Duda Beranak Satu

Duda Beranak Satu
Berdamai pada Keadaan


__ADS_3

Pagi hari yang melegakan, Kelvan dapat tersenyum cerah dalam kehangatan hati. Para pegawai juga dapat melihat pancaran yang berbunga-bunga dari pria sudah beristri itu.


Senyuman perlahan lenyap menjadi ekspresi serius ketika Kelvan berhasil sampai di ruang kerja. Dia melihat Jennifer yang seolah sedang menanti-nanti kedatangannya.


"Kelvan," ucap Jennifer.


Pertemuan mereka pastilah ingin membahas kejadian kemarin. Kelvan dan Jennifer memutuskan untuk berbicara di luar perusahaan. Bagi mereka lebih nyaman begitu, suasana yang tidak begitu serius jika berada di perusahaan karena harus menghindari pandangan para pegawai jika mereka di satu ruangan dalam waktu lama.


Mereka duduk berhadapan ditemani dua cangkir minuman. Kelvan masih menunggu Jennifer untuk bicara lebih dulu, karena dia masih tidak habis pikir kalau semua kenyataan disembunyikan dari dirinya.


"Mengenai kemarin, aku sungguh minta maaf, termasuk kejadian di masa lalu," ucap Jennifer.


"Aku tidak bisa membencimu karena hal itu. Kau pasti memiliki pertimbangan sendiri kenapa memilih untuk menyembunyikannya dariku. Lagi pula, semua telah berakhir di antara kita. Kemarin adalah waktu di mana kita benar-benar menyelesaikannya setelah menggantungnya begitu lama."


Jennifer menganggukkan kepala dengan pelan, tersirat penyesalan di wajah yang menunduk itu. Apa yang dipikirkan kini bukanlah tentang perasaan, melainkan tentang dirinya harus bagaimana di masa depan.

__ADS_1


Kelvan tidak ingin pertemuan mereka hanya dihiasi oleh penyesalan atau cerita masa lalu, jadi berkata, "Aku melihat berita tentangmu pada saat itu. Kau berhenti dari impianmu dan menjalankan sebuah bisnis."


"Ya, benar. Banyak hal terjadi yang tidak aku katakan padamu."


Kelvan tersenyum. "Jadi, apa rencanamu selanjutnya? Mungkin, kita bisa bekerja sama untuk urusan bisnis?"


"Sangat menyenangkan jika itu terjadi, tapi sepertinya aku tidak bisa. Aku berpikir untuk mencari kehidupanku di luar negeri dan membuka cabang bisnis di sana."


"Kenapa tiba-tiba?"


Kelvan ingin menenangkan kesedihan namun sepertinya hal itu hanya akan membuat Jennifer semakin sedih. Dan lagi, tidak ada harapan yang bisa diberikannya.


"Kau menemuiku untuk berpamitan?"


"Aku juga ingin menemui Nea untuk menjelaskan kesalahpahaman di antara kami. Dan juga, Livia ... kau pasti mengalami kesulitan karena pertemuan kita. Aku ingin menjelaskan tentang kita yang sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi."

__ADS_1


"Kau akan menetap di luar negeri?"


"Sepertinya begitu. Seorang kenalan di sana sudah mencarikan tempat tinggal untukku. Surat-surat kepindahanku juga hampir seratus persen selesai."


"Aku berharap kau memiliki kehidupan yang baik selama di sana."


"Aku mengharapkan hal yang sama untuk kehidupanku dan mungkin ... kisah cintaku? Setidaknya, jangan sampai pahit lagi."


Jennifer tersenyum, begitu pula Kelvan. Mereka saat ini sama-sama menertawakan diri sendiri di dalam hati. Siapa yang bisa menebak soal takdir?


Jennifer mengulurkan tangan. "Terima kasih atas semua yang kau berikan padaku selama ini."


Kelvan menatap tangan Jennifer. Dia tidak tahu kalau kisah cinta yang pernah menjadi bagian dari kebahagiaannya akan berakhir dan orang yang dipikirkannya akan menjadi istri sekaligus ibu dari Nea tidak sejalan dengan takdir. Pada akhirnya, dia harus menjabat tangan itu, merelakan perpisahan pada kisah cintanya sekali lagi.


"Terima kasih sudah pernah mengisi kehidupanku, Jenn."

__ADS_1



__ADS_2