Duda Beranak Satu

Duda Beranak Satu
Datang ke Perusahaan


__ADS_3

Kencan mereka di gunung baru saja usai. Livia memperhatikan tampilan foto di ponsel. Mereka mengambil gambar banyak sekali. Sementara Kelvan yang menyetir sesekali menoleh pada sang istri, lalu tersenyum.


"Ini foto pertamaku bersamamu," ucap Livia. "Seharusnya dari mereka ada yang bisa aku terapkan sebagai wallpaper."


"Ah, kita belum pernah mengambil foto sebelumnya." Kelvan membenarkan.


Livia yang bergeming menatap layar ponsel menganggukkan kepala. "Kita tidak terpikirkan pada saat itu, karena status sebagai pasangan kekasih pun berjalan singkat."


Livia menyimpan ponsel ke dalam tas, mengembuskan napas panjang seraya bersandar ke belakang. "Punggung dan kakiku sakit sekali setelah bergaya di depan kamera. Apa para model juga akan merasakan hal yang sama seperti ini?"


Kelvan memperhatikan gerakan sang istri yang berusaha menurunkan kursi, akan tetapi tidak kunjung berhasil. Dia pun menepikan mobil sebentar agar dapat membantu.


Livia sendiri hanya terpaku pada sosok pria yang melewati tubuhnya. Mereka sangat dekat dan membuat dia menahan napas, terlebih ketika Kelvan menolehkan kepala padanya.


Tatapan pria itu terasa lain, mendebarkan dada. Livia tidak hanya sekali menatap Kelvan dengan jarak singkat seperti sekarang dan tidak sekali pula dibuat terpukau.

__ADS_1


Entah kenapa, dia jadi teringat akan kejadian semalam. Mata yang menatapnya intens, hidung yang mengendus ceruk lehernya, bibir yang menggoda wajahnya dengan napas yang panas, semua itu menjadi satu kesatuan dalam pikirannya.


"Livia."


Suara itu juga ....


"Kelvan ...."


Mungkin dengan jarak sedekat itu, orang-orang akan berpikir kalau mereka akan segera berciuman, tetapi yang terjadi justru di luar dugaan. Tubuh Livia perlahan turun ke bawah hingga telentang. Jarak mereka yang dekat tadi berubah sangat jauh sekejap mata.


Livia tersenyum pahit. Ternyata hanya dia yang berfantasi, sedangkan Kelvan yang memanggil namanya dengan suara karismatik nan menggoda itu hanya ingin mempertanyakan tentang kenyamanannya.


"Aku rasa sudah cukup. Terima kasih banyak."


"Kau bisa beristirahat selama perjalanan. Aku akan membangunkanmu nanti setelah sampai."

__ADS_1


"Lebih baik begitu supaya aku tidak memikirkan hal yang berat," ucap Livia, masih tersenyum pahit.


Kelvan mengendarai mobil kembali. Mereka bukan pulang, karena sudah sepakat untuk singgah ke perusahaan sebentar. Tadi Kelvan langsung membawa Livia pergi berkencan, jadi masih perlu menuntaskan pekerjaannya. Awalnya, Kelvan akan mengantarkan sang istri kembali ke rumah namun Livia berkata ingin ikut dan melihat bagaimana suaminya bekerja di perusahaan.


Sampai di perusahaan, Kelvan ingin membangunkan istrinya. Dia jadi tidak tega, karena Livia terlihat lelah. Mereka melakukan hubungan intim tadi malam, begitu pula untuk pagi yang tidak hanya sekali. Dia harus katakan kalau dirinya tidak dapat menahan diri.


Pada akhirnya, Kelvan memutuskan pergi sendiri. Dia membiarkan Livia beristirahat, sedangkan dia akan menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Lagi pula, dia tidak datang untuk sesuatu yang lama, karena khusus hari ini sudah menunda pekerjaannya.


Kelvan melakukan semua itu, karena dia merasa bersalah pada Livia yang menunggunya di saat seharusnya mereka menghabiskan waktu bersama. Di samping itu, dia berterima kasih, karena Livia sangat mengerti.


Anggapan Ivon salah bahwa Livia bukan sosok yang dewasa, justru sebaliknya. Hal-hal seperti ini tidak semua wanita dapat mengerti. Dan, ada banyak hal lainnya di mana Livia lebih dewasa darinya jika menyangkut putrinya.


Kelvan turun dari mobil, lalu beranjak pergi. Dia tersenyum hangat kemudian. "Livia," gumamnya. Dia tidak tahu kalau dirinya akan memiliki perasaan lebih seperti ini pada wanita itu.


__ADS_1


__ADS_2