Duda Beranak Satu

Duda Beranak Satu
Kencan Pertama Setelah Menikah


__ADS_3

Mereka menaiki mobil, bersiap-siap untuk pergi. Khusus untuk kencan pertama setelah menjadi pasangan suami istri, Livia berdandan maksimal. Kelvan sendiri masih dengan setelan formalnya yang bisa dibawa ke mana pun itu.


"Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?" tanya Kelvan.


Livia yang baru saja selesai mengenakan sabuk pengaman bergumam, "Tempat yang ingin aku kunjungi? Hmmm, sejak dulu aku sangat ingin mengunjungi gunung."


"Gu—gunung? Kau ingin menjadikannya sebagai tempat kencan kita?"


Kelvan sama sekali tidak bisa menduga ekspektasi kencan di pikiran Livia. Sebelumnya, dia berpikir mungkin saja ke tempat yang tenang seperti museum atau tempat menyenangkan seperti taman hiburan.


"Ya, gunung! Aku suka menikmati pemandangan alam dan tidak bisa melakukannya lantaran sibuk bekerja."


"Tapi kau sering pulang untuk menjeguk nenek di desa. Setiap akhir pekan kau sudah melihat pemandangan alam."


"Maka dari itu, aku belum pernah ke gunung. Dan lagi, nenek di kota sekarang dan membuatku tidak bisa melihat pemandangan alam lagi. Rasanya begitu hampa di dalam sini." Livia menunjuk letak hatinya.


Kelvan berekspresi tidak suka saat mendengar perkataan istrinya. "Jika di dalam sana begitu hampa karena tidak bisa melihat pemandangan alam, lalu di mana selama ini kau letakkan diriku? Apa di perutmu?"

__ADS_1


Livia tertawa kecil, begitu pula dengan Kelvan. Tampaknya mereka berada dalam suasana hati yang baik setelah waktu yang mereka lalui sebagai pasangan suami istri. Keraguan tidak lagi hadir di tengah kebahagiaan dan rasa cinta mereka yang semakin hari semakin besar.


"Aku meletakkanmu di seluruh hidupku, Kelvan."


Kelvan meleleh, langsung mengecup singkat bibir istrinya. "Kau pandai bicara. Tapi itu tidak mengubah kenyataan kalau kita tidak akan pergi ke gunung hari ini. Untuk mendaki butuh waktu lama, sedangkan sekarang sudah siang hari. Pergi tanpa persiapan yang matang hanya akan membuat kita kesulitan, terlebih kita sama-sama belum memiliki pengalaman mendaki gunung."


Livia mengembuskan napas panjang, sedikit kecewa. "Sayang sekali ...."


Hal itu tertangkap oleh mata Kelvan. Dia tersenyum. Pergi ke gunung? Siapa wanita yang menginginkan kencan di sana? Hanya Livia orangnya.


"Tapi aku memiliki tempat yang serupa itu. Kita bisa berkendara ke sana."


"Ya." Kelvan menyalakan mesin mobil, sebelum melajukannya berkata, "Ayo, pergi berkencan!"


Livia sangat senang, mereka akan pergi ke gunung. Suasana hatinya benar berbunga-bunga. Hanya beberapa waktu yang lalu. Setelah mereka sampai di tempat tujuan, semua kebahagiaan itu sirna.


Kelvan menggantungkan jasnya di tangan sesaat turun dari mobil. Melihat Livia yang tidak kunjung berjalan ketika dia berjalan membuat dahinya mengerut.

__ADS_1


"Ayo, kenapa diam saja?"


"Kelvan, apa kau yakin membawaku ke mari?"


"Kenapa tidak? Bukankah kau yang memintanya?"


"Ini bukanlah gunung."


"Memang benar, tapi ini dekat dengan gunung." Kelvan menggenggam tangan sang istri, menariknya untuk pergi bersama. Dia pun mulai berkata sambil mereka berjalan, "Seseorang membangun kuil di sini. Biasanya akan ada banyak pengunjung yang datang. Sebagian dari mereka menjadikan tempat ini sebagai spot berfoto, karena memang pemandangannya sangat bagus."


"Kau sering datang ke sini?"


"Baru pertama kali denganmu."


"Tapi tidak terdengar seperti itu."


"Maksudmu kenapa aku bisa tahu dengan jelas tentang tempat ini? Temanku pernah datang ke mari dengan kekasihnya. Dia memamerkan foto-foto mereka padaku dan menceritakan banyak hal tentang pengalaman mereka datang ke sini."

__ADS_1


Setelah memasuki gerbang kuil, Livia tidak benar-benar kecewa. Kelvan membuktikan perkataannya. Bukan hanya mereka saja pengunjung di sana dan pemandangan di belakang kuil memang sangat bagus untuk dinikmati.



__ADS_2