
Livia terdiam untuk waktu lama. Dia tidak tahu hal apa yang ingin suaminya bicarakan dengan raut wajah serius itu, apalagi begitu tiba-tiba. Sepengetahuannya, hubungan mereka pun tidak bermasalah.
"Apa itu?"
"Aku ingin tahu pendapatmu mengenai anak."
"Anak? Maksudmu Nea?"
"Tidak. Maksudku adiknya Nea."
"A—adik?"
Saat berkata, wajah Livia sudah merona merah. Dia memang pernah memikirkan tentang kemungkinan mereka untuk memiliki bayi, tetapi tidak pernah menduga kalau mereka akan membahasnya sekarang.
Kelvan menarik diri, memijat tengkuknya perlahan. "Bukan hanya Nea saja, aku juga menginginkannya. Tapi semua itu butuh pendapatmu pula."
"Aku ...."
Tatapan mereka bertemu. Kelvan jelas sangat menanti sebuah jawaban. Livia sendiri menurunkan kedua bahu yang sempat tegang tadinya akibat memikirkan tentang kemungkinan pembicaraan serius dalam hubungan mereka.
"Tidak menduganya."
Harapan Kelvan pupus, mendengar kalimat yang berkemungkinan akan adanya penolakan. Dia tidak marah dengan keputusan Livia jika itu berbanding terbalik dengan keinginannya, tetapi entah mengapa dia memiliki kekecewaan.
"Begitu ...." Kelvan tersenyum. "Tidak masalah. Kau bisa mengambil waktumu."
__ADS_1
"A—aku belum selesai bicara." Livia menundukkan kepala, melihat tangannya meremas ujung pakaian dengan gugup. "Sebenarnya, aku memiliki keinginan yang sama. Rasanya aku akan meledak jika mengatakannya, karena aku sudah sangat siap. Aku ingin memiliki buah cinta darimu, melihatnya bertumbuh denganmu, dan memberikan kasih sayang tulus sebagai orangtua. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan daripada itu semua."
"Jadi ...."
Tatapan mata mereka bertemu kembali. Saat ini Kelvan tampak tersenyum puas seperti hal menakjubkan sedang menanti di depan sana. Livia yang terbakar akibat gejolak kebahagiaan langsung menutup muka.
"Aku terlalu malu untuk ini," ucap Livia.
Kelvan menarik kedua tangan dari wajah itu, menatap Livia lekat-lekat. "Aku sangat senang. Tidak tahu bagaimana cara untuk mengungkapkannya. Kau harus tahu bahwa aku sangat mencintaimu."
Livia menelan ludah dengan kasar, dipandang begitu dekat dalam keadaan mereka membahas untuk memiliki anak adalah hal yang belum pernah terpikirkan selama hidup menjadi wanita biasa di luar sana. Sekarang dia jadi merasa kalau dirinya semakin tumbuh dewasa.
"Aku juga mencintaimu, Kelvan."
Uhuk!
Mereka berdua sama-sama menoleh ke sumber suara, melihat sosok neneknya Livia sedang memperhatikan dari jauh. Dua orang yang ingin bermesraan tadinya langsung membuat jarak, bersikap seolah niat mereka adalah kesalahan.
"Ne—nenek!"
Livia menghampiri sang nenek.
"Nenek baru saja bangun?" tanyanya dengan kikuk.
"Kalian pasti lupa kalau masih ada aku di sini."
__ADS_1
Livia menuntun neneknya agar bisa duduk di kursi. "Apa Nenek haus? Aku akan pergi mengambilkannya."
"Tidak. Nenek sudah mengemasi barang-barang dan akan berangkat pagi ini."
Livia terkejut, melirik Kelvan yang sama responsnya. "Nenek akan kembali ke desa?"
"Tentu saja. Apa kau berpikir nenek akan tinggal di tanah penuh polusi ini selamanya? Terlalu sesak untuk bernapas di sini. Paru-paru nenek akan lebih cepat kotor dibandingkan hidup di desa."
Livia mengembuskan napas panjang. "Nenek saja tidak sering keluar denganku. Hanya sekali dan itu pun mendesakku pulang terus-menerus. Bagaimana paru-paru Nenek akan kotor?"
"Sudahlah. Nenek tidak pernah cocok tinggal di sini. Rasanya nenek kehilangan akal. Siapa pula yang ingin tinggal di tempat yang tidak nyaman? Jangan paksa nenek untuk menetap lagi di sini. Lagi pula, nenek sudah lama tinggal bersama kalian. Sekarang waktunya bagi nenek kembali."
Livia tampak sedih, langsung memeluk neneknya. "Sering-seringlah menghubungiku. Nenek tidak lupa caranya menggunakan ponsel, bukan? Aku sudah mengajarkannya dan Nenek harus mengingatnya dengan baik."
"Kau tidak perlu khawatir, karena aku memiliki catatan untuk itu."
"Bisakah Nenek berjanji padaku?"
Sang nenek menatap cucunya, hendak menceraikan pelukan mereka, tetapi Livia tidak mempan ketika didorong. Cucu keras kepalanya tetap menempel seperti prangko.
"Baiklah. Aku berjanji." Sang nenek melirik ke arah suami cucunya yang sejak tadi hanya memandangi saja. "Lakukan sesuatu untuk memisahkan kami."
Kelvan yang ditatap pun tertawa. "Livia hanya ingin mengungkapkan perasaannya. Kalau begitu, kami akan mengantarkan Anda setelah kita sarapan."
__ADS_1