
Kelvan naik ke lantai atas hendak melihat sang istri di kamar. Setelah apa yang terjadi tadi malam, sebenarnya dia tidak bisa tidur dan memutuskan untuk pergi berolahraga saja. Namun, di tengah-tengah itu semua dia tidak sengaja berpapasan dengan temannya Nea.
Tania terkejut, berusaha untuk bersikap seolah tidak melihat apa pun. Entah mengapa dia terlalu malu berhadapan dengan ayah temannya. Kejadian semalam sangat menengangkan dan membuat orang-orang akan kikuk jika berhadapan dengan situasi yang sama sepertinya.
Kelvan mengerutkan dahi, tidak suka dengan sikap Tania yang seolah tidak pernah mengenalnya. "Hey, Semut Besar!"
Tidak dihiraukan. Kelvan kembali memanggil, "Semut Besar!"
Tania tidak ingin merasa kalau dirinya yang dipanggil. Dia berharap dapat pergi dari sana secepatnya, tetapi tidak diduga kalau kerah bajunya ditarik sehingga jalannya harus terhenti dan sikapnya harus diubah.
"A—apa yang Anda lakukan?! Lepaskan saya!"
Kelvan melepaskannya. "Aku benci orang yang pura-pura tidak saling mengenal, padahal kita sudah saling bicara sebelumnya. Sekarang jelaskan padaku mengenai kejadian tadi malam. Mari kita dengar kekacauan apa yang kalian timbulkan di luar sana." Dia melipatkan tangan di dada.
"Kami tidak melakukan kekacauan apa pun, hanya bermain-main sebentar."
"Apa masih bisa dikatakan sebentar jika pulang larut malam? Kalian tidak pergi ke tempat yang buruk, bukan?"
"Tidak. Kami hanya mengikuti seseorang."
"Siapa?"
__ADS_1
"Dia bernama Danish."
Kelvan tidak asing dengan nama itu, tidak terlalu terkejut. "Untuk apa kalian mengikutinya?"
"Nea akan pergi liburan bersama Danish dan teman-teman. Mereka belum lama saling mengenal dan ada baiknya memastikan lagi apakah dia orang baik atau tidak."
Kelvan menyeringai. "Nea memang putriku yang pintar." Bukan dia yang patut dipuji, akan tetapi hidungnya seakan memanjang karena bangga. "Jadi, bagaimana dengan hasilnya?"
"Danish tidak melakukan apa-apa yang membuat dia bisa disebut memiliki karakter buruk."
Kelvan kecewa dengan hasilnya. Dia berharap kalau Danish orang yang buruk agar dia memiliki alasan supaya Nea tidak bermain lagi bersama anak laki-laki itu.
"Kau juga ikut dalam acara liburan mereka?"
"Bekerja?"
"Saya bekerja paruh waktu untuk membayar biaya kuliah."
Kelvan terdiam beberapa saat sebelum berkata, "Pergilah bersama Nea. Dan berhentilah bekerja paruh waktu."
Tania menggelengkan kepala dengan cepat. "Tidak mungkin. Saya akan sangat rugi jika meninggalkan pekerjaan itu."
__ADS_1
"Aku juga tidak akan mengatakannya jika bukan karena ingin membayarmu."
"Mem—bayar ... saya?"
"Aku ingin kau bekerja untukku mulai dari sekarang. Awasi Nea dan laporkan padaku hal penting yang harus diketahui seperti siapa saja anak laki-laki yang dekat dengannya, ke mana dia pergi, dengan siapa dia bergaul."
"A—anda ingin saya berkhianat pada Nea?" Tania berkata dengan terkejut.
"Memangnya, kau benar-benar tulus berteman dengannya?"
Tania menurunkan bahu yang ikut terkejut tadinya. "Tidak, sih. M—maksud saya ...."
Tania malu dengan dirinya sendiri. Dia adalah salah satu orang yang memanfaatkan Nea. Keadaan ekonomi adalah faktor penyebab itu semua. Meskipun sebenarnya dia tidak ingin berbuat hal buruk pada anak yang baik seperti Nea.
"Tidak perlu menjelaskan apa pun, karena aku memahaminya. Kau hanya perlu mengatakan keputusanmu, apakah mau bekerja denganku atau tidak."
"Itu terdengar keren. Saya akan terlihat seperti seorang mata-mata bayaran."
"Aku harap setelah ini kau tidak lagi memanfaatkan putriku. Bertemanlah dengan tulus, jika tidak suka maka katakan tidak suka, begitu pula sebaliknya. Kalian harus menjalin hubungan pertemanan yang jujur."
Tania menundukkan kepala dalam-dalam. Dia sangat terharu. Memikirkan kehidupan yang sulit, dia hanya fokus bagaimana cara untuk menutupi kekurangan itu. Sekarang apa dia bisa mengatakan kalau dirinya sudah bisa fokus pada kehidupannya sebagai anak remaja pada umumnya?
__ADS_1