Duda Beranak Satu

Duda Beranak Satu
Pasca-Melahirkan


__ADS_3

Kelvan begitu gugup menanti di luar ruangan, sedangkan Nea baru datang setelah mendapatkan kabar kalau adiknya akan lahir sebentar lagi. Detik-detik menegangkan sekaligus mendebarkan, harapan mereka agar ibu dan bayi selamat dan sehat.


Suara tangisan sepertinya adalah waktu di mana setiap orang bisa mengakhiri perasaan tidak keruan itu. Sesuai harapan bahwa proses melahirkan berjalan lancar. Tawa, haru, bahagia mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan suasana.


Mereka memiliki bayi laki-laki yang diberi nama Vian. Tidak ada hari paling menbahagiakan bagi mereka bertiga selain ketika dititipkan jiwa dengan kehidupan baru.


Hari-hari paling sibuk juga dimulai. Nyatanya, Kelvan masih belum terbiasa dalam persoalan mengurus anak meski dia dan istri pertamanya sudah memiliki Nea. Tetapi setidaknya, Kelvan lebih tahu dari Livia sehingga bisa membantu ketidaktahuan mereka sedikit banyak.


"Mister Kelvan."


Kelvan langsung mengangkat kepala. Saat membuka mata, para penghuni rapat hanya menatap ke arahnya. Ivon yang memanggil dari mimpi yang sempat digapai pun menunjukkan raut wajah kebingungan. Bagaimana tidak? Baru kali ini dia tertidur ketika rapat.


"Sepertinya, pasca-melahirkan membuat Anda sibuk juga di rumah," ucap Ivon, mengundang senyuman di wajah mereka yang ada di sana.

__ADS_1


Kelvan tersenyum. "Kau akan merasakannya setelah menikah nanti, Ivon."


Senyuman orang-orang berubah menjadi tawa, tidak terkecuali Ivon. Rapat diselesaikan sampai di sana. Kelvan langsung pulang setelah itu.


Sampai di rumah, dia mendengar suara tangis putranya. Cukup janggal baginya saat melihat Livia berada di ruangan yang sama, tetapi tidak menenangkan Vian, justru tidur terlelap.


"Livia," panggilnya. "Vian menangis."


Livia mengernyitkan alis. Dia tahu kalau suaminya sudah pulang namun enggan membuka mata. Dan hal itu membuat Kelvan mengambil alih menenangkan putra mereka.


Menyinggung soal mengurus bayi, Kelvan jadi teringat ketika Nea lahir dulu. Hal yang sama juga terjadi di mana dia dan istri pertamanya kewalahan menghadapi Nea yang tidak bisa tenang. Tidak menyangka jika dia akan mengalami masa itu kembali.


Kelvan mematikan air. Pada saat itu, dia mendengar suara tangisan dan membuatnya bergegas keluar dari kamar mandi. Pemandangan yang sama seperti tadi, Livia membiarkan putra mereka menangis tanpa ada niat untuk menenangkan.

__ADS_1


"Livia, bangunlah. Vian sepertinya lapar."


Bukannya mengindahkan perkataan, justru Livia membelakangi sang suami. Sekali lagi tangisan Vian ditenangkan oleh ayahnya.


Kini Kelvan yang masih dalam keadaan telanjang dada menatap istrinya. Dia berpikir ada yang salah. Awalnya, dia mengira kalau Livia sangat lelah dan membutuhkan istirahat sebentar. Tetapi sampai tangisan Vian yang ke dua, tidak terlihat sedikit pun niat Livia untuk menenangkan.


"Livia, kau tidur? Bisakah kita bicara sebentar?"


Tidak adanya pergerakan membuat Kelvan bicara kembali, "Aku rasa kau sudah keterlaluan. Vian membutuhkanmu, tapi kau sama sekali tidak peduli. Apa kau tidak ingin menjelaskan sesuatu padaku?"


Kelvan menjadi kesal, karena masih tidak diacuhkan. Dia naik ke ranjang agar dapat meraih bahu Livia, lalu menariknya untuk menghadap ke arahnya. Dia terkejut, melihat air mata sudah mengalir deras di pipi Livia.


...***...

__ADS_1


...Hai, terima kasih banyak atas dukungan kalian terhadap karya ini....


__ADS_2