
Livia mengembuskan napas perlahan. Dia bangkit dengan gerakan teratur yang sudah diajarkan instruktur yoga, lalu menyelesaikan olahraga ringannya pada hari itu. Baru kemudian, dia berkemas dan meninggalkan tempat pelatihan.
"Anda sudah selesai?" tanya sang instruktur.
Hari ini bukan jadwal untuk melatih, tetapi para wanita hamil diizinkan menggunakan ruangan. Maka dari itu, mereka yang berpapasan membuat dia cukup senang dengan kegigihan Livia.
"Oh, Anda datang?"
Instruktur yang mana adalah wanita itu menganggukkan kepala sambil tersenyum. "Ada barang yang tertinggal kemarin dan saya harus menjemputnya sekarang. Bagaimana dengan Anda?"
"Saya cukup gugup menghadapi hari kelahiran nanti. Tidak ingin stress memikirkannya, jadi saya berpikir melakukan yoga sebentar."
"Itu langkah yang sangat bagus. Melakukan yoga memang dapat mengurangi stress. Ngomong-ngomong, Anda datang seorang diri?"
"Ah, ya ... sekarang bukan hari di mana kita berlatih yoga. Suami saya tidak menyesuaikan jadwalnya dan putri saya juga memiliki jadwal yang tidak stabil."
"Begitu rupanya. Kalau begitu, Anda akan pulang seorang diri? Bagaimana jika saya yang mengantarkan? Kebetulan saya membawa mobil hari ini."
"Saya sangat berterima kasih atas perhatian Anda, tapi sepertinya jika saya jalan santai akan semakin bagus di trimester terakhir ini."
__ADS_1
"Memang benar, tapi berjalan dari sini ke rumah Anda bukan lagi jalan santai namanya."
Livia tertawa kecil. "Harus saya akui kalau perkataan Anda sangat tepat. Saya akan menghubungi suami saya jika sudah tidak sanggup lagi berjalan. Anda tidak perlu khawatir."
"Melihat bagaimana perlakuannya terhadap Anda di sini, saya berpikir kalau suami Anda akan segera datang ketika diminta. Beruntung sekali. Jika itu suami saya, dia akan mengatakan kalau saya adalah wanita mandiri yang bisa melakukan apa saja sendiri. Padahal, di saat hamil yang kita butuh adalah perhatian dari suami, bukan?"
Livia tersenyum, lantas menganggukkan kepala. "Saya harus pergi sekarang."
"Oh, baiklah. Tanpa sadar saya berkata banyak."
Sang instruktur tertawa, Livia pun.
"Anda harus pastikan untuk berhenti setiap kali merasa lelah dan berhati-hati di jalan. Hubungi saya kapan saja ketika Anda butuh."
"Terima kasih banyak."
Perbincangan mereka usai, Livia kembali pada aktivitasnya. Dia tidak hanya berjalan santai, karena singgah ke beberapa tempat terlebih dahulu. Bukan sesuatu yang istimewa sebenarnya, hanya mencuci mata sambil melihat-lihat lingkungan sekitar.
"Selamat datang."
__ADS_1
Seorang pegawai toko menyambut kedatangan. Livia dibawa melihat pernak-pernik lucu. Hal itu membuat dia teringat pada Nea yang suka memakai jepitan rambut. Dia yang tidak berniat untuk membeli, akhirnya memutuskan untuk membawa pulang beberapa.
"Bagaimana dengan ini, Tuan?"
"Saya tidak menyukai warnanya."
Livia mendengar percakapan pegawai lain dengan seorang pelanggan. Mulanya, dia tidak begitu peduli, akan tetapi mendengar suara yang sebenarnya familier membuat penolakan dalam diri Livia beralih menatap pelanggan itu.
Livia melebarkan mata, tidak menduga dengan pertemuan mereka. Sementara pelanggan tersebut menatap pula ke arahnya. Begitu aneh ketika dia tidak diacuhkan seolah mereka tidak pernah saling mengenal.
Livia bergegas pergi, meninggalkan barang-barang yang belum dibayar. Dia dengan langkah gontainya menyeret kaki keluar toko, mendapati pelanggan itu sudah berada jauh darinya.
"Kenzi!" teriaknya.
Namun, pelanggan yang diyakini sebagai Kenzi tidak menoleh sama sekali, berapa kali pun Livia memanggil. Kini dia kebingungan, kenapa Kenzi bersikap seperti orang asing?
Ingin melenyapkan keraguan, Livia segera mengambil ponsel untuk menghubungi Kenzi. Tetapi nomor yang dihubunginya ditemukan sudah tidak aktif lagi.
"Kenzi seharusnya tidak berpenampilan buruk," gumamnya.
__ADS_1