
Nea menghempaskan tubuhnya di sofa, lalu melipatkan tangan di dada. Ekspresi di wajahnya masih tetap kesal, begitu pula dengan Kelvan. Dua orang itu sama-sama keras kepala seperti batu.
"Aku tidak suka dengan tindakan Ayah. Danish tidak salah apa-apa. Kenapa dia mendapatkan perlakuan yang buruk? Teman-temanku akan kabur jika tahu aku memiliki ayah yang galak."
"Lalu, ayah suka? Kalian masih sangat muda dan bukan saatnya berkontak fisik, apalagi berciuman di depan rumah."
"Berciuman?! Aku tidak melakukannya, Ayah!"
"Ayah melihatnya. Kalian hampir berciuman jika buku itu tidak ayah lemparkan tepat pada waktunya."
"Berarti kami tidak benar-benar berciuman jika Ayah berkata hampir!"
"Sama saja. Kalian berniat untuk melakukannya."
Nea mengembuskan napas panjang, semakin kesal. "Kami tidak melakukannya, Ayah!"
"Livia, kau melihat apa yang mereka lakukan, bukan?" tanya Kelvan.
"Jika Bu Livia benar-benar melihatnya, pasti akan mengatakan kalau kami tidak berciuman, bukan?" tanya Nea pula.
__ADS_1
"Aku—"
"Kita memiliki kamera pengawas!" Nea bangkit seketika. "Mari lihat kebenarannya."
Bukannya mendapatkan jawaban yang membantu, justru kamera pengawas menjadi bukti tidak menguntungkan. Mereka bisa melihat adegan di mana Nea berbicara dengan Danish, bahkan saat insiden lemparan buku. Tetapi yang menjadi masalah adalah posisi kamera menjelaskan kalau Nea dan Danish terlihat seperti akan berciuman.
"I—ini hanya posisi kameranya saja yang bermasalah!" Nea membela diri.
"Bawa Danish ke hadapanku besok! Aku harus meminta pertanggungjawaban darinya!"
"Pertanggungjawaban apa?
"Aku tidak akan melakukannya!"
"Kau harus melakukannya!"
"Tidak!"
"Harus!"
__ADS_1
Livia sangat canggung berada di situasi itu. Tidak ada yang dapat dia lakukan. Kesempatan untuk bicara juga tidak ada, karena baik Kelvan mau pun Nea sama-sama tidak ingin mendengarkan. Jadi, dia memutuskan untuk membiarkannya saja malam ini.
Keesokan hari Kelvan terbangunkan oleh suara yang berasal dari kamar mandi. Dia menoleh ke tempat Livia seharusnya berbaring namun kosong yang ditemukan. Terlebih sinar matahari masih belum tampak, apa yang dilakukan wanita itu kini?
Dalam keadaan linglung, Kelvan memutuskan untuk melihat keadaan. Dia mendapati Livia menundukkan kepala di wastafel sambil menekan-nekan perut. Hal itu membuat dia sangat khawatir.
"Livia? Kau kenapa?"
Livia menolehkan kepala. Raut wajahnya begitu pucat. Belum sempat berkata-kata, tubuhnya terasa sangat ringan ketika akan terjatuh. Kelvan segera menangkapnya, berusaha membangunkan, tetapi tidak ada hasil.
Pukul 5 pagi itu, Livia dilarikan ke rumah sakit. Kelvan dan Nea sangat khawatir, tidak lagi memikirkan tentang kemarahan sebelumnya. Mereka hanya berharap kalau Livia cepat sadar dan kondisinya tidak buruk.
Mereka menunggu beberapa waktu lamanya hingga dokter yang menangani memberikan diagnosis. Pingsannya Livia bukan sepenuhnya berita buruk, karena dokter mengatakan kalau wanita itu sedang hamil sekarang.
"Kondisi wanita hamil yang pingsan disebabkan oleh banyak faktor. Untuk kasus pasien sendiri adalah perubahan hormon. Faktor ini memicu aliran darah menjadi sangat lambat dan dapat mengurangi volume darah yang mencapai ke otak," ucap sang dokter.
Kelvan dan Nea sangat terkejut, kemudian haru bercampur bahagia. Berita tentang kehamilan Livia memang sangat dinanti-nantikan.
Setelah siuman, Livia yang diberitahukan mengenai kabar kehamilan lebih bahagia lagi. Dia akan menjadi seorang ibu, menjadi orangtua bersama Kelvan, dan Nea akan memiliki adik, anggota keluarga mereka akan bertambah.
__ADS_1