
Berkat dirinya sendiri, Kenzi harus membuang waktu untuk merawat luka yang dia sebabkan. Tadi ingin ditinggalkannya saja Nea, tetapi jika anak itu mengadu pada ayahnya, lalu kabar ini sampai pada Livia, dia tidak yakin kalau dirinya akan baik-baik saja.
Nea kini makan camilan, dibelikan dari minimarket oleh Kenzi. Anak itu agaknya merasa bersalah. Dia pun jadi tidak tega melihat Kenzi yang berlutut di bawahnya.
"Bukankah tanganmu juga terluka olehku?" tanya Nea.
Kenzi menutup luka itu dengan plester bergambar, lalu berdiri tegak tanpa mengalihkan pandangan dari lutut Nea. "Hanya ada plester ini di sini."
Nea melirik lututnya kini memakai plester bergambar hati. "Tidak masalah, yang penting lukanya tertutup." Dia menatap Kenzi kembali. "Tanganmu—"
Ponsel Kenzi berdering. Dia segera mengangkat panggilan yang nyatanya dari Livia. Guru privatnya itu menanyakan keberadaannya, karena mereka memiliki jadwal belajar sekarang.
"Ah, saya melupakannya. Maafkan saya."
"Hatiku sangat senang hari ini, jadi kau tidak akan menerima hukuman apa-apa dariku. Lalu, ada di mana kau sekarang? Aku sudah ada di depan rumahmu. Oh, ya! Tadi orangtuamu menunggumu, tapi kau pulang terlalu lama sehingga mereka memutuskan untuk pergi lebih dulu agar tidak ketinggalan pesawat. Mereka berkata akan ke luar negeri beberapa waktu dan menitipkan uang sakumu padaku."
__ADS_1
Kenzi menundukkan kepala, lalu menatap ke arah lain. Dia tidak berminat membahas orangtuanya sekarang. "Bu Livia, saya tidak berpikir akan bisa belajar sekarang."
"Oh, apa kau memiliki keperluan lain?"
Sebenarnya tidak, tetapi Kenzi berpikir tidak akan fokus belajar hari ini. "Ya. Saya harus belajar kelompok," ucapnya.
"Belajar kelompok? Tumben sekali. Ternyata kau sudah mulai membuka hati. Aku sangat senang mendengarnya. Baiklah. Tetap lanjutkan perjuanganmu, aku akan selalu mendukungmu!"
Kenzi memutuskan sambungan telepon saat percakapan telah usai. Dia mengembuskan napas panjang, lalu menatap Nea yang tampak kebingungan namun tidak berniat menuntaskan rasa penasaran itu.
Nea berhenti mengunyah camilan. Dia tidak harus mengatakan kalau dirinya memiliki waktu senggang. Hanya saja, melihat raut frustrasi di wajah Kenzi membuat dia bertanya-tanya akan apa yang sebenarnya terjadi. Dia juga tahu kalau membahas hal itu sekarang bukan waktu yang tepat.
"Kenapa memangnya? Apa kau ingin mengajakku berkencan?"
Gurauan Nea sama sekali tidak berpengaruh apa-apa. Kenzi baru pertama kali mendengar seseorang mengajaknya berkencan, tetapi rasanya di situasi sekarang tidak terdengar seperti sesuatu yang akan membuat dia tersipu malu.
__ADS_1
"Ya. Apa kau mau?"
Perkataan Kenzi yang sembarangan, justru membuat Nea tersipu malu. Dia tadi hanya bercanda dan situasinya yang baik-baik saja untuk mendengar hal itu berbanding terbalik reaksinya dengan Kenzi. Dia yang lebih dulu menyinggung soal kencan, dia pula yang kalah rasanya saat dibenarkan.
Mereka memutuskan untuk pergi bermain game hingga sore hari. Tidak ada yang mereka pikirkan kecuali tertawa hingga puas seperti anak nakal pada umumnya. Permainan menang dan kalah secara tidak langsung menjadi proyek balas dendam dalam bentuk lain.
"Aku menang!" seru Nea. "Kau harus mentraktirku setelah ini!"
"Jangan terlalu bersemangat. Masih ada satu permainan lagi yang harus kita mainkan. Kali ini akan aku pastikan kalau aku menang darimu," ucap Kenzi.
Mereka menghampiri permainan berikutnya. Saat itu pula mereka terkejut mengetahui ada orang lain ingin pula memainkan permainan yang sama.
"Bu Livia?"
"Ayah?"
__ADS_1