
Sementara Livia menyelesaikan urusan menjawab soal, Kelvan menanti di dalam mobil. Beberapa waktu kemudian, dia dapat melihat wanita yang telah menjadi kekasihnya itu kembali. Bukan hanya seorang diri, tetapi juga bersama anak yang bernama Kenzi.
Kelvan turun dari mobil untuk menemui dua orang yang asyik bersenda gurau. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, dia tidak tahu karena posisi yang agak jauh. Hingga jarak di antara mereka berubah dekat ketika Kenzi menatap ke arahnya. Kelvan melemparkan senyum, akan tetapi anak itu bersikap tak acuh dan membuat dia jadi terheran-heran.
"Jangan sampai tidak mengumpulkan tugasmu besok, mengerti?" ucap Livia.
"Saya akan mengumpulkannya besok, bila perlu merekam waktu di mana saya mengumpulkan tugas dan mengirimkannya pada Anda."
"Baiklah. Kau harus berjanji melakukan itu." Livia meletakkan kedua belah tangan di pinggang.
Kenzi memasang raut wajah tidak percaya. "Anda benar-benar ingin saya melakukannya?"
"Bukankah kau yang mengatakannya tadi?"
__ADS_1
"I—itu ... memang benar, tapi apa Anda tidak percaya pada saya?"
"Awas saja kalau tidak mengumpulkannya!"
Kelvan berdeham, sudah menunggu terlalu lama pada percakapan dua orang di depannya. Livia langsung menyadari dan menyuruh Kenzi agar masuk ke dalam rumah secepatnya. Namun, anak itu mengatakan kalau akan menunggu mereka pergi terlebih dahulu.
"Sampai berjumpa lagi besok!" Kenzi melambaikan tangan.
Begitu mobil sudah melaju pergi, Kenzi diam untuk sesaat sebelum mengacak-acak rambut sendiri. Dia tidak rela jika Livia dekat dengan pria bernama Kelvan itu, tetapi tidak memiliki alasan yang kuat agar dapat memisahkan mereka.
Nea sendiri yang dihubungi melalui akun sosial media merasa risi. Dia tidak begitu mengenal Kenzi, apalagi kesan pertama mereka yang buruk. Kalau bukan karena Livia, mungkin dia sudah menendang Kenzi ke lautan.
Tetapi meskipun membalas dengan sikap yang tidak bersahabat, Kenzi tetap berkata baik padanya. Hal itu membuat Nea sedikit aneh sekaligus penasaran akan alasan kenapa Kenzi berubah menjadi orang yang lembut, terlebih mengajaknya bertemu dengan alasan agar mereka dapat saling mengenal lebih dekat sebagai teman. Apa dia ladeni saja atau sebaliknya menolak ajakan itu?
__ADS_1
Nea mengambil pilihan pertama di mana dia akan bertemu dengan Kenzi keesokan hari sepulang sekolah. Kenyataan yang dia temukan sangat mengejutkan, bukan hanya di ponsel saja anak itu bersikap baik rupanya. Mungkinkah dia telah salah menilai Kenzi?
Kenzi menghampiri dengan membawa makanan. Dia menata pesanan mereka di hadapan masing-masing, lalu tersenyum pada Nea.
Nea tidak tahu harus berkata apa. Setelah mereka sampai di tempat nongkrong anak muda, dia diminta duduk saja, sedangkan Kenzi yang akan mengantre untuk pesanan mereka. Selain itu, apa dia boleh mengatakan kalau senyuman Kenzi sangat menawan?
Nea dengan cepat menyadarkan diri. Dia seharusnya menjadi orang yang tidak begitu senang dengan ajakan pertemanan, karena Kenzi sudah berlaku buruk padanya beberapa tempo lalu.
"Kenapa mengajakku bertemu? Apa ada hal yang ingin kau bicarakan? Jika memang begitu, maka cepat katakan sebelum aku benar-benar sibuk."
Tanpa diketahui oleh Nea di bawah meja sana, Kenzi mengepalkan tangan. Dia tidak akan tersenyum atau mengantre untuk waktu mereka kalau bukan karena Livia, terlebih berhadapan dengan Nea yang bertingkah seperti orang sombong ini.
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Ini mengenai bu Livia dan ayahmu."
__ADS_1