
Livia celingak-celinguk di samping Kelvan yang mulai memasuki lift. Dia menyusul pula dengan cepat agar tidak ketinggalan. Tanpa diduga, di lantai tertentu pintu bergeser menjadi dua bagian menampakkan segerombolan pegawai.
Livia menepi ke arah yang berlawanan dari posisi suaminya. Tidak ada alasan khusus, hanya gerakan refleks ketika menghindari orang-orang. Yang ada setelah jarak mereka terapaut jauh sekali, Kelvan yang tampak setengah terulur tangannya berhenti menggapai lantaran berpikir mustahil mendapatkan Livia yang sudah terhalangi oleh banyak orang. Sementara wanita yang hendak ditolong itu terpaku di tempat, tidak bisa ke mana-mana akibat kesalahan sistem di otaknya.
Sadar akan keberadaan petinggi di perusahaan, pegawai yang berdiri di dekat Kelvan langsung memberikan hormat. Kelvan sendiri hanya menganggukkan kepala dengan kikuk, masih terpikirkan keadaan dirinya dan Livia beberapa detik lalu.
"Saya belum pernah melihat Anda sebelumnya. Anda bekerja di divisi mana?"
Suara seorang laki-laki, kedua mata Kelvan tidak dapat menjangkau pemandangan Livia yang kemungkinan sedang berada dalam kesulitan. Para pegawai yang datang segerombolan ini telah menghalangi jarak pandangnya.
"Oh, kau benar! Aku juga belum pernah melihatnya." Suara seorang wanita kali ini.
"Tidak peduli di divisi mana pun, aku berpikir kalau di perusahaan ini terdapat bunga langka yang sulit ditemukan."
"Ah, kau memang pria bermulut manis."
Livia berdiri di antara pandangan para pegawai wanita dan pria yang mulai tertarik untuk mengetahui siapa dirinya. Dia jelas sangat canggung dan tidak nyaman dijadikan pusat perhatian begitu, apalagi secara terang-terangan.
__ADS_1
"Apa aku salah? Wanita ini sangat cantik. Ngomong-ngomong, siapa nama Anda jika kami boleh berkenalan?"
"Livia."
Semua pegawai di satu lift mengalihkan perhatian ke satu arah. Mereka mendengar suara dari seseorang yang lain, bukan dari mulut wanita yang diajak berkenalan. Dan bertanya-tanya, kenapa atasan mereka yang menjawab?
"Be—benar? Nama Anda Livia?" bisik seorang laki-laki yang berdiri di belakang Livia.
Tepat setelah pertanyaan belum terjawab itu dilontarkan, pintu lift terbuka. Kelvan melangkah keluar, baru bisa melihat Livia. Dia langsung meraih tangan wanita itu dan menariknya untuk pergi bersama.
Kelvan tidak langsung pergi, karena dia lebih dulu berkata, "Livia istriku. Jangan membuatnya merasa tidak nyaman lagi setelah ini." Baru kemudian dia pergi, menyisakan bayangan keterpanaan di wajah para pegawai.
Kelvan menutup pintu, membawa istrinya menempati area duduk. Dia melipatkan tangan di dada, memperhatikan Livia di bawah sana tengah diam terbengong.
"Aku salah membawamu ke mari. Para pegawai jadi memandangi dirimu sesuka hati. Kenapa orangtuamu harus melahirkan putri yang begitu cantik?"
Livia tertawa kecil. "Apa suamiku sedang cemburu sekarang?"
__ADS_1
"Katakanlah begitu."
"Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu tidak lagi merasa demikian?"
Kelvan menyeringai. "Kau yakin menanyakannya padaku?"
"Aku yakin kalau kau tidak mungkin memintaku melakukan hal yang sulit untuk aku lakukan."
"Ini bukanlah hal sulit dan kau bisa melakukannya, karena kau juga akan melakukannya cepat atau lambat."
"Jadi, hal apakah itu?"
Kelvan mengusap dagu, lalu tersenyum. "Aku ingin kau menemaniku untuk datang ke satu acara pesta."
...***...
...Hari ini Renko update 3 bab biar hati senang...
__ADS_1
...\(^o^)/...