
Nea sangat yakin kalau yang dilihatnya tadi adalah Kenzi. Dia bergegas menghentikan langkah yang semakin jauh jaraknya, merentangkan tangan, lalu menatap anak laki-laki di depannya dengan lekat.
"Kau Kenzi, bukan?"
Tania yang ikut menyusul pun berkata juga, "Nea, kau kenal dengannya?"
"Anda pasti salah orang."
Nea dengan cepat menarik tangan yang hendak pergi lagi darinya, lalu dengan cepat mengatakan, "Tidak! Aku tidak mungkin salah orang! Kau adalah Kenzi!"
"Nea?"
Suara dari arah lain mengalihkan perhatian. Danish muncul dengan tampang kebingungan melihat situasi saat ini di mana Nea memegang tangan seseorang. Dalam pikiran bertanya-tanya, bersama siapa Nea sekarang?
Yang dianggap Kenzi menarik tangannya dengan kuat, terlihat sangat kesal ketika membalikkan badan dan pergi dari sana. Sementara Nea hanya memandangi saja tanpa mengubah titik fokus.
"Dia siapa?" tanya Danish yang telah berdiri di samping Nea.
Nea hendak mengejar kembali namun ditahan. Dia menolehkan kepala, memperhatikan Danish yang masih penasaran akan jawaban tentang siapa anak laki-laki tadi. Untuk sekarang, dia tidak tahu harus mengatakan bagaimana, karena diri sendiri juga diliputi kebingungan.
Nea melepaskan tangan yang menggengam pergelangannya, kemudian tanpa kata melangkah pergi. Tidak tahu kapan akan bertemu lagi, dia harus menghentikan Kenzi sekarang.
Ketika Nea berbelok, dia langsung mundur dan bersembunyi di balik tembok. Dia menemukan apa yang dicari namun harus dibuat terkejut dengan keberadaan Kenzi bersama seorang perempuan. Mereka berdua tampak sedang berbincang dan begitu akrab, ditambah lagi melihat mereka saling berpelukan yang bahkan dia sendiri belum pernah merasakannya.
Keinginan untuk mencari jawaban lenyap begitu saja berubah menjadi kekecewaan. Nea berharap kalau dia tidak pernah melihat sosok yang mirip seperti Kenzi hari ini. Maka lebih baik baginya pergi sekarang.
Tidak jauh dari sana, dia melihat Danish kembali. Perasaannya sulit untuk dideskripsikan dan betapa dia ingin menangis.
Dia begitu bodoh, suka pada orang yang tidak pernah menyukainya.
__ADS_1
Dia begitu bodoh, masih berharap celah untuknya di hati Kenzi setelah sekian lama.
Dia begitu bodoh, membayangkan anak laki-laki itu kini.
Danish yang melihat raut wajah buruk Nea hanya mengembuskan napas. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi, meskipun begitu tetap menghibur sebagai teman dengan mengantarkan Nea pulang.
"Kau sangat kaya, kenapa memilih berjalan kaki?" tanya Nea.
"Apa kau ingin naik taksi? Kita bisa menghentikannya satu."
"Bukan itu yang aku maksud."
Danish diam beberapa saat, berpikir kalau pertanyaan Nea bukanlah topik yang penting untuk dibahas. Tetapi karena anak itu kini butuh dihibur, jadi dia akan menuruti untuk kali ini saja.
"Karena aku lebih suka berjalan kaki."
"Hanya itu?"
"Kenapa aku tidak puas dengan jawabanmu, ya?"
Danish mengangkat kedua bahu. Dia melirik Nea yang memandang lurus ke depan, sangat membuatnya penasaran.
"Sepertinya aku akan mati penasaran."
Nea yang berjalan itu mendongakkan kepala, memperhatikan Danish yang berjalan di sampingnya. "Mati penasaran?"
"Kau tidak menjawab pertanyaanku sama sekali tentang siapa anak tadi."
Nea perlahan memutar kepala mengarah ke depan kembali. "Aku memiliki seorang teman yang sekarang tinggal di luar negeri. Anak tadi sangat mirip dengannya."
__ADS_1
"Setiap orang memiliki tujuh saudara kembar di dunia, begitu katanya. Mungkin kau salah lihat. Seperti yang kau katakan tadi, dia tinggal di luar negeri, tidak mungkin datang ke sini dalam sekejap mata."
"Kau benar."
...***...
Kenzi sempat melihat ke arah tembok, tidak menemukan siapa-siapa di sana. Hatinya mengatakan bahwa ada yang mengintip. Apa itu anak perempuan tadi? Jika memang benar, maka dia tidak perlu menghiraukannya.
"Kenzi, kita pergi sekarang?"
Kenzi menolehkan kepala. "Baiklah," ucapnya, pada anak perempuan yang dia peluk.
"Akhirnya kita bisa bertemu juga. Oh, lihatlah! Aku memakai hairpin yang kau belikan waktu itu untukku. Apa aku terlihat cantik?"
"Cantik."
Mereka pun melangkah pergi sambil berbincang, karena sudah cukup lama bagi mereka tidak bertemu.
"Ngomong-ngomong, di kampus kami memiliki seorang anak berandal. Padahal, dia sangat kaya dan juga cantik. Sangat disayangkan, dia terjerumus dalam pergaulan yang tidak baik. Nea seharusnya berteman dengan anak sepertiku."
Kenzi mengerutkan dahi. "Nea?"
...***...
...Apa tidak ada yang rindu sama Renko? Kenapa DBS adem sekali?...
...Maaf, ya. Renko baru sempat menulis lagi. Semoga kalian menikmati karya ini. Kata terima kasih tak pernah absen...
...(☆^O^☆)...
__ADS_1