
Livia diam seribu bahasa dengan perasaan campur aduk, apalagi menatap Kelvan yang tampak sangat frustrasi saat mencoba meluruskan kesalahpahaman di antara mereka. Suasana yang berubah serius ini, dia takut kalau akan membuat dirinya bertambah sulit menghadapi Kelvan.
"Saya menyukai Anda, mungkin sejak pertama kali kita berpandangan. Saya belum yakin pada saat itu dan selalu menolak perasaan sendiri, tetapi semakin lama semakin sulit. Di samping itu, saya tidak tahu apakah perasaan saya hanya akan mengganggu Anda sehingga saya menahan diri untuk tidak mengatakannya."
Livia dapat mendengar pernyataan itu dengan jelas. Dia hampir tidak percaya. Setelah mendengar semuanya, dia yang sudah melihat keberanian serta ucapan tulus dari seorang Kelvan seharusnya tidak bertingkah seperti gadis remaja yang akan malu-malu saat mengetahui bahwa cinta mereka tidak bertepuk sebelah tangan. Dia harus tegas agar tidak ada kesalahpahaman lagi.
"Saya juga menyukai Anda!"
Livia tidak mendapatkan tanggapan apa-apa dan situasi yang berubah canggung membuat dia sangat malu. Dia terdengar seperti orang yang sangat bersemangat saat ini.
"T—tolong katakan sesuatu," ucapnya.
Kelvan tertawa kecil. "Saya sangat senang mendengarnya sampai membuat saya sulit berkata-kata."
"Ja—jadi, sekarang kita resmi menjalin hubungan? Anda tidak akan membuat saya salah paham lagi, bukan?" Livia ingin memastikan.
"Ya, benar. Apa kita menikah saja agar Anda berpikir bahwa ini bukanlah kesalahpahaman?"
__ADS_1
"Me—menikah?!"
Kelvan tertawa lebar kali ini. "Bercanda. Kita tidak perlu terburu-buru, karena Nea juga belum mengetahui tentang hubungan kita."
Livia menurunkan bahu yang tegang. Kelvan benar, mereka harus memikirkan Nea yang mungkin belum membuka hati untuk anggota keluarga baru.
"Apa Anda senggang besok? Saya ingin mengajak Anda pergi berkencan."
Livia hampir menyemburkan darah dari hidung. Duda beranak satu ini baru menjalin hubungan dengannya beberapa menit lalu dan sekarang langsung membahas soal kencan mereka. Bagaimana dia harus menghadapi debaran hati yang belum tenang betul?
"Baiklah. Begitu saja." Kelvan tersenyum.
Ponsel yang berdering membuat Livia harus segera mengangkat panggilan. Suara Kenzi terdengar di seberang sana. Anak itu lagi-lagi menanyakan cara menjawab sebuah pertanyaan. Bisa-bisanya di situasi penting begini dia berargumen mengenai soal pelajaran.
Kelvan tidak ingin mengganggu. Dia menyalakan mesin, lalu melajukan mobil. Seperti yang dilihatnya sekarang bahwa Livia memiliki profesi sebagai seorang guru privat. Pekerjaan yang mengharuskan untuk bertemu dengan berbagai macam sifat seorang anak adalah hal lumrah.
"Untuk mencari jumlah dari sepuluh bilangan pertamanya, kau harus mencari nilai a dan b terlebih dahulu. Mencari nilai a bisa dengan cara memasukkan n sama dengan satu dan mencari nilai b dengan cara memasukkan n sama dengan dua."
__ADS_1
"Apa yang Anda katakan? Saya sama sekali tidak mengerti."
"Gunakan rumus yang ada di soal, ganti huruf n dengan angka satu, begitu pula untuk nilai n sama dengan dua."
"Anda mengulang penjelasan yang sama. Saya tidak mengerti."
"Itu adalah hal yang sederhana dan aku sudah menjelaskannya padamu. Coba buka kembali catatan saat kita belajar di hari sebelumnya."
"Tidak bisakah Anda datang ke sini dan menjelaskannya secara langsung?"
"Sekarang bukanlah jadwal untuk mengajarkanmu."
"Kalau begitu, saya tidak akan mengumpulkan tugas besok."
Livia mengembuskan napas panjang, sedangkan Kelvan sempat memperhatikan raut yang terkesan sangat frustrasi itu. Pada akhirnya, mereka memutuskan singgah ke rumah Kenzi sebentar untuk menjawab soal.
__ADS_1