Duda Beranak Satu

Duda Beranak Satu
Pacar Nea


__ADS_3

Kelvan merapikan pakaiannya. Dia sangat berdebar di hari pernikahan mereka. Sampai saat ini sudah kali ke berapa dia memeriksa penampilan di depan cermin?


Segala kegugupan sirna saat Kelvan melihat sosok wanita yang akan menjadi istrinya. Livia tampak menawan dengan gaun yang mereka pilih bersama. Apa Livia benar-benar akan menjadi pasangan hidupnya setelah ini?


Rasanya seperti mimpi.


Livia tersenyum dengan menawan, menatap Kelvan dengan penuh cinta di matanya. Mereka mengikat hubungan dengan janji suci pernikahan, menjadikan kehidupan mereka berubah lebih bahagia.


Begitu pun Nea, terharu melihat kebahagiaan dua orang itu. Ayahnya yang telah lama berstatus duda, hari ini menikah dengan orang yang menurutnya sangat pas.


"Kau menangis?"


Nea menganggukkan kepala. Danish yang pada saat itu diundang datang pun memberikan pelukan. Saking bahagia di hari itu anak duda beranak satu sampai menangis tersedu.


"Aku akhirnya memiliki ibu, Danish."


Danish tersenyum, mengusap rambut Nea. Mereka dalam beberapa hari ini saling berkomunikasi. Sedikit banyak dia diceritakan mengenai kehidupan Nea sebagai anak piatu. Ternyata anak perempuan yang menangis di pelukannya ini sudah lama menginginkan kasih sayang seorang ibu.


"Selamat, Nea."


Hsii, hsii ....


Danish mematung, tangan yang mengusap rambut menggantung di udara. Dia melihat Nea menjarak perlahan, menunjukkan mata yang sembap.


"Maafkan aku. Tangisanku begitu banyak, sedangkan kita tidak memiliki tisu."

__ADS_1


Tepat di tempat Nea membenamkan muka, Danish bisa melihat ada tiga titik yang basah. Dua titik yang sejajar tampak seperti mata dan satu lagi adalah hidung.


"Aku bisa melihat sesuatu yang mengilap," ucap Danish.


"Itu ... pasti—"


"Ingusmu! Tidak salah lagi!" Danish segera melepaskan jasnya dengan tidak senang. "Aku tidak bilang kalau kau boleh menggunakanku untuk membersihkan kotoran hidungmu!"


"Aku sudah katakan kalau kita tidak memiliki tisu."


"Kau bisa menggunakan pakaianmu sendiri."


"Itu akan mengotori penampilanku di hari istimewa ini."


"Aku belikan saja yang baru untukmu."


"Apa kau bilang? Jasku ini begitu berharga dan juga mahal. Tidak akan bisa tergantikan oleh jas mana pun. Bahkan, mencucinya saja dilakukan oleh tanganku sendiri untuk hasil yang lebih terpercaya."


"Memangnya kau siapa menyuruhku?"


Danish meletakkan kedua belah tangan di pinggang. "Kau berada di posisi orang yang berbuat salah, Nea."


Nea mencebik. "Baiklah, baiklah! Aku akan segera mengembalikannya!"


Dari sisi yang lain, Livia menatap Nea sedang berbicara dengan seseorang. Dia belum pernah melihatnya. Dan lagi, Nea tidak pernah membawa teman laki-laki. Hanya Kenzi dan itu pun kenal melalui dirinya.

__ADS_1


Livia yang duduk bersama tamu lain mendekat pada Kelvan agar dapat berbisik, "Aku belum pernah melihat Nea bersama temannya itu. Apa kau pernah melihatnya?"


Kelvan melirik ke arah yang sama, mendapati putrinya sedang berbicara dengan seseorang. Dia juga belum pernah melihatnya. Pendapatnya sama bahwa Nea tidak pernah membawa teman laki-laki kecuali Kenzi yang dikenal melalui Livia.


"Nea tidak mengatakan apa-apa mengenai pacar." Livia menebak-nebak.


"Pacar?!"


Kelvan bangkit, membuat tamu yang duduk bersamanya tercengang. Livia yang melihat langsung menarik Kelvan untuk duduk kembali.


"Kau mau ke mana?"


"Aku perlu bicara dengan mereka. Bukan saatnya Nea punya pacar."


Livia ikut tercengang melihat Kelvan beranjak pergi. Dia hanya mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya, bukan berarti Nea benar-benar memiliki pacar. Bisa saja pendapatnya salah, bukan?


Tapi ... kalau sudah begini, apa yang harus dia lakukan? Nea akan dimarahi oleh Kelvan. Dia tidak boleh membiarkan hal itu terjadi.


...***...


...10 a.m 26/June/2022...


...Rest in peace, Udin 💐...


...You are such a beautiful soul. Shine bright. We love you 🖤...

__ADS_1


__ADS_2