
Sarapan pagi menjadi aktivitas yang disambut setelah hari pernikahan. Livia melakukan pekerjaan rumah itu bersama seorang bibi yang biasanya mengerjakan kegiatan rumah tangga, meskipun dapur harus dihiasi penolakan Livia terhadap sang nenek yang keras kepala ingin ikut pula dalam kegiatan memasak. Dia tidak ingin neneknya repot, cukup beristirahat untuknya.
Namun, sikap Livia sangat berbeda dari biasanya, hanya berlaku pada Kelvan. Nea cukup bingung dengan interaksi antara kedua orang itu di meja makan, akan tetapi tidak bertanya lebih lanjut lantaran harus berangkat ke kampus.
Kelvan merasakan perbedaan itu. Livia tidak mau menatap matanya, bahkan seperti mengusirnya untuk segera pergi ke kantor. Dia bertanya-tanya, kesalahan apa yang telah dilakukannya sampai Livia berubah drastis menjadi sosok yang dingin?
Apa memang sifat Livia yang begitu? Apa dia kurang mengenal Livia? Atau ...
"Livia," ucap Kelvan sesaat meja makan sudah selesai dibereskan. "Bisakah kita bicara sebentar?"
Livia enggan namun akhirnya menatap ke arah Kelvan. "Bicara apa?"
"Ada nenek dan bibi di sini."
"Memangnya kenapa jika ada mereka?"
Nada suara yang dingin membuat Kelvan sedikit terkejut seakan-akan dia telah kehilangan sosok Livia yang hangat.
"Aku tidak ingin apa yang akan aku bicarakan terdengar oleh mereka, karena pembahasan ini akan menjadi sesuatu yang pribadi."
Livia menoleh pada neneknya yang sesekali mencuri pandang ke arah mereka. Meskipun suasana hatinya tidak baik saat ini, dia harus memikirkan neneknya yang mungkin akan khawatir.
__ADS_1
"Kita bicara di luar saja."
Kelvan memandang punggung yang pergi menjauh, lalu memutuskan untuk mengikuti. Di luar bukan tempat yang tepat untuk bicara hal penting, akan tetapi lebih baik dibandingkan di depan orang lain.
"Apa yang ingin kau bicarakan?"
Kelvan tidak suka dengan situasi di mana Livia menjadi sosok asing sebenarnya.
"Kau marah padaku?"
"Tidak. Memangnya atas dasar apa aku marah padamu?"
"Lalu, apa yang membuatmu bersikap lain dari biasanya?"
"Kau begitu berbeda dari Livia yang aku kenal dan itu membuatku takut."
Livia meremas pakaiannya. Dia juga tidak tahu kenapa harus bersikap seperti bukan dirinya. Tetapi dia juga merasa tidak nyaman dengan apa yang dirasakannya sehingga begitu cara dia melampiaskan.
"Apa ini karena pembahasan kita tadi malam?"
Mungkin benar. Sikap dinginnya terjadi karena pembahasan mereka tadi malam. Entah mengapa, Livia tidak ingin mengakui.
__ADS_1
"Benar, bukan?"
"Tidak."
"Kalau begitu, apa yang membuatmu bersikap seperti ini?"
"Aku memang seperti ini, Kelvan."
Kelvan terdiam untuk beberapa saat sebelum mengatakan, "Baiklah. Aku mengerti. Aku akan pergi bekerja."
Kelvan hendak mengecup pipi Livia namun tidak disangka akan ditolak. Dia tidak berpikir buruk mengenai penolakan, mungkin Livia tidak suka jika dia melakukan itu ketika akan pergi. Jadi, dia menarik diri dari niatnya.
"Sampai bertemu lagi nanti," ucap Kelvan.
Livia terdiam seribu bahasa, hanya memandangi bagaimana Kelvan pergi. Dia merasa sedih atas sikapnya sendiri. Dia tahu seharusnya tidak begitu. Sekarang Kelvan pasti kepikiran mengenai dirinya yang seperti anak kecil ini.
Padahal, ini adalah permulaan bagi mereka menjadi sepasang suami istri. Dia sebagai pasangan hidup harus memikirkan tentang hubungan mereka, bukan lagi tentang perasaan siapa.
Apa salah jika dia kesal akan kejadian tadi malam? Kelvan begitu egois, tidak menanyakan pendapatnya mengenai bagaimana malam pertama pernikahan harus dijalani. Nyatanya dia sama sekali tidak lelah dan sangat bersemangat! Dia dan harga diri yang tinggi membuat dia tidak bisa mengungkapkan keinginan hati secara gamblang.
"Kelvan, kau sangat menyebalkan," gumam Livia.
__ADS_1