
Nea mengerutkan dahi, tidak tahu hal apa yang akan dikatakan. Tiba-tiba membahas tentang guru privat dan sang ayah membuat dia kebingungan, padahal tadinya hanya berpikir kalau mereka akan menyinggung tentang persoalan pertemanan atau Kenzi akan meminta maaf atas sikap buruknya.
"Bu Livia dan ayah? Memangnya kenapa dengan mereka?"
Kenzi menganggukkan kepala. "Tidakkah kau mengendus sesuatu yang mencurigakan dari interaksi mereka berdua?"
"Apa sebenarnya yang ingin kau katakan?" Nea menyeringai, lalu mulai menikmati burger di hadapannya.
"Kau tidak berpikir kalau mereka mungkin terlibat dalam hubungan istimewa?"
Nea perlahan berhenti mengunyah. "Kau memintaku datang ke sini hanya untuk mendengarkan omong kosong?"
"Omong kosong? Tidakkah kau bisa melihat bagaimana aku mengantre dan membawakan pesanan ke hadapanmu dengan baik? Aku juga terpaksa tersenyum lebar hanya untuk membuatmu tetap berada di sini supaya mau mendengarkan aku. Bahkan, aku tidak pernah melakukan hal merepotkan ini seumur hidup."
__ADS_1
"Oh, jadi kau melakukan semuanya bukan karena benar-benar ingin berteman denganku?"
Nea bangkit, memasukkan burger yang dia makan ke dalam mulut Kenzi dengan paksa. Tadinya dia juga ingin menumpahkan minuman ke kepala orang yang berbohong padanya itu, akan tetapi dia sangat menyayangkan es krim yang ada di dalam minuman. Jadi, dia memutuskan keluar dari tempat itu saja.
Kenzi mengeluarkan burger dari dalam mulutnya, lalu meletakkannya ke atas meja. Dia mengeluh, sekaligus menyesal lantaran tidak bisa menahan emosi. Sekarang dia harus mengejar Nea dan memulai usahanya dari awal lagi.
"Nea, tunggu aku!"
"Jangan ikuti aku! Anggap saja kita tidak pernah bertemu dan kita tidak pernah bicara satu sama lain!"
Dalam usahanya menahan anak orang kaya yang sombong, Kenzi tidak sengaja melihat ke arah lain. Di sana dia mendapati orang yang seharusnya tidak boleh mereka temui di saat sekarang. Dia pun mempercepat langkah agar dapat menarik Nea.
Kenzi menyeret Nea sampai mereka bisa bersembunyi di balik pembatas yang berisi tanaman. Dari sana dia memantau ke arah Kelvan yang menunggu di luar sebuah gedung. Dia baru ingat kalau tempat janji mereka berada dekat dengan tempat Livia bekerja.
__ADS_1
Minuman Nea sudah mengotori pakaian sekolah dan hal itu membuatnya ingin berteriak. Untung saja, Kenzi menutup mulut Nea dengan cepat sehingga mereka dapat bersembunyi tanpa ketahuan.
Nea dapat melihat bagaimana mata anak laki-laki di depannya ini bergerak, bukan menatap padanya. Dia melirik ke arah yang dituju, tempat di mana ayahnya baru saja membukakan pintu untuk guru privat lamanya.
Nea memang terkejut, hanya saja tidak dalam posisi yang benar-benar bisa terkejut. Kenzi sudah mengalihkan semua itu akibat jarak mereka terlalu dekat hingga membuat dia berdebar.
Nea yang sudah tidak tahan pada situasi itu pun menggunakan giginya untuk menggigit. Dia kemudian berkata, "Kau sudah gila, ya?!"
Kenzi mengaduh kesakitan, langsung menatap pada arah sebelumnya. Dia bisa bernapas lega setelah mengetahui kalau Livia baru saja pergi.
Baru Kenzi menatap anak perempuan yang sudah berdiri itu. "Kau sudah gila, ya?!" ucapnya pula setelah sadar bahwa tangannya masih sakit.
"Apa?! Kau yang menarikku sampai membuat lututku terluka!"
__ADS_1
Kenzi menatap kedua lutut yang berwarna merah kini. Terlalu fokus pada Livia, dia sampai tidak sadar kalau sudah membuat Nea terluka.