
Danish tidak dibiarkan pulang hingga acara usai. Dia ditahan untuk tetap tinggal di rumah Nea, padahal sudah menolak ikut acara makan-makan khusus keluarga.
Livia baru saja mengantarkan neneknya ke kamar, lalu menghampiri tiga orang yang masih duduk di ruang makan. Mereka sudah selesai makan malam dan sekarang adalah waktu di mana Kelvan ingin membicarakan hal serius setelah menahannya begitu lama demi keberlangsungan acara pernikahan.
"Sebenarnya apa yang ingin Ayah bicarakan sampai menahan Danish begitu lama?" tanya Nea pada akhirnya.
"Ayah tidak ingin hubungan kalian berlanjut."
Bukan hanya Nea saja yang mengerutkan dahi, Danish pun sama.
"Nea belum waktunya memiliki pacar. Dia masih harus belajar mengenai banyak hal."
"Pacar? Ayah mengira kalau kami berpacaran?" Nea tertawa lebar. "Kami saja baru berkenalan beberapa hari yang lalu. Bagaimana bisa memutuskan untuk berpacaran begitu cepat?"
"Jadi, kau sudah ada niat untuk menjalin hubungan dengan Danish?"
Nea menoleh pada Danish. Laki-laki itu tampak tidak memiliki apa pun yang ingin dikatakan untuk menenangkan kekhawatiran ayahnya.
"Kami hanya berteman, Ayah."
"Benarkah begitu?"
__ADS_1
"Ya, Paman. Kami hanya berteman," ucap Danish.
Kelvan menyipitkan mata, masih memiliki keraguan. Bukan tanpa alasan dia tidak menginginkan putrinya menyinggung soal asmara lebih dulu, karena terdapat banyak hal di luar sana yang bisa Nea lakukan selain berpacaran atau memikirkan tentang hubungan antara lawan jenis.
"Anggap saja kalau aku percaya."
Nea mengerlingkan mata. "Kami berniat untuk pergi liburan akhir pekan ini."
"Apa?!" Kelvan kembali pada keraguannya kembali. "Kalian baru saja bertemu dan memutuskan pergi liburan berdua. Bagaimana aku percaya kalau kalian memang tidak memiliki hubungan apa-apa?"
"Bukan hanya ada aku dan Danish, Ayah. Teman-teman kami juga akan ikut. Ini acara liburan bersama."
"Ayah juga akan ikut."
"Ini acara bagi anak-anak muda seperti kami. Kehadiran Ayah hanya akan membuat suasananya menjadi tegang. Lagi pula, bukankah Ayah dan bu Livia akan pergi berbulan madu?"
"Sepertinya kami harus membatalkannya," ucap Livia. "Ayahmu tidak bisa meninggalkan pekerjaannya."
"Orang seperti apa yang lebih mementingkan pekerjaan dibandingkan bulan madu pernikahan?"
"Tidak masalah. Aku bisa menghabiskan waktu bersama nenek selama itu. Jarang sekali melihat nenek mau tinggal begitu lama di kota. Ada banyak hal yang ingin aku perlihatkan dan ceritakan padanya."
__ADS_1
Nea mengembuskan napas panjang. "Apa boleh buat. Ayah dan bu Livia harus tahu kalau aku sudah lama menginginkan seorang adik."
Bukan hanya Livia saja, bahkan Kelvan memerah mukanya. Mengatakan hal itu di depan orang lain membuat mereka sangat malu, terlebih konteksnya sekarang tidak tepat.
Nea bangkit dari duduknya, menarik Danish untuk ikut bangkit pula. "Kalau begitu, aku akan mengantarkan Danish ke depan."
Dua orang itu pergi meninggalkan pasangan yang sudah menikah. Masalah Nea sejenak membuat Livia dan Kelvan lupa akan status yang sudah berubah. Setelah diingatkan oleh pikiran masing-masing kalau malam ini tidak tidur sendirian, muka mereka semakin merona.
Nea yang sudah berada di luar rumah akhirnya bisa bebas. Dia sengaja mengalihkan topik pembicaraan agar ayahnya tidak lagi memperpanjang masalah dan untungnya dia berhasil.
"Danish, maafkan aku. Kau harus terjebak dalam situasi tidak nyaman seperti tadi."
Danish tidak mengatakan apa-apa, sedangkan tatapannya membuat Nea sadar untuk segera melepaskan pegangan di pergelangan tangannya.
"Ja—jaketmu akan aku kembalikan secepatnya."
"Aku tidak ingat pernah memberikan jaketku padamu. Itu adalah jas."
"Oh, benar! Semua gara-gara ayah, aku jadi tidak bisa fokus. Jadi, mari kita bertemu lagi di hari liburan nanti. Sampai jumpa!"
Danish melihat Nea perlahan menghilang di balik pintu. Dia tersenyum, memikirkan sikap Nea satu hari ini yang ternyata bisa begitu lucu.
__ADS_1