
Livia tersenyum, memikirkan betapa besar cinta kedua orang yang disatukan dan dipisahkan oleh takdir. Jika ibunya Nea masih hidup, pasti mereka menjadi keluarga bahagia, bukan? Dia pun akan menjalani takdir yang berbeda pula.
Tidak ada yang dapat menebak hidup.
"Livia?"
Livia mengangkat kepalanya. "Ya?"
"Kau melamun? Atau kata-kataku membuatmu sedih?"
"Kata-katamu?"
"Aku membahas tentang kehidupanku dengan ibunya Nea dulu, sedangkan sekarang aku bersamamu. Seharusnya aku bertanya lebih dulu tentang pendapatmu baru bicara."
"Oh, aku tidak mempermasalahkannya."
"Kau yakin?"
"Tentu saja."
Kelvan tersenyum, menyentuh tangan Livia yang ada di atas meja. Mereka saling bergenggaman tangan. Apa yang harus dipikirkan saat ini adalah tentang masa depan bersama keluarga kecil mereka.
Di sisi lain, Nea duduk di luar restoran seorang diri. Dia baru tahu arti kesepian yang sesungguhnya. Setelah mengatakan akan menunggu, dia benar-benar merasa waktu berlalu sangat lambat.
Andai saja rasa sepi itu dinikmatinya bersama Kenzi seperti biasa, pasti tidak akan membosankan. Tetapi mustahil terjadi, karena mereka terpaut jarak dan waktu.
"Sendirian saja?"
Nea menolehkan kepala, mendapati seorang anak laki-laki yang lebih tinggi darinya. Matanya sayu dan senyuman yang terpancar begitu lembut. Mungkin bisa dikatakan kalau orang yang ada di hadapannya adalah kebalikan dari Kenzi.
__ADS_1
"Tidak. Aku datang dengan orangtuaku, tapi berada di dalam sana cukup membosankan. Jadi, aku memutuskan keluar sebentar."
"Kita satu pemikiran. Namaku Danish."
"Nea. Kau juga menemani orangtuamu melakukan kencan romantis?"
"Sayangnya, tidak. Aku pergi menemani temanku melakukan kencan romantis."
"Di restoran mewah ini?"
Danish menganggukkan kepala. "Apa ada yang salah?"
"Tidak. Hanya saja, aku berpikir kalau anak seusia kita tidak akan memilih restoran mewah ini sebagai tempat kencan. Temanmu pasti sangat kaya."
"Aku yang membiayai kencan mereka."
"Tidak juga. Temanku ingin memberikan kencan terbaik sebelum memutuskan hubungan."
"A—apa? Itu pasti akan menyakiti hati wanitanya."
"Cepat atau lambat juga akan terjadi, bukan?"
"Kalau begitu, jangan berikan harapan padanya di saat-saat terakhir."
"Harapan? Menurut kami kalimat yang lebih cocok adalah kenangan yang bagus."
"Kenangan yang bagus? Kalian bisa memutuskan hubungan secara langsung, karena apa yang kalian lakukan hanya akan menjadi kenangan buruk."
"Itu akan lebih menyakitkan nantinya."
__ADS_1
"Bukankah cepat atau lambat hal itu juga akan terjadi?"
Danish mengembuskan napas panjang. Dia tidak pernah bisa mengerti jalan pikiran anak perempuan.
"Seperti apa pun kita beradu argumen, orang yang menjalaninya sudah mengambil keputusan. Kita tidak bisa ikut campur."
"Kau benar juga. Aku sepertinya perlu mengambil liburan untuk beberapa waktu agar otakku yang kacau ini dapat difungsikan kembali sebagaimana mestinya."
"Kami rencana akan pergi liburan. Kau ingin ikut?"
"Pergi bersama orang asing?"
"Aku sudah memperkenalkan diri tadi. Namaku Danish."
"Apa itu bisa disebut sebagai perkenalan?"
"Memangnya harus seperti apa agar bisa disebut sebagai perkenalan?"
"Ternyata kau lebih berbeda lagi dari Kenzi," gumam Nea. "Hanya tampang saja yang polos, tapi sikapnya begitu seenaknya."
"Apa yang sedang kau katakan?"
"Aku berkata, baiklah! Kita akan pergi liburan bersama!"
"Tidak perlu sekeras itu mengatakannya."
Nea mencibir, mengundang raut kekesalan di wajah Danish. Mereka saling bertukar nomor hari itu sebelum sama-sama pergi dari restoran.
__ADS_1