Duda Beranak Satu

Duda Beranak Satu
Menuju Pernikahan


__ADS_3

Nea tidak mengerti, kenapa dia bisa mengatakan hal yang sangat aneh. Dia tidak demam sama sekali, hanya wajah yang memanas setelah ditanyai mengenai kabarnya. Kenzi seharusnya tahu bagaimana dia sangat ingin mendengar suara orang yang menolaknya.


"Nea?"


Nea menoleh ke sumber suara, menemukan sosok Livia yang begitu cantik dibalut gaun pengantin. Dia tahu kalau calon ibu barunya itu cantik, tetapi sekarang terlihat lebih cantik lagi.


"Apa kau sedang menelepon?"


Pertanyaan itu membuat Nea yang masih berada dalam panggilan telepon segera datang menghampiri. Dia menyerahkan ponsel, lalu berkata, "Ini bukan ponselku."


Livia melirik ponsel tersebut. "Oh, ponselku?"


"Tadi ponselmu terus berdering, jadi aku mengangkatnya tanpa memberitahukan lebih dulu. Maaf."


"Tidak apa-apa. Tapi ... siapa yang menelepon?"


Ponsel itu jelas mati layarnya, jadi Livia tidak bisa mengetahui siapa orang yang mengganggu kesibukan persiapan pernikahannya.


"Kenzi."


"Ah, anak itu!"

__ADS_1


Livia langsung menempelkan ponsel ke telinga, lalu dia berkata dengan nada sedikit tinggi, "Kelvan?!"


"Apa sejak saya pergi, Anda menjadi lupa siapa saya? Saya bukan Kelvan, tapi Kenzi. K-E-N-Z-I dibaca Kenzi!"


"Maafkan aku, Kenzi. Nama kalian terlalu mirip. Aku jadi sulit membedakannya."


"Anda yakin karena hal itu? Bukan karena pikiran Anda yang hanya dipenuhi oleh orang yang akan menjadikan Anda sebagai istrinya?"


"Kau mengejekku. Jadi, untuk apa meneleponku?"


"Saya ingin mengatakan kalau lusa akan kembali."


"Apa? Kau akan kembali lusa? Bukankah lusa adalah hari presentasimu?"


"Jangan bergurau, Kenzi! Kau harus menyelesaikan presentasimu. Pernikahanku hanyalah alasan agar kau tidak mengerjakannya."


Nea yang kini melihat-lihat pakaian terpajang harus mendengar percakapan. Dia tidak memiliki niat untuk menguping, tetapi juga tidak memungkiri kalau dia penasaran. Dibandingkan hal itu, apa yang didengarnya tadi? Kenzi akan kembali lusa nanti? Dan Livia tidak mengizinkannya?


Tidak beberapa lama kemudian, Livia selesai dengan panggilan telepon. Dia celingak-celinguk mencari Nea hingga mendapati anak itu berdiri di belakangnya. Cukup sulit untuk dia menghadap ke belakang lantaran gaun pengantin yang dikenakan tidak bisa diajak kerja sama.


"Sepertinya aku akan mengganti gaun pengantinnya dengan yang biasa saja agar bisa lebih leluasa saat berjalan," gumamnya.

__ADS_1


Pada saat itu pula perhatian teralih, seseorang baru saja datang dalam keadaan tergesa-gesa. Setelah melihat siapa yang datang, Livia langsung terkejut, begitu pula dengan Nea yang mematung di tempat.


Kelvan hadir tidak lama kata itu terucap, terpaku pada sosok calon istri yang terlihat mengagumkan di matanya. Dia tidak pernah melihat Livia yang berdandan begitu cantik dan kecantikan itu akan diperlihatkan di acara pernikahan.


Livia melihat keterpanaan itu, langsung menghias senyuman di bibir. "Kau sudah datang?"


Kelvan menghampiri, melihat wanitanya lebih dekat. Dia menggenggam kedua tangan Livia bersama debaran hati. "Kenapa kau terlihat begitu cantik?"


Livia tersipu malu, lantas tertawa kecil. Sementara Nea di belakang sana berdeham, membuat Kelvan sadar kalau di sana bukan hanya mereka saja.


"Jadi, Ayah sudah memiliki seseorang untuk dikatakan cantik sekarang?" Saat berkata, Nea sudah ada di antara dua orang yang di mabuk asmara itu.


"Belum. Setidaknya, sampai kami benar-benar menjadi pasangan suami istri. Dan lagi, ayah selalu mengagumi kecantikan putri ayah sebelum ini."


"Apa Ayah mengatakannya, karena takut aku akan menjadi cemburu?" Nea menghela napas panjang. "Aku bukan anak kecil lagi. Kalian dapat menunjukkan kemesraan kalian kapan pun dan aku jamin tidak akan pernah terganggu."


Kelvan menyipitkan mata. "Kau yakin?"


"Seratus persen!"


...***...

__ADS_1


...Maaf sekali baru bisa update DBS, karena kucing Renko a.k.a Udin sakit huhu dan membuat pemiliknya harus mengawasi 24 jam. Mohon do'anya untuk kesembuhan Udin. Terima kasih atas pengertiannya~...


__ADS_2