Duda Beranak Satu

Duda Beranak Satu
Permintaan Maaf


__ADS_3

Nea berhasil kabur dari Tania. Tidak tahu kenapa begitu menahannya untuk menginap, padahal dia sudah berkata ingin pulang ke rumah saja. Dalam perjalanan, dia tidak sengaja bertemu dengan Jennifer. Entah apa wanita itu lakukan di dekat kampusnya, yang pasti sangat mencurigakan.


Nea pura-pura tidak mengenali, berjalan begitu saja ketika jarak mereka kian dekat. Mungkin, karena terlalu fokus menghindar, dia jadi tidak melihat sekeliling dengan baik. Dia hampir terserempet ketika hendak menyeberang. Untung saja, Jennifer dengan cepat menariknya dari jalanan.


Itu pengalaman menakutkan seumur hidup. Nea tidak bisa memikirkan hal lain kecuali orangtuanya yang mungkin akan bersedih hati saat mengetahui putri mereka mengalami kecelakaan mobil.


Nea yang membelalakkan mata membawa tatapannya pada Jennifer. Wanita itu tampak sangat khawatir. Kenapa? Kenapa membantunya setelah apa yang dia lakukan?


"Apa kau terluka?" tanya Jennifer, mencari-cari luka yang mungkin saja didapatkan.


"A—aku tidak apa-apa."


"Kau akan ke mana? Pulang ke rumah? Kalau begitu, biarkan aku mengantarkanmu."


Nea yang terlampau terkejut hanya bisa menurut. Jennifer menuntun agar putri dari mantan kekasihnya dapat duduk, baru kemudian mengambil tempat di bangku kemudi sebelum melajukan mobil.

__ADS_1


"Untuk apa kau datang?"


Jennifer terdiam, memikirkan cara terbaik untuk menghadapi Nea yang sulit dia dekati selama ini. Kalau dia mengatakan alasannya terus-terang, pasti Nea akan merespons dengan cara buruk. Mungkin, kalau dia mengambil langkah berbeda akan membuatnya mendapatkan hasil yang lebih baik.


"Aku tidak sengaja melewati jalan tadi dan berpikir bahwa pohon di sana sangat cantik sehingga membuatku ingin mengambil beberapa foto."


"Malam-malam begini?"


"Apa itu terlalu aneh? Meskipun gelap, tapi aku masih bisa memakai flash agar fotoku menjadi terang."


"Itu tidak akan membantu. Menggunakan flash pada malam hari hanya akan membuatmu terlihat seperti vampire."


"Kau tidak tahu?" Nea melipatkan tangan di dada. "Ternyata kau hanya bisa bergaya di depan kamera saja."


Jennifer tersenyum kecut. "Itu suatu kelebihan atau kekurangan?"

__ADS_1


"Kekurangan, karena jika aku mengatakan kelebihan, maka akan membuatmu besar kepala. Aku tidak ada niat untuk memuji orang yang telah menggoda ayahku."


Tidak adanya respons membuat Nea sedikit khawatir, berpikir kalau perkataannya mungkin sudah keterlaluan, lalu menoleh ke arah Jennifer yang kini fokus menyetir.


"Maaf," ucapnya.


Jennifer hampir membuat mereka menabrak kendaraan lain jika tidak menghentikan laju mobilnya dengan cepat. Tubuh mereka sama-sama condong ke depan, masih bisa diselamatkan karena memakai sabuk pengaman.


"Ya, Tuhan! Apa kau baru pertama kali membawa mobil?!" teriak Nea, sangat terkejut.


Jennifer tidak begitu memedulikan umpatan itu. Dia hanya memikirkan tentang permintaan maaf Nea, sangat mustahil bisa didengarnya.


"Tadi ... kau meminta maaf padaku?"


"Kau tidak mendengarnya? Aku memang meminta maaf padamu, karena sudah menekanmu selama ini." Nea menundukkan kepala. "Aku belum bisa membuka hati pada saat itu dan melihatmu seperti orang jahat. Pikiranku masih sangat muda untuk menilai seseorang, padahal aku tidak benar-benar tahu akan dirimu."

__ADS_1


Jennifer menghela napas lega. "Sebenarnya, aku sayang padamu. Tapi aku tidak tahu bagaimana cara menunjukkannya. Entah kenapa setiap kali berusaha menghadapi seorang anak, mereka selalu menangis sebelum kami benar-benar berinteraksi. Apa tampangku begitu mengerikan sampai mereka begitu takutnya?" Dia tertawa kecil. "Livia beruntung, karena datang di waktu yang tepat, ditambah dirinya bisa dekat denganmu. Dia bisa melakukan apa yang tidak mungkin bisa aku lakukan."



__ADS_2