Duda Beranak Satu

Duda Beranak Satu
Tidak Mungkin!


__ADS_3

Livia mendongak, memperhatikan dokumen yang sudah berpindah tangan. Pulang dari penerimaan rapor, seharusnya mereka mempersiapkan kejutan untuk Kelvan. Sayangnya, akibat insiden ponsel jatuh ke selokan, rencana mereka gagal total.


"Ini tidak mungkin! Bagaimana bisa Nea mendapatkan peringkat sepuluh besar?!"


Livia tersenyum pahit, menurutnya sekarang bukanlah waktu serta tempat yang tepat jika ingin membahas persoalan hasil ujian, tetapi nasi sudah menjadi bubur, dia sudah terjun ke selokan, dan hasil ujian juga sudah diketahui.


"Nea sudah berusaha keras selama satu bulan ini."


"Tapi itu adalah waktu yang singkat, mengingat sebelumnya Nea berada di peringkat paling bawah."


Livia yang kedua kakinya berada di dalam selokan itu pun berkata, "Nea adalah anak yang pintar. Dia hanya perlu fokus pada pelajarannya."


Kelvan mengalihkan tatapannya pada sang putri yang berdiri nun jauh di sana. Dia tersenyum, ada kepuasan serta kebanggaan yang memenuhi ruang dada. Sudah lama sekali dia tidak melihat nilai yang bagus di dalam rapor Nea, bahkan hampir putus asa, berpikir mungkin hanya akan berakhir sebagai sebuah mimpi saja untuk melihatnya kembali.


"Nea!" teriak Kelvan, melambai-lambaikan tangan seperti orang paling bahagia di dunia.

__ADS_1


Di sisi lain, Nea mengerutkan dahi, tidak paham dengan perilaku sang ayah yang terlihat seperti orang gila. Untung saja teman-temannya sudah pulang sehingga dia tidak perlu menyembunyikan hubungan mereka sebagai ayah dan anak.


Sebelumnya, Nea sengaja menunggu sekolah agak sepi, karena tidak ingin ada orang yang melihatnya. Dia tidak menyangka jika Livia akan menunggu sampai dirinya benar-benar muncul.


Ayahnya merupakan salah satu investor di sekolah, jadi Nea sering kali mendapatkan perlakuan khusus seperti tidak perlu didampingi orangtua ketika mengambil rapor. Justru hal itu membuat dia menerima perlakuan tidak baik dari teman-temannya, karena dinilai sebagai anak emas.


Entah kenapa, dia jadi melampiaskan itu semua pada ayahnya, mungkin agar hatinya menjadi lega?


Lama waktu berlalu, Livia berhasil mendapatkan ponsel Nea kembali. Mereka mengembalikan penutup beton seperti semula dan mengembalikan alat pengungkit. Nea tampak sangat senang setelah mengetahui bahwa ponselnya tidak bermasalah, karena memang memiliki ponsel tahan air, meskipun tetap harus dibersihkan dari sisa-sisa kotoran dan air yang menempel.


Hingga saat sudah sampai di mobil, Kelvan melihat Livia tidak seperti orang yang akan ikut bersama mereka. Pemandangan itu mengurungkan niatnya untuk masuk ke mobil.


"Anda tidak ikut?"


"Saya rasa akan pulang menaiki bus saja."

__ADS_1


Kelvan berjalan menghampiri wanita dengan pakaian serta kaki yang kotor itu. "Nea sangat senang sekarang, mendapatkan nilai yang bagus dan juga mendapatkan ponselnya kembali. Jika Anda pergi tanpa merayakan hari ini, pasti dia akan sangat sedih."


"Tapi ...."


Livia mengusap lengannya yang terasa dingin, apalagi tubuh kotornya sudah cukup tidak nyaman untuk dibawa ke acara perayaan.


"Jika Anda berkenan, kita akan singgah sebentar untuk membeli pakaian ganti. Apa itu sudah cukup menyelesaikan masalah Anda?"


"Baiklah," ucap Livia pada akhirnya.


Kelvan membukakan pintu kabin belakang, tetapi sebelum Livia benar-benar menaiki mobil, dia melepaskan jasnya dan dibentangkan pada kursi.


"Hanya supaya Anda merasa lebih nyaman ketika duduk."


Livia tersentuh akan perhatian Kelvan. Dia tidak pernah menerima perlakuan seperti itu dari lelaki lain. Wajar saja jika dia berdebar-debar, bukan?

__ADS_1



__ADS_2