
Livia begitu kaku duduk di tepi ranjang. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana di saat dirinya akan tidur bersama seorang pria, lebih tepatnya adalah suami sendiri. Jantung pun sejak masuk ke kamar semakin berdetak kencang, bermula dari kata-kata Nea yang mengundang perasaan gugup ini.
"Livia?"
Livia menoleh ke sumber suara, langsung memerah rona mukanya menemukan Kelvan sedang mengancingi piama hitam. Dia dapat melihat garis otot perut yang setengah-setengah terlihat itu.
Livia tidak berhenti tercengang, bahkan ketika Kelvan duduk di sampingnya. Dia bisa melihat wajah tampan itu memamerkan senyuman yang rasanya akan membuat dirinya lupa diri.
"Y—ya?" Reaksi yang terlambat memang, semua berkat Livia terlalu lama mencari akal sehatnya.
Kelvan menunjuk ujung bibirnya. "Air liurmu hampir menetes."
Kesadaran Livia langsung ditemukan keseluruhan. Dia menutup mulut dengan terkejut. Kenapa bersikap begitu memalukan di malam pertama?
__ADS_1
Kelvan tertawa kecil. "Aku bercanda."
Livia berekspresi datar. Humor receh dapat membuat dia kelabakan, sesuatu yang lebih memalukan lagi.
Kelvan menarik tangan yang menutupi mulut, lalu tanpa mengatakan apa pun menyentuhkan bibir mereka berdua. Livia yang membelalak akan sikap mendadak perlahan memejamkan mata. Kening mereka sama-sama berkerut seolah curahan kasih yang hanya bisa diungkapkan melalui sentuhan fisik dapat mereka rasakan.
Tangan Livia bergerak ragu ketika akhirnya melingkar di leher Kelvan. Baru saja akan menikmati ciuman yang semakin panas, tiba-tiba saja mereka berjarak dan membuat Livia terheran hingga rasanya tidak rela. Dia berpikir bahwa itu tidak masalah, karena mungkin Kelvan akan melanjutkan percintaan mereka ke tahap berikutnya.
Namun, apa yang terjadi adalah Kelvan benar-benar menjauhkan diri. Keadaan seperti itu seolah menjadi badai terbesar sepanjang sejarah hidup Livia.
Perkataan macam apa itu di malam pertama pernikahan mereka? jiwa Livia memberontak.
"Tapi kau bertingkah sangat lucu sehingga aku tidak tahan untuk menciummu. Sekarang beristirahatlah dengan baik, Istriku."
__ADS_1
Kelvan bangkit dan melangkah pergi. Livia harus melakukan sesuatu jika ingin menghentikannya!
"K—kenapa?"
Mendengar Livia bicara membuat Kelvan berhenti dan menolehkan kepala.
"Kenapa kau berpikir demikian? Apa kau menyesal telah menikahiku? Apa aku tidak cantik di matamu ... sehingga, sehingga kau tidak akan menyentuhku."
"Aku tidak tahu kenapa kau sampai berpikiran seperti itu. Tapi satu hari ini adalah waktu yang panjang, sedangkan jika kita melakukannya," Kelvan menaikkan pandangan mata, meskipun dia ragu harus mengatakannya atau tidak, tetapi melihat kekhawatiran di wajah Livia membuat dia harus berkata, "akan membutuhkan tenaga yang cukup banyak, di samping kau belum pernah melakukannya. Aku tidak bisa hanya memikirkan keinginanku sebagai seorang pria. Kau juga membutuhkan waktu untuk mempersiapkan diri."
Jika sudah berkata seperti itu, Livia tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Meskipun hatinya tidak rela untuk membiarkan malam pertama yang dibicarakan mereka di luar sana adalah sesuatu yang menyakitkan dan menyenangkan. Jujur saja, dia memiliki keinginan egois untuk itu, dia penasaran akan rasanya, dia ingin benar-benar menjadikan Kelvan miliknya dan juga dirinya menjadi milik Kelvan seutuhnya. Apa dia tidak boleh merasa begitu?
"Livia, kau sangat cantik di mataku. Aku tidak bisa berhenti memandangimu dan rasanya tidak akan puas jika hanya memandangimu saja. Aku sangat ingin menyentuhmu, tapi sekuat tenaga menahannya agar kau merasa nyaman. Hanya itu. Jangan lagi berpikir bahwa aku menyesali pernikahan kita, ya?"
__ADS_1