
Kelvan tersenyum, menatap istrinya yang kini tengah tidur lelap. Seharusnya, mereka tidak berhubungan intim hari ini, tetapi karena Livia tidak berhenti memikirkan tentang putra mereka, dia harus melewati rencana demi mengalihkan pikiran Livia.
Tidak tahu kalau percintaan mereka akan sangat memabukkan sehingga dia bermain cukup lama, untung saja tidak keblablasan, karena dia tahu kalau Livia begitu lelah untuk meladeni.
Wajar saja, hasratnya sulit dikendalikan, karena mereka juga sudah lama tidak melakukan hubungan intim. Mereka sama-sama sibuk mengurus Vian, mengambil kesempatan untuk bermesraan pun harus selalu berhenti di tengah jalan.
Jika saat itu diulang, dia sangat kesal dan ingin menumpahkan semuanya hari ini. Tetapi itu adalah perasaan kesal tidak berdasar pada putra sendiri dan akan membuat Livia lelah terhadap dirinya.
Kelvan meraih ponsel, melihat beberapa pesan dari Nea. Putrinya mengatakan kalau semua aman terkendali, ditambah kalimat harapan supaya mereka bisa menikmati bulan madu dengan menyenangkan.
Setelah hari di mana mereka datang ke hotel, hari berikutnya adalah rencana menelusuri kota. Kelvan dan Livia memilih berjalan kaki saja, karena mereka ingin menghabiskan waktu seperti pasangan biasanya. Dan lagi, rute mereka hari ini tidak jauh dari hotel.
"Berjalan seperti ini tidak membuatku bosan, karena pemandangan di depan mata adalah pantai yang bersinar," ucap Livia.
"Kalau aku memiliki alasan lain kenapa tidak membuatku bosan berjalan seperti ini."
"Apa?"
__ADS_1
"Bergandengan tangan denganmu."
Livia tertegun, lalu tertawa kecil. "Kau masih bisa mengatakan hal yang tidak-tidak."
Kelvan tersenyum. "Bahkan, aku masih bisa mengatakan istriku cantik dalam balutan gaun cerahnya hari ini, ditambah topi pantai miliknya."
"Terima kasih. Kau juga tampan dengan kemeja hawai." Pandangan mata Livia tiba-tiba menangkap hal menarik. "Bukankah pakaian yang terpajang itu sangat indah?"
Kelvan tersenyum di balik keterpanaan Livia. Dia senang melihat istrinya bisa menemukan apa yang diinginkan, pastinya hal itu bisa membuat lupa mengenai rasa lelah ketika mengurus anak.
"Ingin mencobanya?"
"Kelvan, bisakah membantuku menaikkan ritsletingnya?"
Kelvan yang menunggu di luar ruang ganti pun masuk ke dalam sana. Dia melihat Livia yang menghadap cermin itu mengalami kesulitan, lantas membantunya.
Livia bergetar saat merasakan sentuhan di punggungnya. Dari pantulan cermin, dia dapat melihat Kelvan membungkuk. Pada saat itu, dia sadar apa yang dilakukan Kelvan di belakang sana. Pria itu mengecup di antara ritsleting, menariknya ke atas secara perlahan.
__ADS_1
Livia menggigit bibir. Dia menahan diri, tidak ingin suaranya terdengar oleh mereka yang ada di luar sana. "Kelvan ..," lirihnya.
"Seperti ini bulan madu kita seharusnya."
Kelvan melihat raut wajah Livia dari pantulan cermin, tampak menikmati. Dia juga tidak segan-segan membuat bibir mereka saling bertautan.
Ruangan itu sempit, apalagi ditempati oleh dua orang, ditambah sekarang adalah musim panas. Bagaimana mereka akan menanggung hawa yang semakin liar?
Peluh mereka bercucuran. Kelvan memperhatikannya, termasuk napas mereka yang tersengal-sengal. Dia menurunkan ritsleting yang ditarik ke atas tadi hingga gaun yang dipakai jatuh ke bawah sepenuhnya menyisakan pakaian dalam.
Livia mendorong suaminya, melepaskan ciuman mereka, akan tetapi hasrat Kelvan seolah tidak ingin berhenti ketika ciuman yang putus itu langsung menjelajahi setiap senti leher sang istri.
"Kita tidak benar-benar akan melakukannya di sini, bukan? Aku tidak ingin kehilangan muka di depan para pelanggan dan pemilik toko," ucap Livia di sela-sela hasrat yang semakin memuncak.
Kelvan menarik diri. "Sayangnya tidak, meskipun aku tidak bisa menunggu lebih lama. Tapi kita harus membuat bulan madu ini lebih berkesan dari sekadar pertemuan di ranjang."
...***...
__ADS_1
...Tadinya Renko ingin tamatkan di bab ini, tapi masih ada bagian yang harus dimasukkan ke dalam cerita. Jadi, tamatnya diundur dulu ○.○...