
Livia menikmati air hangat yang menghujani. Setelah berkotor-kotor, memang hal paling terbaik adalah mandi. Dia keluar tidak lama kemudian, mengenakan pakaian yang dipilihkan Nea untuknya ketika mereka menyempatkan diri singgah ke satu toko dalam perjalanan.
Livia merasa kalau apa yang diterimanya terlalu berlebihan. Kelvan juga tidak membiarkan dia membayar dengan alasan dirinya sudah berkorban untuk Nea sampai masuk ke selokan. Tetapi dia berpikir kalau semua itu hanya karena ayah dan anak itu saja yang baik. Jadi, dia tidak ingin berlama-lama mempermasalahkannya.
Livia membuka pintu kamar, mendapati Nea sedang menata meja. Dia memperhatikan beberapa saat dan menyimpulkan kalau Nea hafal betul ada di mana saja letak peralatan dapur. Ternyata anak itu sudah berbohong sejak pertemuan pertama mereka.
Beranjak menghampiri, Nea yang menyadari kedatangan Livia pun menoleh dan langsung berkata dengan raut wajah terkagum-kagum, "Wah, Anda terlihat cantik dan anggun pada saat yang bersamaan!"
Wajah Livia merona merah, sedikit terkejut saat menerima pujian lantang, terlebih dari seorang anak remaja. "Ha—hanya karena pakaiannya saja yang bagus," ucapnya, membantu menata meja.
"Anda pasti begitu malu saat ini." Nea mendekati guru privatnya, berusaha membuat tatapan mereka bertemu. "Lihatlah, muka Anda yang merah!" Dia tertawa.
Livia mencoba menghindar, tetapi dia memang tidak bisa menyembunyikan rasa malunya pada anak yang begitu atraktif. Pada saat itu, dia tidak sengaja menemukan Kelvan yang berjalan ke arah mereka.
"Apa yang membuatmu tertawa begitu keras, Nea?"
"Bukan urusan Ayah!" Nea mencibir, lalu menata meja kembali.
__ADS_1
"Anda sudah boleh duduk di kursi ini, Bu Livia, karena Anda tidak lagi bau selokan!" ejek Nea, kemudian tertawa.
Kelvan tersenyum menatap tingkah sang putri yang menurutnya mirip dengan mendiang istrinya. Kenangan itu tidak membuat dia mengingatnya terlalu lama sesaat menemukan Livia asyik bergurau dengan Nea. Mereka begitu akrab sampai membuat dia gelisah.
Mereka menghabiskan makan malam bersama, bercakap-cakap layaknya keluarga bahagia, dan diakhiri dengan bermain stacko. Awal mulanya, rumah mewah itu dipenuhi oleh suara tawa yang kencang, tetapi perlahan memudar seiring waktu. Nea tertidur di lantai dengan muka dihiasi coretan lipstik akibat kalah dalam permainan.
Kelvan mengangkat sang putri untuk berbaring di sofa, setelah itu menyelimutinya. Dia duduk di lantai bersama Livia sambil menatap Nea yang tertidur dengan pulas.
"Nea belum pernah tidur sepulas ini," ucap Kelvan.
"Berkata seperti itu dengan wajah yang sekarang, bukankah sebaiknya Anda membersihkannya lebih dulu?"
Kelvan mengerutkan dahi. "Apa?"
Livia mengangkat telunjuknya ke depan. "Lipstiknya."
Kelvan yang diingatkan langsung berdiri. "Sialan," ucapnya, bergegas pergi membasuh muka.
__ADS_1
Livia tertawa kecil. Dia menunggu kurang lebih lima menit untuk melihat Kelvan kembali dengan wajah yang dapat dikenali.
"Anda ingin minum alkohol atau soda?" tanya Kelvan.
"Oh, saya ...."
Livia memperhatikan jam dinding, pukul 11 malam. Dia seharusnya sudah berada di rumah saat ini. Tetapi minum soda adalah kesukaannya.
Kelvan juga menatap ke arah yang sama. "Minum satu kaleng soda tidak akan memakan waktu lama, bukan?"
Kelvan tersenyum. "Saya akan mengantarkan Anda nanti."
Livia pun menjawab, "Baiklah, kalau begitu ... saya ingin satu kaleng soda."
"Pilihan yang tepat, karena kami tidak menyimpan alkohol di rumah," ucap Kelvan, beranjak membuka kulkas dan mengambil dua kaleng soda.
__ADS_1