
Cuaca yang cerah tiba-tiba berubah mendung dan mulai menurunkan hujan satu persatu. Livia dengan cepat mengangkat pakaian yang masih setengah kering. Dia mengeluh, lalu menjemurnya di tempat teduh.
"Padahal, aku sudah yakin kalau pakaian ini akan kering, tetapi lihatlah keadaan langit yang tidak berpihak padaku."
"Anda sangat sial hari ini."
Livia tidak bermenung, jadi tidak terkejut pada Kenzi yang tiba-tiba berdiri di belakangnya. Justru sekarang dia teringat pada kejadian di kafe, di mana sikap Kenzi sampai sekarang masih mengganjal baginya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya.
"Memangnya saya kenapa?" Kenzi agaknya lupa dengan kejadian terakhir kali. Saat teringat, dia jadi tertawa sendiri.
"Kau berkata takut waktu itu. Apa seseorang sedang menjahatimu?"
"Saya tidak takut karena dijahati."
"Lalu?"
"Saya takut tidak bisa melihat Anda lagi."
Kali ini Livia yang tertawa. "Memangnya aku akan ke mana? Apa kau takut pertemuan kita berakhir setelah berhasil membuatmu menjadi anak pintar? Kau bisa menghubungiku di luar itu."
"Saya boleh menghubungi Anda di luar itu?"
__ADS_1
Livia menganggukkan kepala. "Bukankah biasanya juga begitu?"
"Anda akan menikah?"
Livia membelalakkan mata. "Siapa yang mengatakannya?"
"Saya hanya menebak. Bukankah hubungan Anda dengan ayahnya Nea serius? Cepat atau lambat kalian akan menikah juga."
Livia memang menganggap Kenzi sebagai sosok yang dekat dengannya, tetapi dia tidak berpikir akan membicarakan masalah pribadi.
"Ternyata Anda benar-benar akan menikah dengannya. Sejujurnya, saya tidak suka pada hubungan kalian, karena takut setelah itu perhatian Anda akan teralih."
"Apa yang kau bicarakan? Kalau pun aku menikah, tidak mengubah kenyataan kalau aku adalah orang yang pernah mengajarimu dan Nea yang kini telah menjadi temanmu. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bertemu."
Livia mengembuskan napas sambil menggeleng-gelengkan kepala, kemudian dia masuk ke rumah sambil lalu berkata, "Dari mana kau mendapatkan pemikiran itu? Ada-ada saja."
Akibat cuaca yang tiba-tiba berubah, mereka berempat tidak bisa kembali ke kota, karena untuk mencapai mobil pun mereka harus berjalan sekitar seratus meter terlebih dahulu. Setelah apa yang menimpanya hari ini, Livia tentu tidak ingin jika menyulitkan lebih banyak.
Dia membuka pintu kamar, melihat Kelvan yang melihat-lihat terkejut akan kedatangannya. "Oh, maaf. Saya lupa mengetuk pintu sebelum masuk."
"Tidak masalah. Ini memang kamar Anda."
"Sayang sekali, hujan mendadak turun dengan lebat. Jika kita memaksa pulang sekarang, maka jalan pasti akan dipenuhi lumpur."
__ADS_1
Kelvan tersenyum geli. "Anda takut jika hal tadi terjadi lagi?"
Livia yang diingatkan akan kejadian memalukan langsung merona merah. "Ah, seharusnya Anda tidak mengingatkan saya mengenai hal itu. Sangat memalukan."
"Apa pakaian saya sudah kering?"
"Saya sangat bersalah, karena tidak bisa menepati janji. Pakaian Anda masih belum kering."
"Kalau begitu, saya harus pulang dengan penampilan seperti ini?"
"Saya sangat menyesalinya."
"Tidak masalah. Saya akan pulang dengan penampilan ini."
Suasana berubah hening, Livia menjadi canggung dalam kamarnya sendiri. Tidak tahu apa yang harus mereka bicarakan dalam keadaan sekarang, dia benar-benar dibuat kebingungan pada hubungan asmara yang sudah lama tidak dijalinnya.
"Sepertinya makan mi di cuaca sekarang akan sangat menyenangkan," ucap Livia.
"Itu benar."
Mendapatkan jawaban positif, Livia pun berkata, "Bagaimana kalau kita membuatnya? Anda bisa keluar dan membantu."
"Oh, ba—baiklah."
__ADS_1
Kelvan sempat bingung, kenapa perkara makan mi akan begitu menyemangati Livia. Setelah itu, dia tersenyum, karena setidaknya mengetahui fakta tentang Livia yang ternyata menyukai makan mi di cuaca dingin.