Duda Beranak Satu

Duda Beranak Satu
Pernyataan Cinta


__ADS_3

Nea melambaikan tangan pada mobil Jennifer yang baru saja pergi. Dia mengeratkan pegangan pada tali tas, memikirkan tentang sikapnya yang buruk selama ini. Namun, apa boleh buat? Semua telah terjadi dan hubungan di antara mereka sudah diperbaiki.


Saat membalikkan badan, Nea terperanjat mendapati Danish ada di depan rumahnya. "Kau! Apa yang kau lakukan di sini dengan tampang kusut itu?"


"Aku hanya tidak sengaja lewat, melihatmu turun dari mobil seorang wanita."


"Tidak sengaja lewat? Memangnya, dari mana sebelumnya?"


"Kau habis dari mana?"


"Aku menanyakannya lebih dulu padamu."


"Rumah seorang teman. Tidak jauh dari sini. Bagaimana denganmu?"


"Aku ditahan oleh Tania begitu lama. Dia berkata kalau aku tidak boleh pulang sekarang. Tapi aku kabur melewati jendela tanpa sepengetahuannya. Entah kenapa, dia tidak bertingkah seperti biasa."


"Pasti ada alasan di balik itu. Oh, kalau dipikir-pikir, bukankah Tania memang sangat aneh?"


"Apa maksudmu?"


"Saat kita liburan, dia seringkali menelepon sambil mengendap-endap."


"Mungkin saja, dia sudah memiliki pacar?"


"Hmmm, mungkin saja."

__ADS_1


Nea menyipitkan mata. Dia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, lalu tersenyum jahil. "Jangan bilang kau menyukainya?"


Danish menyeringai. "Dia bukan tipeku!"


Setelah berkata, Danish melangkah pergi, sedangkan Nea yang masih ingin bicara pun mengikuti.


"Kalau begitu, seperti apa tipe yang kau suka? Aku mungkin bisa mencarikannya untukmu. Ada banyak anak perempuan di kampusku."


"Kau berkata seolah di kampusku hanya ada anak laki-laki saja."


"Kalau begitu, tidak ada yang kau suka dari mereka?"


Danish berhenti tiba-tiba, membuat Nea harus memundurkan langkah.


"Dibandingkan itu, memangnya kau ingin mengantarkanku pulang?"


"Nea!"


Nea menoleh ke belakang, masih melihat Danish di posisi tadi. Dia mengerutkan dahi seolah ekspresinya ingin menuntut jawaban.


"Aku suka tipe sepertimu."


Nea tertegun, berpikir apa dia sudah salah dengar? Danish berkata menyukai tipe anak perempuan sepertinya.


"Hanya ada satu Nea di muka bumi ini!"

__ADS_1


Jauh di sana, Danish bergumam, "Bodoh." Nyatanya, Nea tidaklah peka untuk mengetahui maksud dari perkataannya.


"Kau tidak akan menemukan tipe seperti itu selain diriku!"


Danish membawa langkah kembali menuju Nea. Dia tidak tahu kalau dirinya harus berkata secara terang-terangan agar Nea bisa mengerti maksud dan tujuannya berkata demikian.


"Kalau begitu, kau saja."


Nea melebarkan mata. "A—apa?"


Danish yang serius itu harus digagalkan oleh insiden buku melayang ke kepala. Dia hampir saja jatuh kalau tidak dapat menahan diri.


"D—danish!" teriak Nea.


Danish dan Nea sama-sama menoleh ke arah rumah, di mana kemungkinan besar pelaku yang melemparkan buku ada di sana. Tetapi sebelum itu lebih dulu melihat Livia berlari ke arah mereka.


"Bukuku!" Livia memungut bukunya.


"A—ayah?!" Nea bisa melihat kemarahan di wajah ayahnya sekarang, tetapi dia sangat kesal atas tindakan sembrono yang merugikan Danish. "Keterlaluan!" ucapnya geram.


Suasana yang berubah semakin buruk membuat Livia segera berkata, "Danish, kau tidak apa-apa?"


Danish mengusap kepalanya, tidak begitu nyeri lagi. Untung saja buku yang dilemparkan tidak tebal. "Saya tidak apa-apa," ucapnya.


"Cepatlah pulang sebelum suasananya semakin buruk."

__ADS_1


Danish memperhatikan tatapan anak dan ayah itu, terlihat seperti sengatan listrik menyambar-nyambar. Memang benar, kalau dia harus pergi sebelum disengat oleh ayahnya Nea.



__ADS_2