
Tidak semudah yang dibayangkan, Kenzi sangat kesulitan meningkatkan nilai. Janji untuk pergi bersama mengunjungi nenek di akhir pekan menjadi batal, Livia pergi seorang diri. Meskipun begitu, Kenzi semakin terpacu keinginannya dalam belajar.
Bahkan, ketika mereka tidak bertemu pun, Kenzi tetap membuka bukunya. Semua itu terbukti dari telepon masuk yang sering dia terima dari anak itu hanya untuk menanyakan tentang jalan keluar dari sebuah soal.
Berjalan melewati tempat es krim yang pernah dikunjungi, Livia tidak sengaja melihat Kelvan di sana. Dia segera mencari tempat bersembunyi, entah mengapa dia tidak ingin menemui pria itu sekarang setelah membuat hatinya gundah gulana.
Tetapi Livia bersembunyi di tempat yang salah. Kelvan langsung menemukan wanita itu ketika hendak menaiki mobil, terlebih Livia berjongkok di samping pintu kabin pengemudi. Mereka sama-sama terkejut mengetahui keberadaan masing-masing.
Alhasil, Livia duduk di dalam mobil bersama es krim yang diberikan padanya. Sementara Kelvan sedang membeli satu es krim lagi. Setelah apa yang dilalui, dia tidak pernah menyangka kalau mereka akan makan es krim bersama.
Kelvan datang tidak lama kemudian, menukar es krim mereka. Livia menolak kebaikan itu saat melihat es krim di tangannya sudah meleleh, tetapi dia sama sekali tidak didengarkan.
"Anda seperti murid yang nakal, tidak mau mendengarkan saya."
Kelvan tersenyum. "Anda begini gara-gara saya."
__ADS_1
Livia terdiam, berpikir apakah Kelvan tahu tentang dirinya yang sangat frustrasi tidak bisa mengungkapkan perasaan karena perubahan sikap duda beranak satu ini?
Kelvan menyodorkan tisu dan berkata, "Es krim itu tidak akan mengotori tangan Anda jika bukan gara-gara saya."
Livia tidak dapat berkata-kata. Entah apa yang ada di pikirannya kini. Satu hal yang dia sadari yaitu Kelvan adalah pria polos yang tidak peka.
"Terima kasih," ucap Livia.
Setelah selesai dengan es krim, Kelvan melajukan mobil. Situasi itu membuat Livia bertanya-tanya, apakah akan tetap sama seperti terakhir kali di mana mereka hanya diam tanpa kata?
Livia tersentak, tidak percaya kalau Kelvan akan membuka percakapan di antara mereka. "Ah, ya ... ngomong-ngomong, Anda hanya datang untuk membeli es krim?"
Kelvan menggaruk kepala. "Itu sangat memalukan."
Livia tertawa kecil, menurutnya Kelvan sekarang sangat lucu. Bagaimana bisa orang dewasa tersipu malu hanya karena menginginkan es krim?
__ADS_1
"Saya selalu menyembunyikannya, bahkan dari Nea. Hanya istri saya yang tahu, terkadang membelikannya diam-diam dengan dalih menyukai es krim. Padahal, sendirinya tidak suka dengan makanan manis."
"Saya tidak tahu bagaimana Anda dapat menahan diri ketika Nea dan Kenzi makan es krim waktu itu."
"Mungkin kita akan menabrak mobil lainnya, karena yang terdengar di telinga saya hanyalah suara saat mereka menikmati es krim."
Livia tercengang. "Oh, apa itu alasan kenapa Anda diam saja selama perjalanan?"
Kelvan menganggukkan kepala. "Memangnya kenapa?"
Livia menundukkan kepala. Dia memasang tampang sedih. "Anda membuat saya salah paham, dengan berpikir bahwa Anda tidak ingin berhubungan lagi dengan saya setelah menjadi guru privat Nea."
"Bagaimana Anda bisa berpikir seperti itu? Saya tidak pernah menganggap bahwa hubungan kita telah berakhir."
Kelvan memijat dahi. "Seharusnya saya tidak begini di usia yang sudah dewasa. Tapi saya membuat Anda merasa demikian karena sikap yang tidak konsisten."
__ADS_1