Duda Beranak Satu

Duda Beranak Satu
Perasaan Kenzi


__ADS_3

Kenzi meletakkan tas sekolah seraya mendudukkan diri di sofa. Dia tidak bisa memikirkan akan seperti apa perbincangan mereka nanti, tetapi dia juga tidak ingin mundur.


"Aku tidak akan berbasa-basi," ucap Kelvan. "Seperti apa perasaan yang kau punya terhadap Livia?"


"Dia adalah orang yang sangat berharga bagi saya."


"Kau menyukainya?"


"Sangat menyukainya."


Kelvan terdiam beberapa waktu. Dia sudah memiliki rencana yang matang untuk masa depannya bersama Livia, tetapi kali ini harus menyelesaikan perasaan Kenzi. Tidak pernah diduga kalau dia yang sudah duda akan bersaing dengan seorang anak remaja.


"Sebagai seorang teman, sahabat,"—Kenzi mengembuskan napas, tampak bahunya turun ke bawah, dan ekspresinya berubah lesu—"orangtua," ucapnya.


Kelvan berpikir ulang, mengoreksi kesalahannya mengenai perasaan Kenzi. Sebelumnya, dia berpikir kalau Livia disukai oleh anak remaja sebagai seorang wanita yang bisa didekati, perasaan seperti itu.


"Jujur saja, saya lahir dari keluarga yang orangtuanya sangat sibuk. Tinggal satu rumah tidak menjadikan kami sering bertemu. Kehidupan sehari-hari saya habiskan sendirian. Terkadang saya berpikir, apakah saya dilahirkan ke dunia untuk menjadi anak yang kesepian?


Rasa sesak itu lenyap ketika saya bertemu dengan bu Livia. Saya belum pernah mendapatkan perhatian yang seperti itu dari seseorang. Dia yang bukan siapa-siapa berusaha mati-matian untuk saya, bahkan saat saya begitu nakal. Sementara orangtua saya seperti menelantarkan anaknya sendiri."

__ADS_1


Kelvan kurang lebih paham bagaimana perasaan Kenzi sekarang. Dia pernah menjadi anak dan sekarang sudah menjadi orangtua bagi putrinya Nea.


"Setiap orangtua memiliki cara masing-masing untuk mengungkapkan kasih sayangnya. Jika kau berpikir bahwa mereka menelantarkanmu, aku rasa itu anggapan yang salah, karena sampai sekarang kau masih tinggal bersama mereka, bahkan diberikan uang saku setiap bulan dalam jumlah yang tidak sedikit."


"Tapi bukan itu yang saya butuhkan."


"Kalau begitu, kenapa tidak jujur saja pada mereka tentang perasaanmu? Mungkin, selama ini orangtuamu mengira kalau kau tidak masalah dengan diri mereka yang seperti itu, karena kau juga tidak pernah berkomentar apa-apa."


Kenzi yang diam saja membuat Kelvan tersenyum. Dia sudah mengatakan apa yang harus dikatakan dan tampaknya Kenzi juga akan mempertimbangkan perkataannya.


"Aku pikir, tadinya kau memiliki perasaan istimewa terhadap Livia."


"Bagaimana jika iya? Apa kalian akan menjaga jarak?"


"Anda adalah seorang duda, menjomlo begitu lama dari yang Nea ceritakan. Apa Anda berpikir untuk menikahi bu Livia dalam waktu dekat?"


Putriku membuatku terdengar seperti seseorang yang tidak laku, pikir Kelvan.


Kelvan menipiskan bibir. "Kau ternyata adalah anak yang pintar. Aku memang berpikir untuk menikahinya setelah mendapatkan restu dari putriku."

__ADS_1


Jadi, selama ini dia menganggapku bodoh? pikir Kenzi.


"Sejak kematian kedua orangtua, bu Livia tinggal bersama neneknya. Apa Anda tahu akan hal itu?"


"Ya. Livia pernah menceritakannya pada saya."


"Apa Anda bertemu dengan neneknya?"


"Tidak. Terakhir kali, dia menolak untuk diantarkan ke tempat neneknya."


"Jadi, Anda belum bertemu dengan neneknya sama sekali?"


Kelvan mengangkat sebelah alisnya. "Be—lum. Apa itu sesuatu yang aneh? Mengingat kami baru saja menjalin hubungan kemarin ...."


Kenzi bersandar sambil mendesah. "Ternyata saya selangkah lebih di depan."


Kelvan tampak terusik dengan pernyataan barusan. Dia memajukan duduknya, lalu berkata, "Apa maksudnya, kau sudah bertemu dengan neneknya Livia?"


Kelvan menggosok hidung. "Tentu saja! Itu adalah hari yang sangat menyenangkan!"

__ADS_1


...***...


...Jika kamu suka karya ini, jangan lupa beri rate bintang 5, ya~ ><...


__ADS_2