Duda Beranak Satu

Duda Beranak Satu
Satu atau Dua


__ADS_3

Livia bersemadi di atas tempat tidur, lebih tepatnya di depan ponsel. Dia menunggu begitu lama kabar dari Kelvan sepulangnya dari kencan pertama mereka yang gagal. Apa ayah dan anak itu masih belum menyelesaikan masalah mereka?


Bukan waktu yang tepat jika dia masuk ke dalam percakapan mereka begitu saja. Nea juga tidak mengatakan apa-apa di dalam mobil dan di samping itu, masalah apa yang sedang dihadapi oleh Kenzi sekarang sampai terlihat begitu muram?


Dering ponsel membuyarkan lamunan. Livia menemukan panggilan telepon dari Kelvan, lantas dia langsung mengangkatnya.


"Saya kira Anda sudah tidur." Kelvan di seberang sana berkata.


"Saya sepertinya tidak akan bisa tidur, karena menunggu Anda memberi kabar."


"Oh, saya tidak bermaksud mengabaikan Anda tadi. Sesuatu terjadi begitu saja dan membuat saya tanpa sadar bersikap begitu. Anda pasti merasa tidak nyaman. Maafkan saya."


Livia mengembuskan napas panjang. "Sekarang saya sudah merasa jauh lebih baik. Ngomong-ngomong, bagaimana dengan Nea?"


"Untuk itu saya menelepon Anda."


"Oh, apa Anda akan memberikan kabar buruk? Sejujurnya, saya belum begitu siap mendengarnya."


Kelvan tertawa. "Anda terdengar begitu gugup. Tapi yang lebih penting dari itu—"


"Apa ada yang lebih penting daripada tanggapan Nea sekarang?"


"Akhir pekan nanti, apa saya boleh mengantarkan Anda bertemu dengan nenek?"

__ADS_1


Livia ternganga, pikirannya berubah kacau. Bertemu dengan nenek berarti dia harus siap menerima konsekuensi. Dan lagi, apa Kelvan bermaksud untuk berbicara dengan neneknya mengenai hubungan mereka?


Bukankah itu terlalu cepat saat hubungan mereka baru berumur satu hari?!


"A—anda ingin mengantarkan saya?"


"Ya. Apa akan menjadi masalah untuk Anda?"


"Ah, itu ...."


"Anda terdengar seperti tidak senang jika saya mengantarkan."


"Bu—bukan begitu! Saya hanya ... merasa kalau itu terlalu cepat. A—anda pasti mengerti dengan maksud saya."


Livia menyapu rambutnya dengan jemari. Dia bingung bagaimana harus mengatakannya. "Seperti yang Anda tahu, kita baru saja mengungkapkan perasaan masing-masing kemarin. Jika Anda menemui nenek, itu akan menjadi masalah besar."


"Karena nenek Anda tidak menyukai pria seperti saya?"


"Ah,"—Livia mengembuskan napas singkat—"Anda masih mengingatnya. Tapi bukan itu yang saya maksud."


"Lalu?"


"Apa Anda berniat melamar saya akhir pekan itu?"

__ADS_1


"Ah, jadi, Anda terusik karena memikirkan hal itu? Saya tidak berpikir demikian. Anda pasti sudah salam paham. Saya hanya berniat untuk mengantarkan."


Livia tertunduk malu. Dia sudah salah menilai. Entah mengapa dia merasa sedikit sedih mendengar kebenarannya. Kelvan tidak berniat untuk melamar pada nenek, apakah dia harus menangis sekarang atau justru berbahagia?


"Apa jawaban Anda?"


Pada saat bersamaan, Livia menerima pesan. Dia menjauhkan ponselnya agar bisa melihat siapa yang mengirimkan padanya. Tidak diduga kalau itu adalah Kenzi.


"Saya akan menghubungi Anda lagi nanti."


Tut!


Livia yang penasaran pada isi pesan, langsung membacanya. Dia berharap kalau Kenzi yang muram tidak memiliki masalah serius.


[Saya akhirnya mendapatkan nilai bagus! Jangan lupa dengan janji Anda untuk membawa saya jalan-jalan!]


Livia berpikir beberapa saat sebelum berkata, "Apa?!"


Dia menerima pesan lagi yang berisikan foto lembaran nilai. Kenzi berkata jujur soal itu. Baru kali ini dia merasa terbebani saat melihat nilai bagus anak didiknya, karena artinya dia harus membawa Kenzi akhir pekan nanti ke tempat nenek.


Masalahnya di sini adalah bagaimana dia akan menghadapi Kelvan yang juga menginginkan hal serupa? Dia tidak mungkin hanya membawa Kenzi, karena Kelvan hanya akan merasa dikhianati.


...***...

__ADS_1


...Jangan lupa like, comment, dan klik favorite untuk dapatkan notifikasi update karya ini~...


__ADS_2