
Kenzi berusaha melepaskan diri. Sayangnya, Livia sedang bersemangat menghukum anak itu. Tidak hanya sekali Livia disulitkan dengan tingkah anak didiknya, akan tetapi hanya pada Kenzi saja kekesalan tidak bisa ditahan lagi.
"Anda seharusnya tidak begini pada murid sendiri."
"Kalau saja kau tidak melakukan hal yang macam-macam, aku juga tidak akan berlaku seperti ini."
"Anda bekerja terlalu keras, padahal orangtua saya juga tidak akan tahu."
Livia menghentikan langkah, melepaskan jewerannya dengan tidak ikhlas. "Selama dua minggu ini tidak ada kemajuan apa-apa. Aku hanya menyeretmu yang pergi kian kemari seperti belut lepas."
Kenzi memijat telinganya. Dia pun memasang ekspresi kesal yang sama sekarang. "Saya bukan belut!"
Livia menghela napas panjang, mengalihkan pandangan ke arah lain. Dia tidak ingin melihat anak yang menyebalkan itu sekarang. Sudah lama dia ingin menyerahkan Kenzi pada guru privat lain, tetapi dia menahan diri.
"Bu Livia, apa Anda lihat tempat es krim yang baru buka itu? Mereka memasang iklan beli satu gratis satu."
Livia menoleh ke arah yang ditunjuk. Dia tidak berselera makan es krim, tetapi belum sempat menolak, Kenzi sudah menariknya lebih dulu.
Livia menghentikan langkah mereka ketika hampir sampai di sana. Dia pun berkata, "Ada banyak orang, mungkin karena tempatnya baru dan juga iklannya. Biar aku yang mengantre, kau bisa tunggu saja."
__ADS_1
Kenzi menarik tangan Livia. "Anda mengenakan sepatu tinggi sekarang dan berdiri terlalu lama hanya akan membuat kaki Anda pegal. Biar saya yang mengantre, Anda bisa tunggu saya di sini. Ingat, jangan tinggalkan saya sendiri, mengerti?"
Livia tersenyum. "Baiklah. Seharusnya aku yang harus mencemaskan hal itu, karena kau adalah belut lepas."
Kenzi pergi mengantre, sedangkan Livia menunggu di satu tempat. Dia duduk di tepi jalan bersama mereka lainnya di sana, karena memang tempat penjual es krim tidaklah besar.
"Bu Livia?"
Livia mendongak, mendapati Nea sedang berdiri di depannya. Dia segera bangkit dan mereka pun saling berpelukan.
"Apa yang Anda lakukan di sini?" tanya Nea.
"Oh, saya ingin membeli es krim. Tapi ... sepertinya tempat ini sangat ramai dan akan terlalu lama untuk mendapatkannya. Padahal, saya sangat ingin mencobanya."
"Apa Nea datang seorang diri?"
Nea menggelengkan kepala. "Saya datang bersama ayah, karena kami baru saja pulang setelah pergi memperingati kematian ibu."
Livia terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Saat itu pula ada suara yang memanggil namanya, memunculkan sosok Kenzi yang menerobos kerumunan dan berhasil mendapatkan dua es krim untuk mereka.
__ADS_1
Livia menyodorkan es krim miliknya pada Nea. "Ini untukmu."
Kenzi mengerutkan dahi. "Apa yang Anda lakukan? Kenapa memberikan es krim itu pada orang lain?"
"Diamlah, Kenzi. Dia adalah anak didikku sebelum dirimu. Kalian masih remaja dan hal-hal seperti makan es krim di tempat baru tidak boleh dilewatkan. Aku masih bisa membelinya nanti ketika sudah tidak ramai lagi."
"Terima kasih, Bu Livia."
"Kalau begitu, kami pergi dulu," ucap Livia.
"Tunggu sebentar! Sebagai tanda terima kasih, bagaimana kalau saya mengantarkan kalian?"
Kenzi mencebik. "Itu tidak akan cukup untuk membayar es krim yang panjang antreannya."
Livia mencubit Kenzi dengan gemas. "Perkataanmu akan membuat orang lain tidak nyaman."
Nea tersenyum, lalu berkata, "Saya akan mengatakannya pada ayah terlebih dahulu."
"Tapi Nea ...." Livia harus menyimpan kata-katanya, karena Nea sudah pergi, tanpa mau mendengarkan apa-apa lagi darinya.
__ADS_1