Duda Beranak Satu

Duda Beranak Satu
Livia dan Kecanggungannya


__ADS_3

Mereka tiba di satu minimarket, melihat Nea duduk seorang diri dengan ekspresi murung. Tidak tahu bagaimana insiden memalukan itu bisa terjadi, yang jelas mereka perlu mendengarkan dari berbagai sisi.


"Apa kalian datang untuk anak itu? Aku tidak tahu bagaimana anak zaman sekarang dididik oleh orangtuanya," ucap pemilik minimarket.


Livia menatap Nea penuh kekhawatiran, ditambah memikirkan masalah yang harus diselesaikan. Pasti Nea sangat terguncang sekarang dan membutuhkan seseorang di sisinya untuk menemani.


"Bu Livia, dapatkah Anda membantu saya membawa Nea masuk lebih dulu ke dalam mobil?" pinta Kelvan.


"Urusan saya dengan anak itu masih belum selesai," ucap pemilik minimarket.


"Untuk selanjutnya, urusan anak itu akan dialihkan pada saya."


"Memangnya Anda siapa?"


Pemilik minimarket menatap Kelvan dari atas sampai bawah, berpikir kalau pria mengenakan pakaian kasual sekarang ini adalah anak muda yang tidak mungkin bisa diberikan tanggung jawab.


"Saya ayahnya."


"A—anda ayahnya?!"

__ADS_1


Pada saat ini, Livia tengah menuntun Nea keluar dari minimarket. Mereka berjalan tanpa sepatah kata, menaiki mobil, dan duduk di dalamnya tanpa kata pula. Livia sangat ingin menanyakan cerita yang sebenarnya, tentang kenapa Nea bisa sampai mencuri. Tetapi dia juga tahu kalau membahas persoalan itu sekarang hanya akan membuat suasana hati Nea bertambah buruk.


"Kenapa Anda begitu lama?"


Mendengar Nea berbicara tiba-tiba, Livia pun menolehkan kepala. "Maaf, Nea. Saya berada dalam suatu acara tadi, tidak tahu ada panggilan dan pesan masuk."


Nea menundukkan kepala, melihat bagaimana jemarinya bergesek satu sama lain. Dia tahu kalau tidak bisa menyalahkan siapa pun atas keadaan yang dirinya sendiri lakukan.


"Bagaimana jika Anda memeriksa ponsel keesokan hari? Apa, apa saya akan terus berada di sana untuk waktu yang lebih lama?"


"Semua itu tidak akan terjadi, karena masih ada ayah Anda yang begitu gelisah ketika tahu putrinya belum pulang."


Nea gemetar, tidak sanggup lagi menahan tangis yang akhirnya tumpah semua. Livia yang melihat keadaan itu langsung memberikan pelukan, membiarkan Nea dengan sendirinya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


Kelvan baru saja keluar dari minimarket. Dia menemukan dua orang perempuan tertidur pulas di dalam mobil. Tidak ada yang bisa dilakukannya kecuali melajukan mobil.


Sesampainya di rumah, Kelvan membaringkan sang putri dan Livia di satu kamar. Dia membiarkan mereka beristirahat dari hari yang penuh dengan drama ini, begitu pula dengan dirinya.


Livia terjaga besok paginya, cukup mengherankan ketika tahu ada di mana dirinya berada. Meskipun begitu, dia tidak lupa mengenai kejadian buruk tadi malam. Untuk saat ini, Nea masih tidur dengan nyenyak, bahkan sempat memeluknya beberapa saat yang lalu.

__ADS_1


Livia keluar dari kamar, mencari-cari keberadaan Kelvan yang akhirnya dia temukan baru saja keluar dari satu ruangan, lengkap mengenakan setelan pakaian. Teringat kalau hubungan mereka telah berjarak, Livia menjadi kikuk berdiri di sana.


Kelvan yang terkejut tadinya pun berkata, "Tinggallah di sini beberapa hari untuk memastikan kalau teman Anda tidak mengikuti lagi."


"Tidak apa-apa. Saya akan pulang sekarang, karena ada pekerjaan yang harus dilakukan."


Kelvan terdiam beberapa saat. "Baiklah. Biarkan saya mengantarkan Anda."


Livia bingung dengan situasi mereka, apakah dia harus berbicara pada saat ini atau diam saja?


Keraguan yang berlangsung lama mengantarkan dia pada rumah.


Jadi, akhirnya mereka akan berpisah tanpa mengatakan apa pun selama perjalanan?


"Kita sudah sampai," ucap Kelvan.


"Oh, ya. Saya akan segera turun."


__ADS_1


__ADS_2