
Kelvan membantu sang istri yang kebingungan terhadap blender. Livia tampaknya ingin membuat minuman sehat, karena isi dari blender hanya tampak buah-buahan segar. Di samping itu, dia juga melihat ponsel yang menampilkan satu menu. Dia berpikir kalau Livia sangat berjuang pagi ini.
"Aku tidak akan mengajarkanmu sebelum kita menyelesaikan masalah kemarin."
Livia terdiam beberapa saat. "Memangnya apa yang perlu diselesaikan?" ucapnya, tidak mampu menolehkan kepala.
"Kemarin kau pulang dengan Nea tanpa izin dariku. Kau tidak tahu bagaimana khawatirnya aku."
"Maaf."
Berkata begitu secara tiba-tiba, Kelvan sedikit terkejut. Dia yakin kalau yang seharusnya minta maaf adalah dirinya, bukan Livia.
"Suasana hatiku begitu buruk kemarin dan tanpa sadar melampiaskannya padamu. Padahal, aku tahu kalau tidak seharusnya bersikap seperti itu."
"Kau masih marah padaku?"
Livia menggelengkan kepala. "Aku menghindar, karena takut dengan keputusanmu yang mungkin akan menyelesaikan hubungan kita. Bagaimana jika pertemuan kalian akan membuatmu berpikir untuk pergi dariku? Aku tidak bisa membayangkan hal itu jika benar terjadi."
Kelvan mengira kalau Livia akan marah, akan tetapi pikiran itu tidak terbukti. Dia hendak membujuk istrinya agar mau memaafkan dia tadinya. Pada kenyataannya, Livia memiliki ketakutan tersendiri sehingga membuat jarak di antara mereka.
__ADS_1
"Livia, sepertinya aku harus mengatakannya padamu sekali lagi."
Livia akhirnya menatap mata Kelvan. "Mengatakan apa?"
"Bahwa aku mencintaimu."
Mendengarnya tiba-tiba di situasi seperti sekarang, Livia harus mengakui kalau dia berdebar. "A—aku juga mencintaimu," ucapnya.
Kelvan menipiskan bibir. "Jennifer hanyalah masa lalu bagiku. Meskipun aku pernah ragu terhadap hubungan kita di awal, tetapi aku harus mengatakan kalau semakin hari perasaanku terhadapmu semakin besar."
"Kau curang."
"Aku memiliki perasaan yang lebih besar darimu."
Kelvan berpikir kalau perasaannya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dia memeluk Livia, mengecup pucuk kepala wanita itu, membelainya dengan lembut.
Mereka saling berpelukan dengan perasaan yang hangat, lalu saling memandang sebelum akhirnya menempelkan bibir. Ciuman itu berjalan menyenangkan di hati keduanya, lembut dan penuh makna.
Mereka terhanyut sampai melupakan waktu dan keadaan. Di dalam dada hanya tersimpan bagaimana cara untuk mengungkapkan perasaan masing-masing. Gejolak di dada juga sulit untuk dipadamkan seolah menjadi nilai kesenangan tersendiri terhadap waktu mereka.
__ADS_1
Livia tersentak ketika Kelvan menyelusupkan tangan ke balik bajunya, membuat punggungnya merasakan geli bercampur hasrat. Sementara ciuman sudah berpindah menjelajahi kulit lehernya yang memanas.
"Kelvan? A—aku rasa kita harus menyudahinya." Livia mencoba untuk membuat jarak di antara mereka, mendorong Kelvan yang sulit dibuat beranjak darinya. "Kau sudah terlambat."
Kelvan segera menarik diri. Dia hampir melupakan rapat yang tidak bisa ditinggalkan. Semua berkat Livia sehingga dia harus terlambat.
Tapi ....
Hasratnya sedang menggantung dan membuat dia tidak rela untuk berpisah. Jantungnya yang berdebar seakan dihancurkan seketika, menyisakan kesedihan mendalam. Kenapa di saat genting seperti ini, waktu dan keadaan tidak berpihak padanya?
Kelvan memukul meja dapur dengan kepalan tangan. Dia harus melupakan ciuman mereka pagi ini dan melupakan niatnya untuk meneruskan percintaan mereka.
Melihat meja dapur dipukul serta raut wajah frustrasi suaminya, Livia langsung berkata, "Ke—kenapa?"
Kelvan yang tampangnya sangat kesal itu menatap Livia. "Aku kesal, karena kita tidak bisa melanjutkannya."
Livia tertawa kecil. "Kita bisa melanjutkannya nanti."
__ADS_1