Duda Beranak Satu

Duda Beranak Satu
Anak Baru


__ADS_3

Livia duduk dengan canggung di satu area yang sama dengan Kelvan. Hanya suara televisi yang menyala, sedangkan tidak ada dari mereka yang berbicara sejak tadi. Pada saat seperti itu bisa-bisanya Livia bersin, langsung mengundang perhatian Kelvan.


Livia mengangkat kepala ketika disodorkan tisu. Dia berterima kasih, lalu menggunakannya. Beberapa saat kemudian suasana kembali senyap seperti sedang menunggu waktu untuk diwawancara, Livia merasa kalau dia tidak akan sanggup berada di sana lebih lama lagi.


"Nea masih belum kembali. S—saya akan pergi melihatnya keluar sebentar."


"Anda tidak perlu keluar untuk melihatnya."


Kelvan menekan satu tombol pada remote, mengganti tampilan layar televisi. Di sana memperlihatkan bagaimana Nea sibuk berbicara dengan seorang anak perempuan yang mengendarai sepeda.


"Ternyata bukan semut besar," ucap Kelvan.


Kelvan mematikan layar selebar 50 inci tersebut sehingga suasana berubah semakin senyap. Sejujurnya, setelah alasan tadi Nea tidak tahu harus mengatakan apa lagi agar dirinya bisa pergi dari situasi itu.


"Oh, Nea menginginkan agar dirinya tidak melanjutkan pelajaran di rumah," ucap Livia setelah teringat.


"Hmmm, masalahnya memang sudah beres. Nea tidak perlu belajar lagi di rumah. Saya akan mengkomunikasikan masalah ini pada pihak Anda."

__ADS_1


Livia sedikit sedih, karena dia tidak akan bertemu dengan Nea lebih sering. Setelah mengatakannya pun, entah mengapa dia berharap kalau Kelvan akan mengulur waktu agar dirinya tetap tinggal, akan tetapi sepertinya tidak mungkin, karena pria itu tidak memiliki perasaan apa-apa padanya.


Hubungan mereka berakhir sampai di situ saja. Semenjak terakhir kali menjadi guru privat di rumah duda beranak satu, Livia harus menjalani kehidupannya. Dia mendapatkan bayaran yang cukup besar dari Kelvan sehingga tabungannya kembali penuh.


Sudah dua minggu berlalu semenjak Livia mengajar seorang anak laki-laki bernama Kenzi. Anak itu sangat nakal sehingga Livia harus bekerja lebih ekstra. Kesehariannya jauh lebih melelahkan sekarang.


"Talisa, apa kau berminat mengganti anak didik denganku?"


Talisa tertawa. "Kenapa memangnya dengan Kenzi?"


"Tipe murid berkepribadian ganda, huh?"


"Padahal, dia sudah remaja, tapi sikapnya masih seperti anak kecil. Aku harus menyeretnya pulang agar mau belajar. Dan sekarang juga sudah waktunya," ucap Livia sesaat melirik jam tangan. "Aku akan pergi sekarang!" teriaknya, pergi dengan tergesa-gesa.


"Semoga harimu menyenangkan, Livia!"


Livia tidak berpikir kalau hari ini akan menyenangkan baginya. Dia tidak berhenti menghubungi Kenzi setelah mendapatkan pesan dari anak itu yang mengatakan kalau akan memasuki sebuah bar.

__ADS_1


Livia mengatasi masalahnya dengan baik sebelum menjadi besar. Tepat saat Kenzi akan memasuki bar, dia sudah lebih dulu menyeret anak nakal itu.


"Jangan berpikir bisa masuk dengan mudah! Di sana bukanlah tempatmu!"


Livia terlalu emosional, tidak melihat keadaan yang menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian. Namun, dia tidak bisa memikirkan tentang gengsi sekarang dikarenakan tenaganya sudah habis akibat berlari mengejar anak itu. Dia sampai terduduk di jalanan seperti pengemis.


Kenzi mengulurkan tangan, tetapi Livia memilih untuk tidak menerima bantuan, karena tahu kalau nanti dirinya hanya akan dipermainkan. Anak itu tidak akan pernah bisa dipercaya.


"Anda datang lebih cepat dari yang saya kira."


"Anak nakal!" Livia menjewer telinga Kenzi, lalu menyeretnya.


"A—ampun, Bu Livia!"


...***...


...Kalian pasti menunggu kelanjutan hubungan Livia dan Kelvan. Sabar, ya. Untuk sementara waktu kita beralih ke Kenzi dulu ^^...

__ADS_1


__ADS_2