
Nea yang duduk menopang dagu harus digoyahkan oleh Tania. Anak itu baru saja muncul entah dari mana, lalu memaksakan diri duduk di sebelahnya. Sudah terlambat masuk kelas, ditambah tidak tahu malu mengambil tempat duduk orang lain, itulah Tania.
"Jam pelajaran hampir selesai dan kau tetap masuk. Seharusnya, kau tidak memperlihatkan batang hidungmu sekarang," bisik Nea.
"Aku harus selalu berada di sampingmu, karena—" Ucapan Tania terhenti, hampir membocorkan rahasia antara dia dan ayahnya Nea.
"Karena apa?"
"Karena kita adalah teman." Tania memeluk lengan Nea dengan manja.
Justru perlakuan tidak biasa membuat Nea geli. "Lepaskan aku."
"Aku sangat bersyukur kita kuliah di tempat yang sama, sudah begitu juga sekelas. Kau adalah keberuntunganku. Aku tidak akan menyia-nyiakan teman sepertimu."
Nea mendorong paksa agar anak yang sejak tadi tidak beranjak menjauh darinya. "Kau mengatakan apa, sih?!"
Tidak lama kemudian, jam kuliah selesai. Nea segera keluar dari kelas, sedangkan dia masih diikuti oleh Tania.
"Ngomong-ngomong, bagaimana hubunganmu dengan Danish?"
Nea mengerutkan dahi. "Hubungan? Danish? Apa maksudmu?"
Tania berdecak. "Kau benar-benar tidak mengerti?"
"Memangnya, apa yang harus aku mengerti?"
__ADS_1
Melihat Nea melongos membuat Tania menjadi kesal. Dia pun berhenti melangkah hanya untuk sekadar mengumpulkan energi dan berteriak, "Dasar tidak peka! Danish itu suka padamu!"
Nea menolehkan kepala, sangat malu dengan mereka yang mendengarkan, lantas menyeret Tania sembari membekap mulut anak itu sampai bisa mencapai tempat aman.
"Jangan ucapkan nama itu sembarangan. Apa kau tidak tahu akibatnya nanti?!"
"Lagi pula, apa salahnya? Toh, semua orang juga akan tahu kalau kalian akan jadian."
"Aku dan Danish tidak punya hubungan apa-apa. Kami hanya berteman."
"Kau yakin? Bukankah kalian sangat dekat, padahal belum kenal cukup lama. Aku melihat chemistry di antara kalian."
"Chemistry apa!" Nea mengerlingkan mata. "Lama-lama kau sama dengan netizen, menafsirkan sesuatu sembarangan."
Tania menyipitkan mata. "Kau tidak tahu saja siapa yang aktif mengkritik di forum sekolah."
"Apa itu kau?"
Tania menyeringai. "Sudah pasti, bukan aku."
Nea seketika berekspresi datar. Dia telah membuang-buang waktu hanya untuk mendengar ocehan tidak berguna Tania. Seharusnya, dia tahu kalau semua akan menjadi begitu, sialnya selalu terjebak untuk meladeni.
"Jangan ikuti aku lagi. Aku akan pulang."
"Begitu cepat? Biasanya sebelum pulang, kau akan pergi bermain terlebih dahulu."
__ADS_1
"Aku tidak bisa. Orangtuaku pergi bulan madu dan aku harus mengawasi adikku."
"Oh, benar juga. Kalau begitu, apa aku boleh ikut bersamamu? Aku juga ingin menggendong Vian."
"Tidak!"
"Kalau begitu, biarkan aku menyanyikan lagu tidur untuknya."
"Aku bilang tidak, ya tidak!"
Asyik mengobrol tanpa melihat langkah dengan benar, Nea yang berusaha menghindari Tania tidak sengaja menabrak seseorang. Untung saja, lengannya dipegang sebelum benar-benar jatuh.
"Terima kasih," ucap Nea. Saat melihat siapa orang yang ditabrak, dia sangat terkejut.
"Bukankah Anda seharusnya mengatakan maaf ketimbang berterima kasih?"
"Oh," Nea yang masih dibingungkan oleh keadaan tidak bisa berpikir banyak, "maaf," ucapnya.
Nea mengangkat pandangan mata sekali lagi, menganggap kalau semuanya adalah mimpi. Belum sempat berkata lebih jauh, orang yang ditabrak berlalu pergi begitu saja.
"Kenzi," gumam Nea.
"Kenzi? Kau kenal dengannya?" Tania berkata.
...***...
__ADS_1
...Kira-kira yang dilihat oleh Nea dan Livia itu siapa, ya? Apa benar orang yang sama dengan yang mereka kenal?...