
Tidak ada penjelasan apa pun dari Kenzi sejak tangisan Nea mulai mengalir untuk orang pertama yang membuat dirinya tertarik. Kenzi sudah pergi meninggalkannya. Nea juga tahu kalau dia tidak boleh berlama-lama dalam suasana sedih.
Ujian masuk perguruan tinggi membuat pikiran Nea tentang kesedihannya lenyap sementara waktu. Mungkin dari luar dia terlihat biasa saja, akan tetapi setelah semua orang pergi meninggalkannya seorang diri, ingatan tentang waktunya bersama Kenzi muncul dan membuat dia tidak bisa berhenti meneteskan air mata.
Nea melalui masalah asmara yang berat di usia remaja, sedangkan pernikahan ayahnya semakin dekat. Dia berpikir, apakah soal menjalin hubungan dengan seseorang akan begitu rumit? Setidaknya, hal itu tidak berlaku bagi Kelvan dan Livia yang sama-sama matang soal pemikiran.
Nea tertegun saat melihat ponselnya menyala. Dia sempat berharap kalau seseorang yang dinantikannya selama ini menghubungi namun nyatanya tidak. Itu panggilan masuk dari ayahnya.
"Nea, apa kau bisa menggantikan ayah pergi menemui Livia? Hari ini ada jadwal fitting baju pernikahan, tapi ayah harus menghadiri rapat mendadak. Cukup bantu Livia mendengarkan bagaimana pertimbanganmu soal penampilannya."
Nea mengerlingkan mata. "Tidak bisakah ayah menghentikan pekerjaan sementara waktu? Ini sudah kali ke berapa calon ibuku mengerjakan persiapan pernikahan seorang diri."
"Ayah benar-benar minta maaf. Secepatnya ayah akan menyusul kalian. Sekarang bantu ayah temani Livia, karena dia hanya seorang diri di sana. Sudah dulu."
Nea mengembuskan napas panjang. Dia menyusul Livia yang pada saat itu sedang mencoba gaun pengantin. Mereka pun sebenarnya sudah lama tidak bertemu, karena disibukkan oleh statusnya sebagai mahasiswa, sedangkan Livia sendiri sibuk menyelesaikan pekerjaan sebelum mengundurkan diri.
Nea duduk di sofa sembari menunggu. Dia tadinya menghabiskan waktu dengan memainkan ponsel, tetapi dering ponsel Livia membuat dia langsung memperhatikan. Dia mengenali tas yang dihadiahkan ayahnya saat perayaan ulang tahun itu.
__ADS_1
"Apa ibu saya masih lama di dalam sana?" tanya Nea pada pegawai yang berdiri tidak jauh dari pintu ruang ganti.
Pegawai tersebut mengintip sebentar, lalu berkata, "Sepertinya membutuhkan waktu lima menit lagi."
Itu waktu yang cukup lama untuk mengangkat panggilan telepon. Dia mengambil inisiatif untuk memberikannya pada Livia. Namun, perhatiannya tersita pada orang yang menelepon, membuat jantungnya langsung berdebar kencang saat menemukan nama Kenzi di layar.
Entah ada dorongan apa sehingga membuat dia berubah pikiran dan mengangkat panggilan.
"Bu Livia?"
Suara itu ... sudah lama tidak dia dengar.
Nea ragu-ragu menjawab, "Hmmm."
Dia berharap kalau Kenzi tidak mengenalinya.
"Oh, Nea?"
__ADS_1
Nea melebarkan mata. Kenzi ternyata masih mengingatnya, mengingat suaranya.
"Jadi, itu benar dirimu? Aku masih tidak mengerti kenapa ponsel bu Livia ada bersamamu."
"Ibuku sedang mencoba gaun pengantin sekarang dan ...."
"Dan? Dan apa?"
Setelah apa yang dilakukan Kenzi terhadapnya, kenapa sikapnya seperti tidak bersalah begitu? Nea sangat kesal sekarang. Dia tahu kalau nada suaranya haruslah ketus!
"Dan aku hendak memberikan ponsel ini padanya, tapi tombolnya tidak sengaja terpencet sehingga membuatku harus bicara padamu."
"Wow, kau terdengar sedang berbohong sekarang. Tapi aku serius menanyakan ini, bagaimana kabarmu?"
Nea tahu kalau sekarang bukan waktunya untuk hal seperti ini. Dia ditolak, ditinggalkan, dibuat menderita dengan putusnya hubungan kontak di antara mereka.
Tetapi ... hatinya menghangat hanya dengan satu pertanyaan yang sudah lama diharapkannya itu.
__ADS_1
"A—aku sedikit ... demam?" ucapnya.