Duda Beranak Satu

Duda Beranak Satu
Masa Remaja


__ADS_3

...Hai, Renko harap kalian tidak hanya menikmati cerita Livia dan Kelvan, tetapi juga Nea dan Kenzi. Masa remaja adalah waktu yang manis~...


...Kalian punya cerita apa pada masa itu?...


...Kalau Renko masa digigit semut. Bukan semut besar, tapi semut cinta ><...


...***...


Mereka tidak langsung menikah setelah mendapatkan restu dari nenek. Livia meminta agar pernikahan mereka diselenggarakan setelah dirinya selesai dengan pekerjaannya. Kelvan sendiri tidak menganggap permintaan itu sebagai sesuatu yang sulit.


Selama itu, Livia mendorong Kenzi agar mau belajar dengan giat. Buah dari usaha keras mereka mendapatkan perhatian orangtua Kenzi. Di sana Kenzi mendapatkan momen yang pas untuk melakukan saran Kelvan.


Meskipun mengungkapkan perasaan bukan sesuatu yang familier dilakukan, tetapi Kenzi tetap mencoba. Kabar baiknya, kedua orangtuanya menerima dan mencoba untuk memperbaiki keadaan keluarga mereka.


Nea sendiri ikut serta dalam acara kelulusan di sekolah. Dia langsung menghubungi Kenzi untuk menanyakan perihal lulus atau tidaknya anak itu, tetapi tidak ada jawaban, karena memang pada saat yang bersamaan Kenzi sibuk menghabiskan waktu dengan orangtuanya. Jadi, dia menanyakannya pada Livia. Dia sangat senang mengetahui kalau Kenzi ternyata dapat melewati waktu yang sulit.


Kebahagiaan anak-anak yang lulus hanya berlangsung satu hari. Setelah hari berlalu, mereka harus memikirkan masa depan. Tidak hanya satu atau dua orang anak yang memiliki orangtua kompetitif, menginginkan yang terbaik untuk anaknya.


Mungkin Nea akan baik-baik saja, karena Kelvan tidak begitu menekan putrinya soal pelajaran. Tetapi berbeda dengan Kenzi yang harus menurut ketika diminta melanjutkan pendidikan ke luar negeri, di samping mereka juga harus pindah dengan alasan pekerjaan orangtua.


Nea tidak bisa menerima. Dia langsung pergi menemui Kenzi yang akhir-akhir itu susah ditemui. Meskipun harus menunggu semalaman atau harus menghabiskan baterai ponselnya untuk menghubungi.


Kenzi tidak menyangka kalau dia akan menemukan Nea di depan rumahnya, dalam keadaan kedinginan. Entah sudah berapa lama anak itu menunggu. Dia pun membawa Nea masuk ke dalam rumah bersamanya.

__ADS_1


Nea memperhatikan sekeliling, baru kali ini masuk ke rumah Kenzi. Dia cukup terkejut melihat ruangan yang hampir kosong. Anak itu ... akan benar-benar pindah rupanya.


Kenzi mengeluarkan dua kaleng soda dari kantong plastik. Dia membelinya di minimarket saat berada dalam perjalanan pulang. Tadinya ingin dia habiskan sendiri, tetapi karena Nea datang membuat dia harus membaginya.


Kenzi memberikan soda yang sudah dibukanya, lalu duduk di lantai sebelum membuka sodanya pula. Dia meneguk isinya perlahan.


"Jadi, kabar mengenai dirimu pindah benar adanya?"


"Benar."


"Apa kau benar-benar akan pergi?"


"Ya. Aku harus pergi."


Nea duduk sambil mengangkat kedua lutut di samping Kenzi, bersandar ke tepi dinding. Dia memperhatikan kaleng soda yang digenggam dengan kedua tangan, belum ada niat untuk meminumnya.


"Ke mana kau akan pindah?"


"Aussie."


"Berapa lama?"


"Tidak tahu."

__ADS_1


"Kau akan kuliah di sana?"


"Sepertinya."


"Aku akan meminta ayah untuk mengirimku juga ke sana."


Kenzi bangkit dari lantai, memandang Nea yang duduk di bawah sana. "Kenapa?"


Nea dapat melihat ekspresi tidak suka di wajah Kenzi, membuat dia sedikit terkejut. Tetapi suasananya sudah menjadi berantakan, untuk apa tetap bersembunyi dari perasaannya?


"Tidakkah kau mengerti? Karena aku ingin tetap bersamamu."


Kenzi menyeringai. "Kau sepertinya sudah salah paham. Jangan kira hubungan kita yang baik-baik saja membuatmu berpikir kalau aku menyukaimu. Sebaiknya kau pergi sekarang. Aku tidak berada dalam suasana hati yang baik untuk bicara."


Nea berdiri, menggenggam kaleng soda dengan kuat. Dia tidak bisa menunda-nunda. Tidak tahu setelah rumah ini kosong, apakah Kelvan juga akan menghilang.


"Ingin seperti apa pun mengusirku, aku tidak akan pergi! Kau sebenarnya juga menyukaiku, bukan? Kalau tidak, kenapa diam saja ketika aku dekati? Kenapa kau tersenyum dan tertawa di depanku? Dan sekarang, kau ingin membuatku benci padamu agar aku tidak begitu sedih melihatmu pergi?"


Nea menghirup napasnya dalam-dalam. "Kau kira, aku tidak tahu jalan pikiranmu?!" teriaknya, mengerahkan seluruh perasaannya.


Kemudian air mata mulai mengaliri pipi. Nea tidak menghapusnya, membiarkan perasaannya diketahui sampai ke akar. "Jangan membuatku benci padamu, karena itu sangat menyakitkan," ucapnya dengan suara bergetar.


__ADS_1


__ADS_2