
Nea tidak bisa menahan tawa saat melihat kembali keadaan raut wajah Kenzi. Baru kali ini dia melihat anak laki-laki dengan mata yang bengkak, bukan karena bertengkar seperti kebanyakan, tetapi karena menangis.
Kenzi membiarkan orang-orang yang memperhatikannya berlalu pergi terlebih dahulu, baru mendongakkan kepala. Dia cukup menyesal. Kalau saja suasana tidak memacu emosional, mungkin sekarang dia tidak bersama Nea dan memperlihatkan sisinya yang menyedihkan.
"Aku pulang," ucap Kenzi, bangkit dari duduknya, lalu pergi dari area bersantai minimarket.
Nea yang melihat langsung mengikuti. "Tapi kita masih belum selesai bicara."
"Untuk apa, jika kau hanya akan tertawa."
Nea tertawa kecil. "Aku tidak tertawa lagi setelah ini. Jadi, ceritakan padaku alasan kenapa dirimu menangis. Apa kau melalui hari yang berat selama di luar negeri?"
Tepat sekali. Kenzi memang melalui hari yang berat selama tinggal di negeri asing. Dia berusaha untuk beradaptasi, akan tetapi ada hal yang membuat dia akhirnya memilih untuk menyerah dan kembali ke tempat asal.
"Dari mana aku harus mulai menceritakannya? Dan lagi, apa kau orang yang dapat dipercaya? Aku tidak melihat itu dari tampangmu."
Nea tampak masam ekspresinya. "Aku yang seharusnya berkata begitu. Apa ceritamu dapat dipercaya? Dengan penampilanmu yang sekarang, aku rasa jawabannya tidak. Lagi pula, untuk apa kau mengubah penampilan menjadi sangat jelek begini?"
"Kau kira hanya aku yang jelek sekarang? Kau pun sama, tidak seperti Nea yang dulu. Seseorang mengatakan padaku kalau kau bergaul dengan anak yang tidak baik. Jadi, itu adalah alasan kenapa penampilanmu berubah drastis?"
"Aku hanya ... ingin terlihat keren saja."
"Di masa kuliahmu?"
__ADS_1
"Tidak ada yang salah, bukan?"
"Selain itu, kenapa ayahmu membiarkan putrinya menjadi jelek. Bu Livia pun selalu menjewerku ketika bertingkah aneh."
"Mungkin, karena aku adalah Nea? Tapi, Hey! Tidak masalah dengan siapa bergaul dan bagaimana penampilanku, nilaiku tetaplah bagus."
"Kau tertolong."
"Jahat sekali!"
Nea mendorong Kenzi dengan kuat, begitu kesal sekarang. Orang yang didorong sendiri berhenti melangkah, menoleh pada Nea yang berubah serius raut wajahnya.
"Maaf," ucap Kenzi.
"Karena berkata seperti itu padamu."
"Kau juga harus minta maaf padaku untuk hal lain."
"Untuk hal lain?"
"Kau yang pura-pura tidak mengenaliku."
"Aku juga minta maaf soal itu. Seharusnya, aku tidak bertingkah kekanakan. Sekarang aku merasa malu dengan penampilanku dari ujung kaki sampai ujung kepala."
__ADS_1
"Lain kali, jangan pernah lakukan itu lagi. Jika kau mengulanginya, maka anggap saja kita tidak pernah saling mengenal. Aku tahu di masa lalu tidak begitu baik untuk kita, tapi setidaknya kita bisa berteman di masa depan."
Kenzi berpikir beberapa saat, kemudian menganggukkan kepala. "Aku mengerti."
Nea mengembuskan napas panjang. Dia berjalan lebih dulu seraya berkata, "Kini mari kita dengar ceritamu!"
Kenzi masih diam di tempat, memandangi punggung Nea perlahan pergi menjauh. Ada hal yang ingin dia katakan sejak lama namun rasanya sekarang bukan waktu yang tepat.
"Kenzi!"
Kenzi berhenti dari lamunan, menatap Nea yang sengaja menunggunya setelah berteriak memanggil. Dia bergegas menghampiri dan membawa langkah menghadapi tujuan kembali.
"Kau bisa memulainya dari ibuku. Apa hubungannya bu Livia dengan masalahmu? Ayahku juga. Banyak hal ingin kutanyakan padamu, jadi kau akan menjawab rasa penasaranku satu persatu. Termasuk anak perempuan yang berbicara padamu waktu itu."
"Anak perempuan?" Kenzi mengingat kembali. "Aku tidak tahu siapa yang kau maksud, karena aku bicara dengan banyak anak perempuan sebelumnya."
"Oh, begitu rupanya! Kenzi yang sekarang pasti banyak yang mendekati, ya?!"
"Aku rasa bukan hanya sekarang saja begitu."
Nea memaksa senyumannya melengkung. "Sebagai teman, aku turut senang mendengarnya."
__ADS_1