
Kelvan terpaku di tempat, memperhatikan Jennifer yang tiba-tiba saja hadir di depan mata. Sudah berapa lama mereka tidak bertemu? Dia tidak bisa menghitungnya dengan jelas.
"Lama tidak berjumpa," ucap Jennifer, mengulurkan tangan.
Ivon harus menjelaskan situasi. Tetapi sekretaris yang lebih memihak pada teman akrabnya—Jennifer—memilih mundur. Tadinya, dia hanya ingin mempertemukan mereka berdua saja agar dapat menyelesaikan masalah hubungan komunikasi yang buruk. Dia tidak tahu kalau Kelvan akan membawa sang istri ikut bersama dalam acara pesta ulang tahun perusahaan.
Kelvan menjabat tangan Jennifer. "Bagaimana kabarmu?" tanyanya.
"Aku baik-baik saja."
Kelvan menganggukkan kepala. "Senang mendengarnya. Aku tidak tahu kalau kau juga akan datang."
"Wajar saja kau berpikir seperti itu, karena aku tidak pernah lagi pergi ke acara perusahaanmu."
"Sekarang berubah pikiran?"
"Mungkin?" Jennifer tersenyum.
Tatapan Kelvan beralih pada seorang wanita yang berdiri canggung sendirian tidak jauh dari mereka. Bisa-bisanya dia melupakan Livia di saat meminta agar mau menunggunya sebentar, justru setelah selesai lebih memilih berbicara dengan Jennifer.
"Livia," panggilnya.
__ADS_1
Jennifer langsung menolehkan kepala, melihat ke mana arah Kelvan kini melangkah. Pria itu menghadapi wanita yang tidak sengaja menyenggolnya tadi.
"Aku membuatmu menunggu lama."
"Tidak masalah. Aku mengerti dan melihatmu dari sini. Kau memiliki pidato yang sangat bagus."
"Benarkah?"
Jennifer bisa melihat bagaimana Kelvan tersenyum, berkata-kata dengan lembut, dan menatap dengan perhatian. Dia yang tidak mengerti akan situasi pun berjalan menghampiri mereka yang hanya terpaut lebih kurang dua meter saja itu.
"Kalian saling mengenal?"
Jennifer tahu kalau mereka bukan hanya saling mengenal. Sikap yang begitu akrab lebih terlihat seperti memiliki ketertarikan satu sama lain.
Jennifer diam membeku, tidak pernah membayangkan kalau dirinya akan bertemu dengan istrinya Kelvan. Ternyata inilah wanita yang mengisi relung hati Kelvan setelah dirinya.
"Dan Livia, wanita yang ada di depanmu adalah Jennifer."
Livia sudah hampir 100% yakin akan tebakannya, jadi tidak lagi terkejut. "Senang bertemu denganmu, Jennifer." Dia mengulurkan tangan.
Jennifer tersenyum, menjabat tangan yang mengulur padanya. "Senang pula bertemu denganmu, Livia. Aku mendengar kabar pernikahan kalian dari Ivon."
__ADS_1
"Kelvan berkata kalau kau dan Ivon adalah teman dekat."
Jennifer sedikit terkejut, melemparkan tatapan pada Kelvan. "Apa yang aku dengar ini? Kau membicarakan tentang diriku?"
Kelvan menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum ringan. "Percakapan yang tidak pernah terduga."
"Ngomong-ngomong, aku datang bukan tanpa tujuan ke sini."
Kelvan dan Livia saling menatap sebelum melihat ke arah Jennifer kembali dalam keadaan bingung.
"Aku perlu meminta izin Livia untuk ini."
"Izinku?"
"Iya." Jennifer menganggukkan kepala dengan mantap. "Aku dan Kelvan sudah lama tidak bertemu. Ada banyak hal yang perlu diperbincangkan. Dapatkah kami berbicara empat mata untuk beberapa lama? Nanti Kelvan aku kembalikan lagi padamu."
Livia menatap sang suami, menimbang-nimbang apakah dia memberikan izin atau tidak. Impresi pertama ketika melihat Jennifer, wanita itu terlihat cantik dan ramah. Sampai sekarang dia juga tidak mendapatkan tanda-tanda akan Kelvan yang akan digoyahkan perasaannya.
"Baiklah. Aku akan memberikan ruang untuk kalian berdua agar bisa lebih leluasa bicara."
Kelvan segera meraih tangan Livia ketika wanita itu hendak bergeser mundur. Dia tidak memedulikan kebingungan yang terpancar jelas di raut wajah kedua wanita itu, kemudian langsung berkata, "Aku akan mengantarkan Livia ke tempat yang lebih nyaman. Kau bisa menungguku sebentar di sini, Jenn."
__ADS_1
Setelah mengatakan demikian, Kelvan pergi membawa istrinya keluar dari tempat perayaan. Sementara tangan Jennifer mengepal. Dia iri melihat sikap perhatian Kelvan yang hanya didapatkan olehnya dulu namun sekarang semuanya sudah menjadi milik wanita lain.