
Livia memanggil-manggil neneknya sejak tadi, tetapi belum ada yang menyahut. Dia masuk ke dalam rumah untuk melihat, tetap saja tidak menemukan. Jadi, dia memutuskan pergi menuju kebun yang biasanya menjadi tempat neneknya sering menghabiskan waktu.
"Biar saya pergi temani," ucap Kelvan.
"Kalau begitu saya juga ikut," ucap Kenzi pula.
Dua orang yang menawarkan diri saling melemparkan pandangan seperti memiliki pertentangan satu sama lain.
Nea yang kebingungan melihatnya pun berkata, "Ada apa dengan kalian berdua? Jangan buat bu Livia kesulitan. Kita hanya perlu menunggunya di sini."
Livia menganggukkan kepala pada akhirnya. "Saya akan kembali secepatnya."
Mereka bertiga melihat Livia pergi, sedangkan Nea memilih berbaring. Perjalanan cukup panjang dan juga melelahkan. Dia berpikir untuk beristirahat selagi menunggu Livia kembali.
Lama waktu berlalu, dari pintu yang terbuka lebar muncul seseorang. Punggung orang itu membungkuk, jalannya begitu lambat, dan kulitnya keriput. Kelvan dan Kenzi bertanya-tanya, apakah orang itu adalah neneknya Livia?
"Ya, Tuhan, punggungku sangat sakit!"
Kelvan dan Kenzi saling melemparkan pandangan dalam keadaan kebingungan, sejujurnya sama-sama tidak tahu harus bertindak bagaimana.
__ADS_1
Sang nenek menyipitkan mata, mengarahkan tatapannya pada dua orang lelaki yang ada di dalam rumah. "Si—siapa kalian?! Maling, ya?!"
Nenek itu hendak meraih pot bunga dengan niat ingin melemparkannya, akan tetapi punggung yang sakit membuatnya meraung kesakitan. Hingga keadaan berakhir dengan Kelvan dan Kenzi membantu untuk mendudukkan nenek tersebut.
"Sudah, sudah tidak apa," ucap sang nenek, menarik lengan kanan dan kirinya yang dipegang. "Kalian masih sangat muda, masa depan begitu cerah di depan sana, bagaimana bisa menjadi maling?"
"Kami sebenarnya—"
"Aku harus katakan pada kalian kalau di sini tidak ada barang berharga, percuma saja mencuri di sini. Apa yang dimiliki wanita tua yang hidup sendirian di desa sepertiku?"
Kelvan ingin berkata kembali namun niatnya urung ketika teringat pada Kenzi yang berkata sudah pernah menemui sang nenek. Seharusnya tidak dianggap sebagai maling, karena saling mengenal.
Pertanyaan Kelvan membuat sang nenek menoleh ke arah yang dilihat. Tentu saja, dia tidak pernah melihat maling dengan tampang bersinar.
Tetapi belum sempat sang nenek berkata, Kenzi yang sudah tahu maksud dari pertanyaan itu langsung berkata, "Oh, Nenek! Anda pasti sudah begitu tua sampai-sampai melupakan saya."
"Si—siapa?"
"Saya Kenzi dan kami bukanlah maling. Kami datang ke sini bersama bu Livia."
__ADS_1
"Livia? Kau mengenal cucuku Livia?"
"Lihatlah, Anda melupakannya lagi!"
Tidak ingin kebohongannya terbongkar, Kenzi menuntun sang nenek untuk masuk ke dalam rumah bersamanya. Dia bersandiwara seolah pernah datang, padahal Kenzi baru mendapatkan nilai bagus satu kali sejak kesepakatannya bersama Livia.
Kelvan tidak ingin menuntut jawaban lebih, karena dia sendiri sudah paham dengan Kenzi yang berbohong. Dia bukan anak kecil lagi yang harus mencerna situasi lebih lama.
Dibandingkan itu, Livia masih belum datang juga, padahal sang nenek sudah kembali. Dia cukup khawatir sehingga membuatnya memutuskan untuk mencari Livia.
Tidak begitu sulit mencari Livia, karena wanita itu sudah menuju jalan pulang. Mereka sama-sama bertemu di tengah jalan. Livia sangat terkejut dengan keberadaan Kelvan yang seharusnya tidak berpanas-panas di luar hanya untuk mencarinya.
"Anda seharusnya tidak menyusul," ucap Livia sungkan.
Kelvan tersenyum. "Saya khawatir. Nenek Anda sudah di rumah sekarang. Beliau baru saja pulang."
"Apa? Pasti nenek melewati jalan jelek lagi, makanya kami tidak bertemu. Saya seharusnya sudah menduga hal itu. Sudah berapa kali saya katakan untuk tidak ke sana, karena kondisi fisiknya yang buruk."
Mungkin, karena terlalu marah, Livia tidak terlalu jelas melihat sekitarnya. Saat dia berjalan kembali, tidak sengaja menginjak tanah berair dan membuatnya jatuh ke dalam sawah.
__ADS_1