apa aku masih menyukainya ketika sudah menikah dan memiliki istri?"
__ADS_1
"Seharusnya tidak. Hanya saja, saya berpikir kalau hubungan kalian sangat cocok sebelumnya."
"Nea tidak menyukai Jenn. Aku harus melakukan apa?"
"Sejak hari kematian, Anda hanya memikirkan tentang kebahagiaan Nea dan berkata akan menunggu sampai dia tumbuh besar agar lebih mengerti. Jennifer memang patah hati pada putusnya hubungan, tapi dia selalu menunggu Anda."
"Aku mengalami perasaan yang sulit untuk itu. Nea adalah segalanya, bagaimana aku bisa mengorbankan putri kecilku yang tidak menyukai pilihanku? Jalan terbaik adalah memutuskan hubungan dengan Jenn."
"Anda masih belum berusaha keras untuk mencobanya. Jenn memiliki sisi baik yang tidak diketahui oleh Nea. Saya yakin mereka bisa dekat suatu saat nanti."
Kelvan menggelengkan kepala. "Nea sudah memiliki ibu sekarang. Dia sangat bahagia. Itu sudah cukup."
Kelvan mengusap dagu. Dia memikirkan wanita yang dikatakannya telah membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama. Jika boleh berkata jujur, kejadiannya tidak benar-benar begitu. Dia tidak memiliki getaran apa pun saat mereka pertama kali bertemu.
"Aku menyukainya. Dia cantik dan memiliki kepribadian menyenangkan."
"Apa itu sudah cukup bagi Anda? Sesungguhnya saya terkejut dengan kabar hubungan Anda yang tiba-tiba. Bukankah tipe Anda adalah seseorang yang dapat diandalkan?"
__ADS_1
Kelvan tahu apa yang di maksud oleh Ivon. Dia sudah menikmati perjalanan rumah tangga. Kehidupannya membutuhkan pendamping yang bisa mengelola rumah tangga dengan baik bersamanya, bukan fisik yang cantik. Sementara Jennifer adalah orang yang bisa diandalkan, tidak tahu apakah Livia akan begitu.
Kelvan hanya tahu kalau Livia adalah seorang guru privat. Tidak masalah jika tidak bekerja, karena dia akan mencukupi segala keperluan mereka. Namun, hal paling penting adalah apa Livia bisa memerankan karakter seorang ibu sekaligus istri dengan baik?
Livia tidak memiliki pengalaman dalam rumah tangga, sedangkan dia dan Jennifer sama-sama sudah pernah menikah. Jennifer berpisah dengan alasan dikhianati dalam hubungan, sedangkan dia ditinggal pergi oleh istrinya.
Dia dan Jennifer sudah saling mengenal cukup lama. Mereka memutuskan untuk menjalin hubungan. Dari sana dia tahu kalau Jennifer ingin menjalani kehidupan rumah tangga yang lebih baik dengan pasangannya.
Memang, Jennifer tidak memiliki kesan baik pada Nea yang masih sensitif. Bukan berarti tidak dapat akrab suatu hari nanti. Dia juga tidak mencoba lebih, karena ketakutannya yang mungkin akan melukai perasaan Nea.
"Anda tidak benar-benar menyukainya," ucap Ivon. "Apa pernikahan terjadi karena Nea atau itu karena perasaan Anda sendiri? Dilema seorang duda beranak satu memang tidak mudah."
...***...
...Maaf, belum bisa balas komentar satu persatu, tapi Renko lihat, kok. Terima kasih juga atas dukungannya~...
...Oh, ya! Renko sudah katakan kalau perjalanan hubungan Livia dan Kelvan baru akan dimulai setelah menikah....
__ADS_1
...Jangan lupa persiapkan hati, ya!...