Duda Beranak Satu

Duda Beranak Satu
Kehangatan di Dapur


__ADS_3

Livia membuka mata perlahan, dalam keadaan setengah sadar memutar otak yang sempat terlelap. Entah mimpi atau tidak, dia sungguh yakin kalau sebelumnya berada dalam mobil.


Dia bangkit, menarik tirai hingga terlihat cahaya matahari yang begitu silau. Suasana yang dirasakannya sekarang sangat berbeda dengan sore hari ketika dia dan Kelvan pulang usai kencan mereka. Apa hari kemarin adalah mimpi? begitu keraguan mengenai ingatannya.


Livia meraih tas yang menjadi saksi dari mimpi ragunya itu. Dia ingat kalau kemarin pergi dengan tas tersebut, ditambah tidak pernah menyimpan ponsel dalam tas jika berada di rumah. Di sana dia menghubungi Kelvan yang diyakini sudah berangkat ke perusahaan.


Namun, justru dia mendengar dering ponsel yang berada di meja nakas satunya lagi. Kelvan tidak membawa ponsel. Beralih dari mimpinya, dia pun menyudahi dengan keluar dari kamar.


Livia terkejut saat hampir menyentuh area dapur. Dia melihat Kelvan tengah sibuk memasak. Ternyata anggapannya salah kalau suaminya itu sudah pergi.


"Kelvan?"


Kelvan melirik ke sumber suara. Dia menghentikan pekerjaannya sebentar untuk tersenyum dan melihat bagaimana sang istri datang menghampiri. "Sudah bangun?"


"Kau tidak pergi bekerja?"


"Ya. Aku akan pergi nanti."


"Ngomong-ngomong," Livia tampak ragu ekspresinya, "apa kemarin kita melakukan sesuatu yang penting?"


Kelvan langsung berhenti total. Ada kekecewaan di dada. Dia mengamati Livia yang tampak serius akan perkataannya. Wanita itu melupakan kencan pertama mereka yang bersejarah, bagaimana mungkin?


"Kau melupakannya?"


Livia tertegun mendapati Kelvan seperti sedang kecewa akan sesuatu, kemudian dengan terbata-bata dia berkata, "A—aku berpikir kalau kita pergi berkencan kemarin. Terakhir yang aku ingat, ki—kita berada dalam mobil dan aku tertidur. Saat membuka mata kembali, aku sudah berada dalam kamar dan ... melihatmu memasak di dapur."


Kelvan menggaruk pelipisnya. Dia tidak tahu harus berekspresi bagaimana, lantas keluar dari area yang membatasi mereka dan mendekat pada Livia.


"Jika kau benar-benar melupakannya, maka aku akan sangat kecewa. Ingatanmu memang benar. Aku menyarankan agar kau beristirahat saja selama perjalanan. Mulanya, aku ingin membangunkanmu ketika sampai di perusahaan, tapi tidak jadi karena melihatmu yang tampak lelah."


Livia melebarkan mata. Dia seperti diingatkan kembali akan waktu yang mereka lalui kemarin, ternyata bukan mimpi.

__ADS_1


"Jadi, kau menggendongku ke kamar?"


"Benar."


Livia tampak sangat buruk raut wajahnya setelah itu. "Aku tidak bisa berkata-kata. Kau tidak membangunkanku."


Melihat suasana hati sang istri yang jelek, Kelvan langsung berkata, "Ma—maaf, karena tidak membangunkanmu."


"Kau sangat jahat."


Kelvan memegang kedua bahu Livia. Dia berubah khawatir, karena istrinya itu terlihat seperti ingin menangis. "Li—livia, jangan menangis." Dia yang bingung bagaimana harus menjelaskan, lantas memberikan pelukan. "Aku tidak tahu kalau kau akan sangat kecewa hanya karena aku tidak membangunkanmu."


Livia mendorong suaminya agar mereka bisa saling melihat. "Hanya katamu?"


"Livia ... bagaimana aku harus menenangkanmu?"


"Seharusnya kau tidak menggendongku, karena aku sangat berat, Kelvan ...." Livia berkata, masih dengan bibir melengkung ke bawah.


Kelvan yang khawatir tadinya pun mengembuskan napas singkat. Dia pikir akan terjadi masalah besar di antara mereka, nyatanya tidak separah itu. Dari kata-kata yang didengar tadi, dia bisa mengambil kesimpulan kalau Livia hanya mengkhawatirkan tentang berat badan.


"Kau tidak serius?"


"Aku serius dengan perkataanku. Jika dirimu berat sekali pun, aku tidak akan mengeluh. Bisa jadi juga itu karena tenagaku sebagai seorang pria yang tidak ada. Tapi keduanya tidak berlaku, bukan? Semuanya baik-baik saja dan kau tidak membuat tanganku terkilir ketika menggendongmu."


Livia mengusap kedua matanya. "Aku terlihat seperti anak kecil sekarang."


Kelvan menyentuh kedua pipi Livia, mencubitnya dengan gemas. "Terkadang kau bisa begitu memusingkan dan juga lucu. Aku seperti naik ke satu wahana mendebarkan, membuatku gelisah akan apa yang akan terjadi di depan sana."


Livia menyentuh pergelangan tangan Kelvan, memberatkannya di sana agar bisa lepas, tidak lagi mencubit pipinya, lalu berganti saling menggenggam tangan. "Tetap saja, aku tidak jadi melihatmu yang bekerja di perusahaan," ucapnya, masih tersisa bekas penyesalan di wajah.


"Itu lebih baik."

__ADS_1


"Lebih baik? Kenapa begitu?" Livia terheran-heran.


"Karena aku pikir jika dirimu ada di sekitarku, maka aku tidak akan bisa berkonsentrasi."


Livia menyipitkan mata. "Aku tidak bisa membuat suamiku hilang konsentrasi, karena aku dan Nea masih butuh makan."


Diingatkan oleh perkataan sendiri, Livia memperhatikan sekeliling. "Aku tidak melihat Nea sejak tadi, padahal dia memiliki jadwal kuliah sekarang. Aku akan ke atas untuk membangunkannya."


"Nea tidak ada di kamar. Dia dan teman-temannya pergi berlibur." Kelvan berkata, tidak membiarkan genggaman tangan mereka lepas ketika Livia hendak beranjak.


"Oh, Nea pernah membahasnya. Tapi bukan minggu depan, melainkan minggu ini?"


"Ya. Sabtu dan Minggu ini. Jadi, kita memiliki waktu privasi berdua."


"S—seperti?"


"Seperti?" Kelvan setengah tertawa ketika berkata, "Kau masih bertanya? Haruskah aku menunjukkan jawabannya agar kau mengerti?" Pada saat ini, dia sudah merangkul pinggang Livia.


Livia mendorong tubuh mereka untuk menjauh, tetapi dia geli saat Kelvan menggeser tangannya ke atas pinggang. Pria itu menggelitik dan membuat dia berusaha menghindar.


Tanpa sadar pertengkaran menyenangkan pengantin baru itu menyeret mereka ke area memasak. Livia menemukan jalan buntu sehingga dirinya hanya bisa berpegangan pada meja dapur untuk mengatasi jarak mereka.


Kelvan menyentuh kedua tangan Livia, seperti itu membuat tatapan mata mereka menjadi sejajar. "Ada hal serius yang harus kita bicarakan," ucapnya.


...***...


...Maaf, ya. Renko tidak update kemarin dan baru bisa update sekarang. Di sini mati lampu, baterai sekarat, ditambah jaringan begitu buruk (╥﹏╥)...


...Bab kali ini sedikit panjang dari biasa. Semua karena Renko bingung di bagian mana momen paling pas untuk memotong ceritanya, karena jika itu flat saja, maka pembaca tidak akan penasaran mengenai kelanjutannya....


...Semoga kalian suka dengan kisah DBS. Oh, ya! Jangan lupa dukungannya jika kalian suka karya ini. Renko akan sangat termotivasi sekali dengan hal positif yang kalian berikan, apalagi itu dalam bentuk like, komentar, vote, hadiah, rate bintang 5, klik favorite (≖‿≖)...

__ADS_1


...Banyak maunya lu, thor....


...Ya, mangap. Namanya juga haus kasih sayang pembaca. Asyique....


__ADS_2