
Sekarang di dalam mobil mereka berempat berada, hanya Nea yang tampak bersemangat setelah menghabiskan es krim. Padahal, baru dua minggu mereka tidak bertemu, tapi tidak pernah dikira kalau suasananya akan lebih canggung dari yang dibayangkan.
"Kita sudah cukup lama tidak bertemu, kenapa tidak mampir ke rumah sebentar?" ucap Nea.
"Itu ... mungkin lain kali saja. Saya harus mengajar Kenzi sekarang."
"Sayang sekali ...."
Mereka sampai di tempat tujuan tidak lama kemudian. Tiba-tiba Kenzi turun lebih dulu, membuat semua orang kebingungan dan berpikir kalau anak itu sangat buruk suasana hatinya.
Di luar dugaan, yang terjadi yaitu Kenzi membukakan pintu kabin untuk sang guru privat. Livia terpekik ketika sepatu tingginya diambil, sedangkan Kelvan dan Nea berusaha untuk melihat apa yang sedang terjadi di belakang sana.
Livia terpaku memandangi punggung Kenzi kini. Anak itu mencoba untuk memberikan bantuan padanya, mungkin sadar bahwa kakinya lecet. Hanya saja, perlakuan itu terlalu mendadak dan bukan dalam situasi yang tepat.
"Kaki Anda terluka karena berlari mengejar saya. Sekarang biarkan saya menggendong Anda."
"Tidak perlu sampai seperti itu."
"Apa Anda tidak mendengarkan saya?"
Livia menoleh pada dua orang di kursi depan. Bisa-bisanya dia memikirkan Kelvan saja yang membantu. Seharusnya dia sudah menghilangkan perasaannya, karena Kelvan pun tidak terlihat seperti memiliki apa pun untuk dikatakan.
__ADS_1
"Baiklah."
Pada akhirnya, Livia naik ke punggung Kenzi. Mereka tidak langsung pergi begitu saja, karena ingin menunggu orang yang mengantarkan pergi lebih dulu. Sampai saat itu, Kelvan tetap terlihat biasa saja.
Livia merasa bodoh, mengharapkan sesuatu yang tidak akan mungkin terjadi. Dan sekarang dia harus melupakan semua itu dengan yakin.
"Anda menyukai pria tadi, bukan?"
Baru saja bertekad untuk melupakan, pertanyaan Kenzi justru membuatnya bimbang kembali. "Apa yang kau katakan?"
"Terus terang saja. Saya bisa melihatnya ketika Anda menatap orang itu. Kalau boleh memberi saran, lebih baik Anda melupakannya, karena pria seperti dia pasti suka mempermainkan hati wanita."
Livia menjewer telinga itu, membuat Kenzi mengaduh kesakitan. "Sepertinya kau memiliki bakat menjadi seorang cenayang. Sekarang turunkan aku, karena kita sebentar lagi akan sampai."
"Aku tahu kalau niat baikmu tidaklah gratis."
"Anda harus berjanji untuk pergi dengan saya pekan nanti."
"Memangnya ada apa dengan pekan nanti?"
"Saya akan menonton konser."
__ADS_1
"Aku tidak berpikir bisa ikut, karena harus mengunjungi nenekku."
"Anda punya nenek?"
"Tentu saja, semua orang punya nenek. Kau seharusnya menanyakan, 'nenek anda masih hidup?'"
Kenzi menurunkan Livia, lalu berkata lagi, "Kita akan mengubah rencana, pergi ke tempat nenek Anda akhir pekan, bagaimana?"
Livia menyipitkan mata, berpikir sejenak. "Ti—dak!"
"Kenapa begitu?"
"Karena kau tidak memiliki nilai yang bagus."
"Heee?! Memangnya ada yang seperti itu?!"
Livia melipatkan tangan di dada, mengedikkan dagu dengan angkuh. "Jika kau ingin ikut, maka nilaimu harus bagus dulu."
"Kalau begitu, saya akan belajar mulai dari sekarang dan Anda akan mengajak saya berjalan-jalan setiap kali mendapatkan nilai bagus, bagaimana?" Kenzi menyodorkan kelingkingnya.
Akhirnya Livia menemukan cara untuk membuat Kenzi mau belajar. Dia mengikat jari kelingking mereka sebagai tanda bahwa saat ini sudah bersepakat. Lagi pula, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari sisinya, karena nenek tidak akan bertindak macam-macam pada muridnya.
__ADS_1